Mohon tunggu...
Dian S. Hendroyono
Dian S. Hendroyono Mohon Tunggu... Freelancer - Life is a turning wheel

😊😊😊

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Beramal, Haruskah Dikejar-kejar?

15 Oktober 2021   19:24 Diperbarui: 15 Oktober 2021   19:53 124 9 2
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Donasi harus dilakukan dengan ikhlas, tanpa pamrih. (Sumber: viarami/Pixabay)

Saya pernah membaca, berapa pun uang yang kita miliki, meski hanya 100 rupiah, ada hak orang lain di dalamnya. Itulah yang kita amalkan, diberikan kepada orang itu, seikhlas kita. Semampu kita.

Dalam beberapa bulan terakhir ini, saya sering mendapat telepon dari sebuah organisasi amal. Tidak akan saya sebutkan namanya, selain namanya terdiri dari tiga huruf. Mungkin banyak yang tahu.

Biasanya mereka menelepon pada pagi hari, ketika saya sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan santapan untuk mama. Atau pernah suatu kali malah saya belum bangun tidur. Biasanya mereka akan menghubungi lagi jelang sore.

Satu kali, dua kali, tiga kali. Akhirnya saya hapal nomor telepon yang mereka pakai. Isinya, saya diminta untuk beramal. Untuk saudara-saudara kita di Palestina, kata si penelepon. Biasanya yang menelepon itu seorang laki-laki, suaranya empuk, kedengarannya sangat sabar.

Saya katakan saya akan melakukannya, tapi tidak saya katakan kapan. Setelah itu, si penelepon biasanya akan mengatakan mereka akan mengirimkan semua nomor rekening organisasi mereka melalui WhatsApp. Terakhir, mereka sebutkan bahwa saya harus mengirimkan bukti transfer melalui nomor yang mereka pakai untuk mengirim kabar WhatsApp tersebut.

Mendengar itu, harus mengirimkan bukti transfer, saya langsung memutuskan untuk tidak mengirimkan donasi apapun. Sebab, itu bertentangan dengan yang saya yakini.

Ada kata-kata soal amal dalam Islam yang selalu saya turuti, sebisa mungkin. Begini kata-kata itu: "Ketika tangan kanan beramal, sebaiknya tangan kiri tidak boleh tahu."

Nah, padahal tangan kanan dan kiri kita 'kan berada di tubuh yang sama. Pastilah tangan kiri akan tahu juga. Tentu saja, kata-kata itu memang tidak secara harafiah diartikan demikian.

Intinya, ketika kita beramal, tidak perlu memberi tahu orang lain. Bahkan orang serumah pun tak perlu tahu. Diam-diam saja. Beda misalnya dengan sumbangan untuk masjid setiap bulan, Itu namanya iuran. Sudah pasti ada catatannya, untuk pertanggungjawaban pengurus masjid.

Tapi, amal lain perkara. Itu urusan antara kita dengan Allah SWT. Bahkan ketika kita beramal juga tidak boleh mengharapkan pahala. Jika mengharap pahala, berarti ada pamrihnya. Tidak boleh berharap apa-apa. Pasrah saja, apapun yang akan terjadi nantinya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan