Mohon tunggu...
Irvan Maulana
Irvan Maulana Mohon Tunggu... Penulis - Put Right Man on the Right Place

Pemerhati Bangsa

Selanjutnya

Tutup

Pemerintahan Pilihan

Saat Pejabat Negara Rela Rangkap Jabatan Jadi Ketua RT, Apa Motivasinya?

15 Oktober 2021   22:16 Diperbarui: 15 Oktober 2021   22:25 224 4 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Ilustrasi pemilihan Ketua RT/RT.|Sumber: sumeks.co

Tahun 2017 lalu, saya beserta teman-teman dalam satu kepengurusan sebuah organisasi berkunjung ke salah satu pejabat eselon II pada salah satu kementerian di Jakarta Pusat. Kami berkunjung ke kediaman beliau di Bogor untuk memenuhi undangan beliau dan berdiskusi tentang beberapa hal penting terkait organisasi.

Tentang siapa pejabat yang saya maksud, besar kemungkinan saya tidak akan membuka identitas beliau karena saya belum meminta izin secara langsung untuk menyebut nama beliau di artikel ini.

Kembali ke cerita, setelah tiba di kediamannya yang sangat kental nuansa pejabat eselon II, kami pun berdiskusi dan bercerita lepas sambil membahas isu-isu terkini saat itu. Di tengah-tengah perbincangan hangat di antara kami, tiba-tiba ada satu kalimat yang membuat kami hening seketika, dengan santun meminta izin untuk menemui tamu yang sedang menunggu beliau di teras rumah. Setelah menemui tamu tersebut, sang pejabat kembali bergabung dengan kami sambil berseloroh, "Maklum ketua RT mas, hari Minggu ini banyak warga yang datang minta surat pengantar RT, senin sampai jum'at kan ngantor".

Diskusi yang sedang hangat dibahas dalam obrolan kami, tiba-tiba terhenti oleh kalimat tersebut. Spontan saya langsung bertanya sekaligus konfirmasi, "Bapak jadi Ketua RT juga di sini?". Kata "juga" saya sisipkan karena yang hanya saya tahu beliau adalah pejabat eselon di salah satu kementerian paling mentereng di republik ini. 

Dengan kesibukan dan prestise sebagai pejabat negara, rasanya mustahil mau membantu di kepengurusan RT/RW. Biasanya jika sudah menduduki posisi terhormat, seseorang enggan mengurusi hal-hal yang dianggap sepele.

Setelah itu, topik "Ketua RT" jadi lebih menarik untuk dibahas dan beliau dihujani pertanyaan dari kami tentang apa motivasinya masuk dalam kepengurusan RT sementara beliau sudah nyaman di kursi pejabat negara. Kemudian, beliau menjelaskannya secara perlahan dan terperinci.

Alasan klasik yang sering diungkapkan seseorang atas keputusan yang diambil dan bersumber dari hati nurani adalah "ini sudah panggilan jiwa". Adanya tanggung jawab dan beban moral jika menolak tawaran jadi Ketua RT, sementara secara kapabilitas sangat mampu menjadi peran tersebut.

Beliau berargumen, jika semua orang-orang yang well-educated mundur untuk mengisi posisi-posisi yang dianggap marginal oleh sebagai orang, maka yang akan duduk di kursi tersebut adalah orang-orang yang hanya ingin memanfaatkan kursi Ketua RT untuk kepentingan pribadi saja.

Secara hukum, PNS tidak terlarang ikut menjabat dalam kepengurusan RT/RW, semua tergantung perhitungan bagi yang bersangkutan. Namun, sejauh ini beliau mensyukuri bahwa tak ada trade-off dalam menjalankan peran ganda sebagai pejabat negara dan pejabat RT sekaligus. Manajemen pendelegasiannya berjalan dengan sangat lancar, sehingga dalam kepenguruan RT/RW bisa saling membantu dan saling melengkapi.

Kegiatan-kegiatan yang sangat penting masih bisa beliau hadiri, seperti gotong royong dan rapat kepengurusan. Hanya saja beliau jarang mengikuti rapat jika diadakan oleh kelurahan yang mengharuskan RT/RW ikut hadir, biasanya beliau mendelegasikan kepada sektretaris RT.

Setelah berdiskusi panjang tentang peran beliau sebagai Pejabat Negara merangkap Ketua RT, ada beberapa poin penting yang bisa menginspirasi generasi muda.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pemerintahan Selengkapnya
Lihat Pemerintahan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan