Mohon tunggu...
irvan setyawan
irvan setyawan Mohon Tunggu...

Lokasi tepatnya adalah kota batulicin, sekitar 20 menit dengan pesawat dari Banjarbaru atau 5-6 jam perjalanan darat

Selanjutnya

Tutup

Travel

Menjelajah Waktu di Indonesia, Mungkinkah?

30 Maret 2013   14:43 Diperbarui: 24 Juni 2015   15:59 0 0 3 Mohon Tunggu...

Semua orang tahu kalau Indonesia itu kaya dalam segala hal baik bentang alam, keragaman hayati,sinar matahari, adat-istiadat, hingga budaya luhurnya. Kita juga maklum kalau kesenian dari seluruh pelosok tanah air sangat menarik tidak hanya karena beragam tapi juga kaya akan makna dan petuh. Namun selain dari itu, mungkin masih ada yang belum menyadari kalau di Indonesia kita bisa menjelajahwaktu’ dan mengamati perjalanan sejarah umat manusia. Nah loh, Kok bisa?

Menjelajah ke sekitar tahun 930 M, tepatnya ketika wayang dipertunjukkan pertama kali (tercatat dalam tulisan tertanggal tersebut yang menyebutkan ‘Si Galigi Mawayang’). Hingga kini beberapa fitur tetap dipertahankan, sehingga wayang menjadi seni tradisional yang masih otentik. Artinya, wayang yang kita saksikan sekarang tidak akan jauh berbeda dengan yang dipertunjukkan pertama kali. Sekedar informasi, kesenian yang kerap menceritakan kisah Mahabarata, Ramayana, atau Serat Menak itu sudah sangat mendunia, dan telah diakui sebagai Warisan budaya dunia non benda sejak 7 November 2003.

Selanjutnya, saya akan kembali ke abad 8 hingga 9 masehi ketika Borobudur baru dibangun. Candi Budha terbesar di dunia ini dulunya sempat tertutup oleh lapisan abu akibat letusan gunung dan tanaman. Sekarang Borobudur telah dipugar sehingga kita bisa ‘bernostalgia’ dan kembali menikmati kejayaan wangsa Syailendra di abad-abad tersebut.

Lebih jauh lagi, sekitar 2000 tahun silam, sebuah pertukaran budaya antara Bali dan India telah melahirkan filosofi Tri Hita Karana. Pada awalnya, filosofi ini mendasari hubungan antara arwah, manusia, dan alam. Hingga abad ke-9, Tri Hita Karana bergerak lebih jauh dan mendasari dibentuknya sebuah sistem pengairan paling demokratis sekaligus egaliter: Subak. Di hamparan sawah sekitar 19.500 hektar di Bali itu, kita dapat merasakan semangat demokrasi yang sama ketika pengairan itu pertama kali dibangun.

Beribu-ribu tahun sebelumnya, keindahan pegunungan karst Maros Pangkep di Sulawesi Selatan telah menarik minat manusia jaman prasejarah untuk mengeksplor dan menempati gua-gua yang ada di dalamnya. Pegunungan karst ini adalah yang terbesar dan terindah nomor dua setelah Karst di Cina selatan. Kita bisa merasakan aura ribuan tahun lalu saat menelusuri dinding gua yang dipenuhi lukisan artistik jaman prasejarah ini.

Melompat ke 4.700 hingga 10.900 tahun silam, tepatnya di Gunungpadang, sebuah situs megalitikum menjadi tempat peribadatan terbesar. Kompleks seluas 900m2 dengan ketinggian 885 m dpl telah ditemukan oleh NJ. Krom pada tahun 1914 (seorang arkeolog Belanda) dan disebut-sebut sebagai punden berundak terbesar di asia tenggara. Dalam artikel Nat Geo Indonesia bahkan menyebutnya sebagai “Dirancang oleh arsitek purba ulung”. Bagaimana tidak, penggunaan material berupa batu columnar Joint yang disusun sedemikian rupa dapat membuatnya bertahan hingga kini. Masyarakat Arkeologi Indonesia telah membuat semacam ceramah sekaligus wisata ke wilayah tersebut bagi mereka yang berminat.

Parahnya, hiruk-pikuk kehidupan membuat kita lupa akan sejarah yang telah diajarkan sewaktu bersekolah dulu, bahwa penghuni nusantara telah melewati rentang waktu jutaan tahun, tepatnya satu juta enam ratus enam puluh tahun. Fosil Pithecanthropus Erectus atau disebut dengan Homo Erectus ditemukan pertama kali pada tahun 1891 oleh Eugine Dubois di desa Trinil di wilayah Ngawi Jawa Timur. Betapa asyiknya bisa merasakan debaran yang sama ketika Eugine menemukannya pertama kali.

Masih banyak lagi yang bisa kita eksplor tentang Indonesia berdasarkan urutan waktu. Seperti halnya Komodo dan kawasan tua Jakarta, segala hal yang kita miliki adalah ‘unik’ dan dapat menjadi kekuatan besar untuk menarik minat wisatawan baik dalam maupun luar negeri. Negara seperti Turki dan Jordania memiliki kawasan tua atau prasejarah yang sangat ditonjolkan sebagai daya tarik. Sebenarnya Indonesia lebih kaya lagi, asal kita lebih peduli dengan ‘sejarah’ kita dan melestarikannya sebagai aset tak ternilai.

Bisa dibayangkan betapa besar minat wisatawan bila kekayaan Indonesia ini dipertontonkan dengan informasi yang memadai dan akomodasi yang mendukung. Temanya jelas: mengarungi lorong waktu. Artinya setiap daerah wisata yang menyangkut sejarah harus dipertahankan kondisinya seperti semula. lagi pula di Indonesia semua hal ini sangat memungkinkan: Matahari sepanjang tahun, alam yang eksotik, dan keramahan khas Indonesia yang terkenal. Apa lagi?



Sumber-sumber: www.en.wikipedia.org/wiki/Wayang, www.sodventure.blogspot.com, www.whc.unesco.org/en/statesparties/id, National Geographic Indonesia, www.mariarkeologi.org/index.php/artikel/20-agenda/67-ceramah-umum-situs-gunung-padang, www.indonesiatouristroad.blogspot.com/2012/02/mountain-meadow-megalithic-sites.html

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x