Irmina Gultom
Irmina Gultom Apoteker

Pharmacist - Universitas 17 Agustus 1945 | Books and movie addict | Writing and photography lovers | IG: irmina_gultom | No one can tell your story, so tell it yourself. No one can write your story, so write it yourself

Selanjutnya

Tutup

Gayahidup Artikel Utama

Dilema Kaum Milenial, Liburan atau Beli Properti?

4 Desember 2017   16:16 Diperbarui: 4 Desember 2017   17:15 2352 8 3
Dilema Kaum Milenial, Liburan atau Beli Properti?
Ilustrasi: foodtravelexperts.com

Akhir-akhir ini, boleh dibilang istilah "Generasi Milenial" sedang tren dan sering digaungkan di mana-mana. Maklum, usia produkstif saat ini memang didominasi oleh kaum milenial atau yang sering disebut juga sebagai Generasi Y, yakni mereka yang lahir antara awal tahun 1980an hingga akhir tahun 2000an. 

Generasi Milenial memiliki pola kehidupan yang sangat berbeda dengan generasi sebelumnya (Generasi Baby Boomers dan Generasi X), mulai dari gaya hidup, jenis pekerjaan yang diminati, hingga pandangan tentang komitmen berkeluarga. Saya sendiri, sebagai bagian dari generasi milenial sadar betul dengan perbedaan ini. Pandangan saya terhadap satu hal, cenderung berbeda dengan orangtua saya yang termasuk dalam generasi x.

Gaya hidup (lifestyle) adalah hal yang paling terlihat mencolok dalam kehidupan kaum milenial saat ini. Dibandingkan Generasi X yang lebih senang memanfaatkan uangnya untuk berinvestasi dalam bidang properti dan emas, milenial lebih memilih memanfaatkan uangnya untuk membeli gadget yang ter-update dan traveling.

Bagi kaum Milenial, traveling atau liburan adalah suatu hal yang prestis. Mereka lebih mementingkan menjelajahi seluruh pelosok dunia, meski dengan budget pas-pasan, ketimbang menabung untuk berinvestasi pada sesuatu yang berwujud seperti properti, emas, saham dan lainnya. 

Hal ini didukung pula dengan semakin canggihnya dunia teknologi dan digital saat ini, di mana kaum milenial lebih memilih mengandalkan gadget mereka untuk membeli tiket pesawat murah, booking hotel hingga mengatur transportasi yang akan digunakan dan tujuan destinasi, ketimbang menggunakan travel agent yang memakan biaya lebih tinggi. Dengan demikian mereka bisa menghemat dananya untuk dipakai traveling berikutnya.

Kalau ditanya tentang apa yang didapat dari traveling, saya yakin mereka akan menjawab "Pengalaman". Bagi kaum milenial, bertemu dengan orang banyak dari berbagai latar belakang, melihat budaya asing, merasakan hidup di lingkungan dengan adat istiadat yang berbeda, adalah suatu pengalaman yang tak ternilai. 

Mereka berpendapat, usia muda sebaiknya diisi dengan melihat dunia luar dan memperluas pergaulan serta bersosialisasi sebanyak mungkin, karena setelah berkeluarga, mereka beranggapan bahwa kehidupan mereka akan terikat dan tidak bisa lagi bepergian dengan bebas. Akibatnya, pandangan kaum milenial tentang konsep berkeluarga juga berubah. Mereka lebih memilih menunda pernikahan demi meraih karier yang tinggi dan memperoleh lebih banyak pengalaman dari traveling.

Selain itu. media sosial juga sangat berpengaruh dalam kehidupan kaum milenial. Dan boleh dibilang, media sosial sudah menjadi sarana krusial bagi milenial untuk pengakuan diri. Mereka pergi ke suatu tempat, berfoto, lalu meng-upload-nya ke akun Media Sosial mereka seperti Instagram, Facebook dan lainnya. Tujuannya tak lain tak bukan adalah demi memperoleh ribuan 'like' dan komentar kagum dari para followers mereka.

Ilustrasi: intrepidtravel.com
Ilustrasi: intrepidtravel.com

Gaya hidup kaum Milenial yang gemar traveling, membeli gadget teranyar, nongkrong di restoran dan kafe yang chic dan instagrammable, membeli barang-barang branded, menjadikan kaum milenial terkenal dengan gaya hidup yang boros. Kalau dulu yang termasuk kebutuhan primer adalah pangan, sandang dan papan, kini yang termasuk dalam kebutuhan primer bagi milenial adalah pangan, sandang, gadget dan traveling. Wew!

Tanpa bermaksud menghakimi, saya akui bahwa traveling adalah cara yang paling menyenangkan untuk memperoleh pengalaman. Dengan traveling kita belajar bagaimana cara menghadapi orang lain, mengatur waktu dan keuangan, belajar mandiri dan tidak banyak bergantung pada orang lain, belajar menjaga diri, serta menambah ilmu tentang bahasa dan budaya. Semua itu tidak bisa kita dapatkan jika kehidupan kita hanya terpusat di satu tempat. Akan tetapi, terlalu mengutamakan traveling tanpa mempersiapkan kemapanan finansial pun rasa-rasanya juga salah.

Bagaimanapun, kemapanan finansial adalah sesuatu yang ingin dicapai semua orang. Memiliki pekerjaan dan penghasilan tetap serta tempat tinggal sendiri adalah salah tolok ukur yang diterapkan masyarakat kita untuk menilai kemapanan finansial. 

Tentu siapapun tidak mau kan, hidup kesusahan saat sudah berkeluarga atau saat masa tua tiba? Ketika seseorang telah memiliki pekerjaan dan penghasilan tetap serta tempat tinggal sendiri, paling tidak orang tersebut sudah memiliki jaminan untuk menjalani hidup yang cukup dan nyaman. Dan dua hal ini saya rasa akan sangat sulit dicapai oleh kita, kaum milenial, jika tidak mempersiapkannya sejak awal.

Lain cerita jika seseorang memang mendapat anugerah hidup dalam kelimpahan harta yang tak habis tujuh turunan (kalau istilah drama Koreanya, Chaebol). Mereka bisa saja mondar-mandir di udara dan duduk di kelas bisnis maskapai-maskapai kelas dunia, loncat dari satu negara ke negara lainnya, tanpa perlu mengkhawatirkan keadaan finansial mereka. Tapi masalahnya, hanya ada berapa persen orang yang memiliki hidup seperti itu?

Entah pembaca ada yang sependapat dengan saya atau tidak, tapi menurut saya pribadi, mempersiapkan kemapanan finansial masih lebih penting untuk dicapai lebih dulu daripada mengutamakan pencarian pengalaman hidup dengan traveling.

Ilustrasi: frontporchblog.com
Ilustrasi: frontporchblog.com

Baru-baru ini seperti yang diberitakan detik.com dalam artikelnya,survey yang telah dilakukan oleh Rumah 123 menunjukkan bahwa pada tahun 2020, kaum Milenial diprediksi terancam tidak punya tempat tinggal. Gaya hidup boros kaum Milenial menjadi salah satu faktor penyebabnya. Selain gaya hidup, kenaikan harga properti dan kenaikan gaji kaum Milenial per tahunnya juga tidak sebanding. Jika kaum Milenial terus menerus menerapkan gaya hidup hura-hura tanpa memikirkan keadaan finansialnya di masa depan, mereka bisa jadi gelandangan. Haduh!!

Setiap tahunnya, kenaikan harga properti jauh lebih tinggi dibandingkan kenaikan harga tiket pesawat dan hotel. Semakin kita menunda niat memiliki properti, maka kita akan semakin tidak sanggup membelinya karena harga yang melambung. Jikapun ada yang harganya terjangkau, lokasinya pasti semakin jauh dari pusat kota dan pada akhirnya akan berdampak pada waktu harus dihabiskan oleh kita di perjalanan. Memutuskan untuk menyewa tempat tinggal demi mendukung gaya hidup juga kadang tidak worth it, karena kalau dihitung-hitung biasanya harga sewa tempat tinggal, sudah mirip-mirip dengan besaran cicilan KPR.

Pada dasarnya traveling boleh-boleh saja, tapi ada baiknya kita kaum Milenial menerapkan prioritas dan mengontrol pengeluaran sebaik mungkin. Bila sebelumnya kita suka traveling lebih dari tiga kali setahun, mungkin bisa dikurangi menjadi setahun sekali traveling luar negeri, sekali traveling domestik. Bagaimanapun traveling juga diperlukan setiap orang untuk me-refresh otak dan tubuh dari kepenatan, sehingga saat kembali bekerja kita menjadi lebih segar, bersemangat dan kreatif.

Jadi, apakah itu traveling atau menabung untuk mempersiapkan finnansial di masa depan, semuanya kembali pada masing-masing pribadi. Mana yang menjadi prioritas, karena seperti orang-orang bilang, hidup itu adalah pilihan yang masing-masing memiliki resikonya, baik maupun buruk. Selamat berpikir!