Mohon tunggu...
Dian S. Hendroyono
Dian S. Hendroyono Mohon Tunggu... Freelancer - Life is a turning wheel

Freelance Editor dan Penerjemah Kepustakaan Populer Gramedia | Eks Redaktur Tabloid BOLA | Eks Redaktur Pelaksana Tabloid Gaya Hidup Sehat | Eks Redaktur Pelaksana Majalah BOLAVAGANZA | Bekerja di Tabloid BOLA Juli 1995 hingga Tabloid BOLA berhenti terbit November 2018

Selanjutnya

Tutup

Foodie Pilihan

Soto Ayam Kuah Bening, Soto Malaria

13 September 2021   08:30 Diperbarui: 13 September 2021   09:33 908
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Soto ayam bening. (Sumber: Mamicay/Cookpad)

Sejatinya, saya sama sekali tidak paham bagaimana cara membuat soto. Soto apapun. Saya hanya paham cara menyantapnya. Soto favorit saya adalah soto betawi, soto bersantan berisi daging sapi. Asalkan tidak dicampur dengan jeroan, maka saya akan menyantap habis itu soto betawi.

Soto betawi terenak yang pernah saya santap berasal dari sebuah warung di Gang Along, di kawasan Palmerah, Jakarta Pusat. Atau Jakarta Barat, ya? Entahlah. Sebab Palmerah merupakan perbatasan antara Jakarta Pusat dan Barat. Yang penting soto betawi Gang Along bukan main rasanya.

Sayangnya, setelah Koh yang biasa membuat soto betawi itu wafat, soto buatan di warung itu menjadi berbeda rasanya. Ada rasa tertentu pada soto betawi buatan Koh yang tidak terdapat pada soto betawi buatan istrinya.

Pada akhirnya, saya sudah menemukan tempat baru untuk membeli soto betawi. Tapi, saya tidak sesering dulu menyantapnya. Maklumlah, tubuh ini mulai uzur. Bahaya kalau terlalu banyak santan. Begitu katanya.

Ada jenis soto lain yang juga saya suka, yaitu soto ayam kuah bening. Saya tidak membelinya, karena mama yang membuatnya di rumah. Isinya adalah suwiran ayam goreng, dengan rebusan tauge, lalu ada soun juga. Kalau mama sempat, soun itu digoreng sampai crispy. Kalau tidak sempat, ya direbus saja. 

Lalu, kadang ada irisan kentang goreng juga. Lalu sambalnya terbuat dari cabai rawit, sehingga warnanya hijau. Tapi, sambal buatan mama tidak pernah terasa pedas.

Kuah soto ayam buatan mama yang ingin saya bahas. Saya tidak tahu bagaimana mama membuatnya, tapi rasanya selalu segar dan pas di lidah. Kuah soto ayam ini juga sangat berguna ketika malaria saya kambuh, dulu. Alhamdulillah, tidak lagi kambuh bertahun-tahun belakangan ini.

Ketika malaria sedang kambuh, biasanya mulut akan terasa sangat pahit. Konon itu karena cairan di empedu naik sampai ke mulut. Empedu atau apa, ya? Empedu sepertinya. Oleh sebab itu rasanya sangat pahit. Belum lagi rasa mual. Uh, paling merana kalau malaria sedang beriang ria seperti itu.

Tapi, meski bagaimana, saya tetap harus makan, untuk energi, juga untuk dasar minum obat. Nah, soto ayam ini satu-satunya lauk yang bisa saya rasakan selama malaria kumat.

Akan tetapi, hanya kuahnya yang bisa saya telan bersama nasi. Jangan harap saya bisa menyantap semua isi soto ayam yang telah saya sebut tadi. Yang ada malah hanya mual-mual.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Foodie Selengkapnya
Lihat Foodie Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun