Mohon tunggu...
Good Words
Good Words Mohon Tunggu... Penulis - Put Right Man on the Right Place

Pemerhati Bangsa

Selanjutnya

Tutup

Kebijakan

Siti Fadila Supari: Bisa Saja Amerika dan China Hanya Korban, Lalu Siapa di Balik Pandemi?

23 Mei 2020   14:32 Diperbarui: 23 Mei 2020   16:00 916
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Keamanan. Sumber ilustrasi: PIXABAY/Pixelcreatures

Dalam wawancara di kanal Youtube milik Deddy Corbuzier bersama Menteri Kesehatan RI 2004-2009 yang ditayangkan tanggal 21 Mei 2020, Siti Fadila Supari mengungkapkan kemungkinan dalang di balik sebuah pandemi adalah sekelompak tertentu yang ingin memanfaatkan situasi pandemi dalam mengejar keuntungan belaka dan ini hanya perkiraan yang bisa saja benar atau salah. 

Bisa saja China adalah korban, bisa saja Amerika juga korban atas ulah sekelompok bisnis tertentu yang menfaatkan pandemi sebagai alat untuk mewujudkan keinginan-keinginan mereka walaupun dengan cara mematikan depopulasi. Memang tidak cukup bukti untuk membuktikan pandemi Covid-19 merupakan sebuah konspirasi. 

Hanya saja yang aneh menurutnya adalah saat terjadi pandemi, mengapa prioritas penanganan pandemi langsung mengarah pada vaksin? Mengapa saat awal-awal terjadi pandemi tidak dihentikan dengan cara-cara yang lebih efektif? Mengapa setiap ada pandemi selalu diikuti dengan perdagangan obat dan vaksin?

Lebih berbahaya lagi jika semua pasokan obat dan alat-alat pendukung medis lainnya didominasi oleh buatan luar negeri. Ini terlihat seperti ada yang mengaturnya, bahkan ada sekelompok yang telah memprediksi akan terjadi pandemi dan telah siap dengan vaksinnya. Hal ini menurutnya sama sekali tidak masuk akal.

Untold Stories Perjuangan Siti Fadila Supari
Dalam buku Big Farm Makes Big Flu Rob Wallace menceritakan bahwa saat Mantan Menteri Kesehatan RI tersebut terpilih menjadi Wakil Presiden WHO tahun 2006 mampu membuktikan bahwa kebijakan-kebijakan nasionalis yang mementingkan rakyat merupakan kunci mengurainya kesembrawutan penanganan pandemi flu burung kala itu. 

Siti Fadila Supari dianggap menentang para ilmuwan yang terkait penetapan status pandemi flu burung kala itu. Penolakan tersebut jelas membuat ilmuwan berkecil hati, tetapi sikap Indonesia dianggap mempertahankan satu prinsip keadilan. Rob Wallace menambahkan, efek penetapan pandemi disaat informasi asimetris adalah menempatkan negara-negara miskin yang tidak siap dalam situasi yang amat berbahaya secara ekonomi. 

Tidak heran ada sebagian negara yang mampu melakukan karantina wilayah dengan kapasitas ekonomi dan pangan memadai, dan banyak juga negara yang tidak mampu melakukan karantina wilayah yang menyisakan masalah sosial yang lebih parah seperti kelaparan dan kemiskinan.

Senada dengan Siti Fadila, Rob Wallace, seorang fillogeografer kesehatan masyarakat, mengatakan bahwa dalang yang seharusnya disalahkan adalah ideologi kapitalisme pertanian yang sudah mendarah daging di sebagian praktik ekonomi dunia. Kapitalisme seolah tidak menyisihkan sedikitpun ruang dan waktu pada mereka yang lemah secara ekonomi dan sosial. 

Ide-ide kapitalisme pada ujungnya membuat petani-petani kecil kehilangan lahan pertaniannya akibat deforestasi besar-besaran ditopong oleh investasi-investasi kapitalis. 

Deforestasi inilah yang akan pemicu muncuknya virus-virus berbahaya. Dalam bukunya Big Farms Make Big Flu, Wallace mengambarkan peningkatan aktivitas mikrobiologi yang dapat merugikan manusia diakibatkan oleh produksi pangan serta profitabilitas perusahaan-perusahaan multinasional. Pendekatan untuk menyingkap penyebab pandemi sesungguhnya harus menggunakan pendekatan model industrialisasi pertanian dan peternakan.

Kondisi yang sangat disayangkan ketika perhatian masyarakat, pemerintah, media, bahkan medis terpaku pada betapa mengerikannya situasi darurat yang terjadi saat pandemi. Sedikit pihak yang peduli pada penghentian pandemi di sisi hulu sebelum virus menyebarluas dan mencekam. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kebijakan Selengkapnya
Lihat Kebijakan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun