Mohon tunggu...
Good Words
Good Words Mohon Tunggu... Penulis - Put Right Man on the Right Place

Pemerhati Bangsa

Selanjutnya

Tutup

Worklife Artikel Utama

Mencegah "Turnover Contagion", Penyebab Karyawan Resign Massal

28 September 2021   11:28 Diperbarui: 28 September 2021   20:50 1206
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi karyawan resign.| Sumber: Freepik.com via parapuan.co

Itu sebabnya, turnover contagion tidak akan menular ketika karyawan yang berkinerja buruk pergi, karena memperbaiki lingkungan kerja dari karyawan yang memiliki kinerja yang buruk sebenarnya cukup fungsional untuk organisasi dan sangat diinginkan.

Namun, secara signifikan, pengunduran diri bisa juga dipicu oleh pemecatan seorang kolega yang disukai dan dapat diandalkan, jika ia tidak ada akan mempersulit staf yang tersisa.

Dia mungkin bukan karyawan bintang dalam meningkatkan omzet penjualan, tetapi dia adalah kunci moral perusahaan, sehingga dia digelari pemersatu kantor. Ini sejalan dengan penelitian Chhinzer yang menunjukkan bahwa karyawan yang menciptakan kelompok semu di tempat kerja lebih mungkin terpengaruh oleh turnover contagion daripada karyawan yang bekerja cukup mandiri.

Ilustrasi Karyawan Resign | Sumber : bbc.com
Ilustrasi Karyawan Resign | Sumber : bbc.com

Mencegah Arus Deras Turnover Contagion

Tentu saja manajer akan sedikit frustasi menghadapi resign massal dan akan berusaha menghentikan karyawan untuk saling memengaruhi tentang rencana keluar mereka, tetapi ini akan menjadi kontraproduktif.

Jadi manajer seakan-akan menjadi pengawas yang memata-matai gerak-gerik karyawan. Taktik otoriter semacam ini cenderung menumbuhkan lebih banyak ketidakpercayaan dan permusuhan, hanya membuat pintu terbuka tampak lebih menarik bagi karyawan.

Alih-alih menutup percakapan, bersikap lebih terbuka tentang mengapa staf pergi akan membantu meredam desas-desus. Misalnya, jika seseorang mengundurkan diri karena alasan keluarga, hal itu cenderung tidak menyebabkan penularan pergantian karyawan dari pada berhenti karena ketidakpuasan kerja.

Tetapi jika ada karyawan yang tiba-tiba resign secara misterius, orang akan berspekulasi dan berasumsi buruk. Masukan untuk para manajer adalah bahwa mereka harus mengetahui dengan sangat jelas alasan mengapa orang itu resign. Jika itu bukan alasan yang berhubungan dengan pekerjaan, maka hal ini dapat menghentikan resign massal.

Para ahli mendorong agar para eksekutif mengambil langkah-langkah praktis yang lebih positif untuk menghentikan the great resignation. Kepergian karyawan kunci adalah saat-saat yang kritis untuk berinvestasi pada karyawan yang tersisa, dan dalam merekrut staf baru.

Namun terlalu banyak pengusaha melakukan hal yang sebaliknya yaitu mencoba menghemat uang dengan membebani karyawan yang ada dengan lebih banyak pekerjaan, yang menciptakan lingkaran setan stres, depresi, dan pengunduran diri.

Jika tempat kerja tidak mengatasi faktor-faktor mendasar yang membuat turnover contagion akan sering terjadi di antara stafnya. Sangat mengkhawatirkan jika ketakstabilan perusahaan akan memicu resign massal berulang-ulang. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Worklife Selengkapnya
Lihat Worklife Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun