Irwan Rinaldi Sikumbang
Irwan Rinaldi Sikumbang freelance

menulis untuk menikmati kehidupan

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Kisah Kasih Reuni dan Tanggung Jawab dari Sebuah Pilihan

11 Januari 2018   21:39 Diperbarui: 12 Januari 2018   17:18 1239 17 6
Kisah Kasih Reuni dan Tanggung Jawab dari Sebuah Pilihan
ilustrasi (iStock Photo)

Sering sekali kita mendengar atau membaca kalimat bahwa hidup itu adalah pilihan. Konon, soal jodoh masing-masing kita sudah ditentukan dari "atas". Tapi dalam prosesnya, tidak bisa kita pasif menunggu jodoh yang dipilihkan Tuhan. Tetap kita lah yang harus memilih (termasuk memilih untuk hidup sendiri). Apalagi di zaman sekarang ini, seharusnya sudah tidak terjadi lagi kawin paksa ala Siti Nurbaya.

Pikiran saya menerawang, saat reuni dengan teman-teman kuliah, salah seorang ibu dengan bangga menyebutkan dirinya sebagai istri dari seorang perwira tinggi. Apakah saat ia menikah dulu sudah membayangkan suaminya bakal jadi pembesar negeri ini? Bisa ya bisa tidak.

Sangat mungkin apa yang saya pikirkan tersebut juga menjadi pikiran beberapa peserta lain yang ikut reuni. Mungkin ada yang menyesal kenapa dulu ia gak jadian dengan si A yang sekarang menjadi pengusaha sukses, kok malah memilih B yang waktu kuliah memang pintar dengan prestasi akademis yang bagus, tapi kariernya di sebuah departemen gak naik-naik.

Kisah kasih si sekolah pastilah jadi bumbu percakapan yang seru di saat reuni. Cewek yang dulu termasuk bunga di kelas, biasanya punya kisah kasih yang diketahui oleh teman-temannya. Ketahuan juga siapa saja teman cowok yang nekat "nembak" lalu ditolak si bunga kampus.

Lalu, puluhan tahun setelah itu, suami mantan bunga kampus yang dulunya seorang pengusaha sukses, bisa saja bangkrut terjerat utang, lalu sakit-sakitan. Mantan bunga kampus hidup penuh beban psikologis, sehingga jadi bermutu (bermuka tua), dan cowok-cowok yang dulu ditolaknya pada bersyukur, untung dulu gak jadian.

Tapi ada juga lho, gara-gara reuni, muncul CLBK (cinta lama bersemi kembali) dengan sangat bergelora, sampai-sampai  masing-masing menceraikan pasangannya, agar bisa bersatu dengan pacar zaman sekolahnya.

Cerita dari ajang reuni tentu tidak melulu soal jodoh. Ada teman saya yang dulu di kampus tergolong "preman", kini tampil berbeda sekali,  dengan berjenggot, berkopiah haji, dan bergamis. Ternyata sekarang ia jadi guru mengaji dibanyak kantor, setelah pensiun dari sebuah BUMN. 

Bagaimanapun juga mantan preman jauh lebih baik dari mantan orang baik yang terjerumus jadi koruptor. Tentu waktu dulu ia memilih menjadi preman, ada latar belakang yang mungkin tidak banyak diketahui teman-temannya. Demikian pula bila akhirnya ia memilih jadi ustad, jelas dengan banyak pertimbangan yang mendasarinya atau ada pengalaman khusus yang menjadi titik baliknya.

Dulu, di kantor tempat saya bekerja, tidak boleh ada pasangan suami-istri sebagai pegawai, dalam arti bila sesama pegawai berpacaran, salah satu harus keluar dari kantor, bila tetap ingin menikahi pacarnya itu.

Nah,  dari cerita teman-teman saya yang dulu pacaran dengan teman  se-kantor, ada berbagai kisah yang menarik untuk disimak. Rata-rata, yang mengalah dan memilih resign adalah si cewek, dengan alasan biar fokus jadi ibu rumah tangga. Skenario ini mendapat justifikasi ketika nantinya karier si suami cepat melejit, dan istri berhasil mendidik anak-anaknya.

Dok.kompasiana.com
Dok.kompasiana.com
Tapi ada pula yang harus mengalami skenario lain. Si cewek yang mundur dari kantor sebetulnya punya potensi untuk naik kariernya, sedangkan si cowok yang tetap bekerja, kariernya slow sekali.

Bahkan akhirnya takdir berkata lain, si cowok dipanggil sang pencipta, ketika masih berusia 40-an, meninggalkan tiga orang anak yang masih sekolah. Lalu saat teman-teman kantor melayat, ada yang berbisik, kasihan ya istrinya, kalau dulu ia tetap bekerja di kantor mungkin sudah jadi pejabat seperti ibu C atau ibu D yang teman satu angkatan dulunya.

Waktu akan menjalani sebuah pilihan, tidak ada yang bisa memprediksi dengan tepat, apakah nanti seiring berlalunya waktu, pilihan itu tepat atau tidak. Namun bagaimanapun juga, karena waktu tidak bisa diputar mundur, tetaplah bertanggung jawab dengan pilihan tersebut, dengan catatan apabila ternyata keliru, kita fokus ke tindakan perbaikan. Tidak ada yang perlu disesalkan dan selalu ada hikmah di balik itu.

Tindakan perbaikan tidak harus dengan kembali ke titik nol. Semaksimal mungkin carilah kemungkinan memodifikasi pilihan sebelumnya. Namun kalau betul-betul tidak ada celah dalam memodifikasi pilihan sebelumnya, apa boleh buat, baru menyusun pilihan baru yang berbeda sama sekaki.

Jadi, setelah menikah sekian lama, tak bisa seenaknya saja bilang wah saya dulu salah pilih. Telah kuliah 5 tahun, eh, pas menggarap skripsi, tiba-tiba ngadat, lalu bilang salah pilih jurusan. Telah bekerja di sebuah perusahaan selama belasan tahun, lalu merasa tidak cocok dengan bidang yang digeluti perusahaan, padahal mungkin karena gak suka dengan gaya bos baru.

Dalam memutuskan untuk mengambil suatu pilihan dari beberapa alternatif yang tersedia, kita hanya perlu meyakini bahwa itulah yang terbaik. Bila perlu terlebih dahulu meminta saran dari orang yang dinilai punya pengalaman. 

Setelah memilih, jalani dan perjuangkan dengan sebaik-baiknya. Itulah bentuk pertanggungjawaban dari sebuah pilihan, terlepas dari apapun hasilnya. Tentu berdoa menjadi bagian yang tak terpisahkan di setiap langkah kita.