Irvando Damanik
Irvando Damanik PNS

mari berbagi sekalipun hanya dari pikiran

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup Pilihan

Usia (Lebih) Muda Masuk TK, Antara Kemauan dan Keterpaksaan

9 Maret 2018   09:29 Diperbarui: 9 Maret 2018   15:18 1081 0 0

Fenomena yang sudah tidak asing tentunya bagi kita yang tinggal dikota besar dimana kita disuguhi pemandangan yang lazim saat setiap pagi hari para orang tua mengantarkan anak-anak terkasih mereka yang berusia 3 tahun bahkan sebagian lebih muda menujusekolah Taman Kanak-kanak. 

Sepintas mereka terlihat senang saat turun dari kendaraan seraya memberi salam kepada orangtua ataupun orang yang mengantar mereka dan sekejap berlalu menuju pekarangan TK untuk selanjutnya bertemu dengan guru mereka dan masuk keruangan untuk mengikuti rutinitas yang mereka lakukan setiap harinya. 

Segera sesaat setelah si anak mengalihkan pandangan, para orangtua pun bergegas dan mengilang dalam sekejap untuk melanjutkan perjalanan sesuai dengan rencana harian masing-masing. Menjelang tengah hari (umumnya Pukul 12.00 Wib) anak-anak selesai dari sekolah dan waktunya para orangtua dan penjemput untuk membawa mereka kembali kerumah masing-masing walau tidak sedikit yang tinggal disana sampai sore hari sampai orangtua/penjemput datang untuk menjemput mereka. Demikianlah kejadian itu menjadi rutinitas yang dilalui si anak yang akhirnya itulah menjadi pola hidupnya sasat ia masih berusia 3 tahun atau bahkan lebih muda dari itu.

Namun satu pertanyaan yang harus kita renungkan bersama, apakah masuk TK sejak dini merupakan keinginan si anak yang (mungkin) tergiur untuk mendapatkan dunia yang lebih luas atau mungkin karena melihat teman-teman bermain yang lebih banyak sehingga mereka meminta dengan paksa kepada orang tua untuk segera mendaftarkan mereka ke sekolah, atau.. hal itu terjadi hanya karena keterpaksaan orangtua karena kondisi yang mengharuskan mereka "menitipkan" buah hati mereka ketempat lain (dalam hal ini sekolah TK).

Kalau keinginan sekolah itu adalah murni merupakan permintaan si anak dikarenakan banyak factor seperti: mereka tertarik dengan ramainya TK, mereka menemukan banyak wahana permainan disana, mereka ingin mendapatkan suasana dan tempat yang baru, maka alasan ini tidak perlu kita perdebatkan lagi kemudian pasti sedikit banyaknya mereka akan menikmatinya.

Lantas bagaimana jikalau ternyata kondisi tersebut adalah keinginan orangtua semata akibat kondisi yang memaksa hal itu harus terjadi. Mungkin karena kedua orangtua sibuk bekerja, sehingga tidak ada orang yang bisa menjaga akhirnya anak-anak harus disekolahkan lebih dini diabanding menitipkan mereka di tempat penitipan anak (day care) atau mencari asisten rumah tangga agar aktivitas orangtua tidak terganggu minimal sampai mereka pulang sekolah. 

Dengan kata lain sekolah hanyalah tempat untuk penitipan si anak namun kesannya lebih baik dan bermanfaat. Hal ini lah yang sering menjadi perdebatan baik dikalangan orangtua maupun organisasi perlindungan anak atau organisasi laiinya.

Kemudian muncul statemen, " dari pada menitip anak-anak dipenitipan anak mendingan mereka sekolah saja. Selain mereka mendapatkan Pendidikan formal, tidak ada lagi biaya tambahan yang dikeluarkan untuk mencari pengasuh". Ya... bagi sebagian orang mungkin itu hal yang bagus. Tapi menurut saya tetap saja itu bukan alasan untuk pembenaran memberangkatkan anak ke sekolah sejak dini dan terlalu muda.

Sekolah tetaplah sekolah. Sekolah yang bagaimana sekalipun pasti tetap memberikan nuansa sekolah, yang diisi dengan program yang sudah terencana, waktu yang sudah terjadwal dengan bagus, kurikulum yang sudah disusun berdasarkan keputusan dinas Pendidikan dan pengajaran dan masih banyak lagi. 

Pihak sekolah tidak akan memberikan program khusus hanya untuk mengakomodir kondisi beberapa anak yang masih dibawah umur terhadap kebanyakan siswa lainnya. Sehingga mau tidak mau anak-anak harus menyesuaikan diri mereka dengan program yang sudah disiapkan oleh sekolah sekalipun tingkat kematangan berfikir mereka belum waktunya untuk mencerna program itu.

Apakah si anak sudah siap? Pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Beberapa pakar sudah sering menyebutkan melalui penelitian mereka pada usia berapa si anak secara umum bisa mengikuti Pendidikan secara formal, dan umumya menyebutkan 4 tahun bahkan lebih. Hal ini sudah mempertimbangkan tingkat kematangan dan cara berpikir sianak untuk menyikapi setiap materi yang akan diterima. 

Menurut beberapa sumber, usia itu adalah usia mereka bermain tanpa ada Batasan yang berarti apalagi kondisi yang mengarah kepada formal. Memang kembali kepada bagaimana perkembangan fisik dan fisikis si anak, namun kita sebagai orang tua haruslah lebih bijak lagi untuk menentukan kehidupan mereka. Sudah banyak kita menyaksikan hal-hal yang dianggap merampas kehidupan masa kecil anak termasuk masalah sekolah ini. 

Program-program pemerintah bahkan secara intens meberikan pencerahan dan sharing knowledge khusus kepada orangtua tentang bagaimana fasa pertumbuhan yang dilalui sianak mulai dia lahir, saat kecil, beranjak remaja, pemuda hingga dia dewasa. 

Bahkan akhir-akhir ini pemerintah menentukan batas minimal usia anak masuk SD adalah 7 tahun (walau masih banyak yang memperdebatkan). Satu hal yang harus kita pahami adalah bagaimana kita bersikap dan bertindak terhadap anak-anak, sehingga mereka memang akan siap dan matang untuk melalui semua fasa kehidupan yang akan mereka lalui nantinya. Kesiapan mereka pasti akan tergantung bagaimana perlakuan yang kita berikan kepada mereka saat ini dan itu adalah membentuk karakter dan kemandirian mereka kelak.

So, wahai kita para orang tua marilah lebih bijak lagi dalam memperhatikan segala kebutuhan buah hati kita. Kita semua tentunya mengharapkan yang terbaik kepada seluruh anak-anak kita, namun sering cara yang kita lakukan kurang tepat atau bahkan kita tidak sabar sehingga sering ada hal-hal yang terabaikan dari proses yang dilalui.

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita minimal sebagai bahan renungan untuk masa depan anak-anak kita kelak. Anak kita adalah masa depan kita.

Untuk Indonesia cerdas dimasa mendatang..

Salam,