Mohon tunggu...
Irwan Rinaldi Sikumbang
Irwan Rinaldi Sikumbang Mohon Tunggu... Freelancer - Freelancer

menulis untuk menikmati kehidupan

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi Artikel Utama

Sato Sakaki, Nebeng Menikmati Uang Haram

6 April 2017   14:20 Diperbarui: 6 April 2017   17:27 613 5 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Sato Sakaki, Nebeng Menikmati Uang Haram
Ilustrasi/Kompasiana (Shutterstock)

"Sato Sakaki" bukan kosakata dalam bahasa Jepang. Bukan pula nama seorang berkebangsaan Jepang. Istilah itu lazim bagi orang Minang yang secara harfiah artinya "serta satu kaki". Pengertian bebasnya yang lebih pas adalah 'ikut' serta alias 'nebeng'.

Itulah yang terpikir oleh saya saat membaca headline Kompas Sabtu (1/4) yang terkesan garang: "BUMN Jadi Ladang Korupsi". Saya sebut garang karena Kompas menyamaratakan semua BUMN, padahal bisa jadi dari lebih seratusan BUMN yang ada, beberapa di antaranya tergolong relatif baik. Namun, tentu tidak bisa dipungkiri, berbagai kasus korupsi besar telah terungkap di banyak BUMN.

Berita Kompas itu sendiri terfokus pada kasus korupsi di PT PAL, sebuah BUMN di bidang industri perkapalan. Sebetulnya PT PAL mencatat prestasi tersendiri karena dipercaya oleh negara tetangga Filipina untuk membuatkan dua buah kapal perang yang diperlukannya.

Sayangnya, prestasi tersebut dibuntuti oleh adanya gratifikasi. Seperti yang diberitakan Kompas, ada kesepakatan bahwa atas pengadaan kapal itu, ada biaya pemasaran sebesar 4,75% dari nilai kontrak yang harus dibayarkan PT PAL pada pihak perantara penjualan. Namun, ada lagi kesepakatan tertutup bahwa pihak perantara mengembalikan kepada pejabat PT PAL sebesar 1,25% dari nilai kontrak. Adapun nilai kontraknya adalah setara sekitar Rp 1,1 triliun.

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk membahas kasus PT PAL di atas. Tapi kasus itu menginspirasi saya dan mudah-mudahan tidak keliru kalau menilainya sebagai tindakan "sato sakaki". Meskipun untuk kebenarannya tentu kita harus menunggu putusan dari proses hukum kasus tersebut.

Saya jadi teringat dengan cerita dari para senior di bidang perbankan. Konon, seorang kepala cabang bank yang "cerdas", bila ditimpa musibah, bisa mengambil untung dari musibah tersebut. Katakanlah ada penodong datang ke kantor bank, maka si kepala cabang tidak akan melawan, tapi langsung memberi uang kepada si penodong.

Setelah komplotan penodong pergi, si kepala cabang "sato sakaki" mengambil uang yang tersisa, yang disimpan di lemari terpisah. Lalu baru melapor ke polisi bahwa semua uang ludes dibawa kabur penodong. Jadi, sebelum diajukan klaim ke pihak asuransi, kepala cabang bank sudah nebeng duluan. Sekiranya pihak asuransi tidak teliti, yang bobol adalah asuransinya. Sedangkan pihak bank mendapat ganti kerugian sepenuhnya.

Ada pula cerita lain dari seorang pengusaha skala kecil yang beberapa kali memasok kebutuhan barang cetakan untuk kantor cabang sebuah bank. Order-nya hanya di kisaran Rp 10 jutaan untuk sekitar 10.000 lembar formuilr aplikasi pembukaan rekening, formulir setoran atau penarikan uang. 

Si pengusaha buka kartu bahwa keuntungannya cuma sekitar Rp 1.500.000. Tapi tetap saja orang bank yang memesan barang, minta uang Rp 500.000. Jadi, begitu bank membayar Rp 10 juta, maka si pengusaha mengembalikan Rp 500.000. Si orang bank berdalih itu sebagai setoran buat atasannya. Apa betul atau diembat sendiri, tidak ada yang tahu.

Yang jelas si oknum bank merasa tidak merugikan bank, karena harga kontrak telah disepakati secara ketentuan yang berlaku. Ia hanya minta dari rekanan sehingga yang berkurang adalah keuntungan rekanan.

Jelaslah bahwa praktik korupsi ada pada semua skala dari nilai pesanan sangat kecil sampai yang berukuran jumbo. Jadi, tidak ada modus baru sebetulnya termasuk yang diduga diterapkan oleh PT PAL. Selagi bisa sato sakaki, hajar saja, dan ini sudah seolah-olah menjadi hukum tidak tertulis.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN