Mohon tunggu...
Irmina Gultom
Irmina Gultom Mohon Tunggu... Apoteker - Apoteker

Pharmacy and Health, Books, Travel, Cultures | Author of What You Need to Know for Being Pharmacy Student (Elex Media Komputindo, 2021) | Best in Specific Interest Nominee 2021 | UTA 45 Jakarta | IG: irmina_gultom

Selanjutnya

Tutup

Hobby Pilihan

[Resensi] Mengenal Tradisi Upacara Rambu Solo dari "Puya ke Puya"

13 Oktober 2021   07:00 Diperbarui: 13 Oktober 2021   07:02 684
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

"Aku tidak lagi menjadi senang sebab rambu solo diadakan dengan tingkatan rapasan sundun, tak ada lagi gunanya pikirku. Sebab aku akan tiba di puya dengan beban tidak bisa menurunkan tanggung jawab." - Puya ke Puya.

Pernah dengar Rambu Solo? Ya, serangkaian upacara adat kedukaan (kematian) yang diselenggarakan oleh masyarakat Toraja untuk mengantar keberangkatan almarhum ke surga (puya).

Well, saya memang belum pernah menyaksikannya secara langsung, tapi bersyukurlah saya karena perkembangan teknologi saat ini, membuat kita bisa mencari informasi apapun yang ingin kita ketahui hanya dengan bermodal gadget, jaringan internet dan jempol. Kalau penasaran, pembaca bisa lihat video mengenai Rambu Solo di Youtube.

Menurut Aluk Todolo, masyarakat suku Toraja memiliki dua upacara adat utama yakni Rambu Tuka dan Rambu Solo. Aluk Todolo sendiri artinya adalah Aturan Leluhur, yakni suatu pedoman atau tatanan kehidupan masyarakat Toraja yang diturunkan oleh para leluhur. Jika Rambu Tuka diadakan dalam rangka sukacita, maka sebaliknya untuk Rambu Solo.

Umumnya, jika kita merayakan sesuatu dengan meriah dalam suasana sukacita akan terasa lumrah. Tapi lain halnya jika dalam suasana dukacita. Upacara adat dengan suasana meriah yang diadakan ketika kita sedang berduka cita justru menjadi sesuatu hal yang unik dan menarik di mata orang lain. Itulah mengapa Rambu Solo menjadi terkenal di mata masyarakat di luar Toraja, terutama turis. Sama halnya dengan upacara adat Saurmatua dalam suku Batak.

Berhubung penyelenggaraan Rambu Solo membutuhkan biaya yang tinggi dan melibatkan seluruh keluarga besar, maka seringnya Rambu Solo tidak bisa diadakan segera setelah almarhum meninggal.

Dalam kepercayaan suku Toraja, orang yang meninggal dianggap sebagai 'mayat sakit' dan tetap diletakkan di dalam Tongkonan keluarga. Dengan demikian, keluarga akan memperlakukan jenazah tersebut seperti orang yang sedang sakit dan diberi makan (walau tidak benar-benar dimakan) sampai Rambu Solo diadakan.

Nah, buku yang ingin saya ulas kali ini tidak jauh-jauh dari kisah mengenai Rambu Solo yang terkenal itu. Jujur saya tidak sengaja mengetahui buku ini ketika sedang iseng browsing internet. Setelah membaca beberapa ulasannya, saya jadi tertarik untuk membacanya. Masalahnya, ternyata saya perlu waktu lama untuk menemukannya karena ternyata buku ini kelihatannya belum dicetak ulang sejak penerbitan pertamanya. Tapi akhirnya saya bisa mendapatkannya meski sayangnya kertasnya sudah menguning. Tak apalah, yang penting masih bisa dibaca.

Blurb

Allu Ralla pusing setengah mati ketika ia mendapat kabar bahwa Ambe (Ayah) nya, Rante Ralla, meninggal secara tiba-tiba. Segera ia meninggalkan kuliahnya di Makassar dan pulang ke Tongkonan untuk menemui Indo (Ibu) nya dan seluruh keluarga besarnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Hobby Selengkapnya
Lihat Hobby Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun