Mohon tunggu...
Dian S. Hendroyono
Dian S. Hendroyono Mohon Tunggu... Freelancer - Life is a turning wheel

Freelance Editor Kepustakaan Populer Gramedia - Eks Redaktur Tabloid BOLA - Eks Redaktur Pelaksana Tabloid Gaya Hidup Sehat - Eks Redaktur Pelaksana Majalah BOLAVAGANZA

Selanjutnya

Tutup

Inovasi Pilihan

Dua Sisi Mata Uang Susu Sintetis

9 November 2022   20:37 Diperbarui: 9 November 2022   20:42 216
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Susu sintetis sudah mulai menggantikan susu alami. (Anita Jankovic/Unsplash)

Untuk penggemar susu, by the way susu itu minuman sangat penting lho, bersiap untuk mencicipi susu sintetis, susu buatan tidak diproduksi dari sapi atau hewan mamalia lain. Situs Science Alert menyebut kehadiran susu sintetis sebagai bagian dari disrupsi yang datang dari makanan alternatif, tidak dihasilkan lagi dari hewan.

Susu sintetis tidak berasal dari sapi atau hewan lainnya. Bentuk dan rasanya bisa saja sama dengan susu hewan, namun dihasilkan dari teknik bioteknologi yang disebut "fermentasi presisi" yang menghasilkan biomassa terkultur dari sel-sel. Bisa jadi itu adalah teknik kultur jaringan. Biomassa adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan semua senyawa organik yang berasal dari tanaman pertanian, alga, dan sampah organik, demikian menurut Wikipedia.

Lebih dari 80 persen penduduk dunia adalah peminum susu reguler atau produk susu lainnya, menurut badan PBB, Food and Agriculture Organization. Sudah lama ada rencana untuk berpindah dari sistem makanan berbasis hewan ke produksi makanan yang lebih berkelanjutan.

Adanya susu sintetis bisa menghilangkan kekhawatiran tentang emisi metana atau kesejahteraan hewan. Namun, agaknya masih lama untuk susu sintetis bisa menggantikan sepenuhnya susu alami.

Susu sintetis memiliki keuntungan tersendiri, tidak seperti daging tiruan. Daging sintetis masih memikirkan tentang tekstur yang harus mirip dengan daging asli. Sebaliknya, susu sintetis memiliki rasa, penampilan seperti susu alami. Bahkan perasaan yang didapat ketika minum susu sintetis pun sama dengan ketika minum susu biasa.

Saat ini, susu sitentis sudah ada. Di Amerika Serikat misalnya, perusahaan bernama Perfect Day menyuplai protein bebas hewan terbuat dari mikroflora, yang kemudian dipakai untuk membuat es krim, bubuk protein, dan susu.

Di Australia, perusahaan start-up bernama Eden Brew mengembangkan susu sintetis di Werribee, Victoria. Target utama konsumen perusahaan itu adalah mereka yang khawatir tentang perubahan iklim dan kontribusi metana dari peternakan sapi.

The Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation (CSIRO) di Australia dilaporkan mengembangkan teknologi di balik produk Eden Brew. Proses dimulai dengan ragi dan menggunakan "fermentasi presisi" untuk menghasilkan protein yang sama yang ditemukan di susu sapi.

Protein itu memberikan susu banyak properti penting dan berkontribusi untuk tekstur creamy dan kemampuan untuk bisa "berbusa". Mineral, gula, lemak, dan perasa ditambahkan ke protein untuk menghasilkan produk akhir.

Sebuah laporan tentang "Food and Agriculture" dari Rethinking pada 2019, menyatakan bahwa pada 2030, industri fermentasi presisi di AS akan menciptakan sedikitnya 700.000 lapangan kerja. Namun, industri itu juga akan semakin menjauhkan manusia dari peternakan tradisional.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Inovasi Selengkapnya
Lihat Inovasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun