Irmina Gultom
Irmina Gultom Apoteker

A Pharmacist who love reading, traveling, photography, movies and share them into a write | Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta | IG: https://www.instagram.com/irmina_gultom/ | https://marvelousthings250552759.wordpress.com/

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Menjadi Kartini Milenial

21 April 2019   21:49 Diperbarui: 22 April 2019   10:56 245 11 4
Menjadi Kartini Milenial
Ilustrasi: firmanimmanksyah.xyz

Adalah salah satu teman yang saya kenal pertama kali saat duduk di bangku SMP. Dia seorang perempuan dan terkenal di sekolah sebagai siswi yang pintar, sehingga ia menjadi siswi favorit para guru. Sebut saja namanya Ciara. Kakak laki-laki Ciara yang bersekolah di sekolah yang sama, juga sama pintarnya. Pokoknya dua bersaudara ini terkenal dengan level kepintarannya yang tinggi di sekolah.

Begitu lulus SMA, Ciara berhasil mengenakan jaket kuning dan masuk jurusan hukum. Di tahun yang sama, dia mengambil kuliah jurusan ekonomi di universitas lain, sehingga 4 tahun kemudian dia lulus double degree.

Ciara kemudian melanjutkan studi magister hukum dan kenotariatan, serta mengikuti sejumlah pelatihan untuk mendukung profesinya sebagai notaris. Baru-baru ini, saya dengar dia sedang menempuh studi doktoral. Jadi kalau nama lengkapnya ditulis, panjang gelar akademiknya sudah seperti kereta commuter line di usia yang masih muda.

Saya sempat minder juga sih karena ternyata pencapaian saya tidak sebesar itu. Tapi kemudian saya mendengar komentar salah seorang teman saya, "Ya ampun, ngapain sih cewek sekolah tinggi-tinggi kayak begitu? Ujung-ujungnya juga ntar di dapur, urus suami dan anak. Eh, tapi itu kalo merit. Lha kalo gak merit-merit gara-gara cowok pada mundur teratur pas tahu gelar dia kayak gitu gimana?"

Saat itu juga yang ada di pikiran saya waktu itu adalah, bagaimana bisa di zaman sekarang ini ternyata masih ada orang yang punya pemikiran seperti itu? Bisa-bisa R.A. Kartini bisa bangkit dari kubur!

Seperti tahun-tahun sebelumnya, pada tanggal 21 April, Indonesia memperingati Hari Kartini. Peringatan ini sebagai bentuk penghormatan kepada R.A. Kartini karena beliau telah berhasil memperjuangkan emansipasi dan hak-hak wanita Indonesia untuk bisa mendapatkan perlakuan yang sama dengan pria.

Generasi Milenial sebagai kaum yang mendominasi kelompok usia produktif saat ini, tentunya memiliki banyak tantangan yang harus dihadapi. Dan untuk para wanita milenial, berikut adalah hal-hal yang bisa kita lakukan untuk meneruskan perjuangan R.A. Kartini di masa sekarang:

Berani bermimpi tapi realistis
Tanpa mimpi tentunya kita tidak punya motivasi untuk menjalani hidup. Jadi, kita para wanita tidak boleh takut bermimpi. Bermimpilah setinggi mungkin sebelum mimpi dilarang. Meski begitu, dalam bermimpi kita juga harus realistis. Jangan asal bermimpi, tapi tidak tahu langkah apa yang harus dilakukan untuk mencapai mimpi tersebut.

Memiliki mimpi yang tinggi boleh, tapi tetap harus realistis. Setiap mimpi harus kita pikirkan dan rencanakan dengan matang. Kita juga harus memperhitungkan segala faktor yang dapat memengaruhi proses pencapaian mimpi tersebut dan apa saja yang mungkin harus kita korbankan. Mulai dari waktu, biaya, tenaga, dan strategi dalam menjalani hal-hal kecil untuk mendukung terwujudnya mimpi tersebut.

Di tengah perjalanan menuju mimpi tersebut, ada kalanya kita akan merasa jenuh dan merasa tergoda untuk berhenti. Atau bisa juga kita terpaksa mengubah sedikit target karena keadaan. Oleh sebab itu kita pun harus bisa benar-benar mengenali, apakah mimpi tersebut benar-benar ingin kita raih sebagai pencapaian hidup, atau hanya sekadar ikut-ikutan saja (impulsif). Mimpi yang impulsif biasanya akan membuat kita berhenti di tengah jalan ketika rasa jenuh menerpa.

Sekolah setinggi mungkin sesuai kemampuan
Belajarlah setinggi mungkin meski pada akhirnya kalian akan menjadi ibu rumah tangga yang mengurus keluarga. Saya akui meski tidak semua, tapi pada kenyataannya tingkat pendidikan seorang ibu juga memengaruhi cara mereka dalam mendidik anak dan mengelola operasional rumah tangga.

Lalu bagaimana kalau biaya menjadi kendala? Tidak dapat dipungkiri bahwa pendidikan tingkat universitas juga memerlukan biaya yang cukup tinggi. Apa itu berarti seorang ibu yang tidak kuliah karena tidak memiliki biaya yang cukup, tidak bisa mendidik anak dengan baik?

Itulah sebabnya saya katakan, sekolahlah setinggi mungkin sesuai dengan kemampuan. Sesuaikan dengan kemampuan finansial maupun akademik. Jangan urungkan niatmu untuk belajar setinggi mungkin meski kamu tahu, atau mungkin sudah memutuskan sejak awal untuk menjadi ibu rumah tangga. Perlu diketahui, ibu rumah tangga juga merupakan suatu profesi yang tidak dapat dipandang sebelah mata.

Fokus mengejar karier bukan suatu hal yang salah
Pernah dengar para orang-orang tua berkata seperti ini, "Jangan terlalu fokus kerja, nanti susah kau dapat jodoh".

Di zaman sekarang ini, sudah bukan merupakan hal yang aneh jika wanita memiliki karier yang super mapan. Mereka tak segan untuk fokus dan mencurahkan segala perhatian dan usaha untuk meraih posisi yang berpengaruh di tempat kerja.

Karier yang mapan atau keputusan untuk berkeluarga adalah pilihan masing-masing. Sekali lagi, ini berkaitan dengan mimpi yang ingin dicapai seseorang. Sepanjang pilihan mereka memiliki tujuan yang baik, tentu tidak ada salahnya untuk meraihnya bukan? Jika dengan meraih karier yang mapan dapat membuatmu bermanfaat bagi orang lain, mengapa tidak?

Rajin membaca, belajar hal baru, melek teknologi & update issue terkini
Sebagai generasi milenial yang senantiasa dikelilingi oleh pergerakan tren teknologi yang super cepat, seorang wanita tetap harus rajin membaca, mau dan terbuka untuk mempelajari hal-hal yang baru, melek terhadap teknologi dan yang terpenting, selalu update dengan isu-isu terkini.

Gunakan segala kemudahan teknologi yang dimiliki untuk mengembangkan kompetensi diri. Jadi jangan hanya rajin online shopping dan memantau akun media sosial para selebgram yang konsumtif, apalagi sampai iri dan terpengaruh dengan segala kemewahan yang dipamerkan dalam media sosial.

Jangan teriak-teriak kesetaraan gender di tempat kerja kalau untuk meningkatkan kompetensi diri saja malas.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2