Mohon tunggu...
Irma Sustika
Irma Sustika Mohon Tunggu... profesional -

Soft skill trainer- Sales Coach, Pembina & Konsultant UKM - Owner ISF Consulting. - Founder Womanpreneur Community - penerima ISMBEA 2013

Selanjutnya

Tutup

Money

Cara Cerdas Mengelola Laba Usaha

11 Agustus 2014   08:01 Diperbarui: 18 Juni 2015   03:51 259
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ekonomi. Sumber ilustrasi: PEXELS/Caruizp

Bagi Setiap pelaku usaha tentunya yang diharapkan adalah keuntungan atau laba usaha  ,apa jadinya yaa jika bisnis tanpa keuntungan…itu sih dinas sosial yaa..:)

Meski begitu, sebagai pelaku usaha tentunya Anda juga harus tetap bijak dalam mengelola keuntungan yang diterima. Apabila kita membelanjakannya dengan kurang tepat, bisa dipastikan bila kerja keras yang kita lakukan  dalam menjalankan usaha tidak mendatangkan kesejahteraan bagi diri kita sendiri,apalagi bagi orang lain

Nah, agar laba usaha yang kita terima bisa dikelola dengan maksimal. Berikut ini kami ada tips bagaimana agar kita cerdas mengelola laba usaha

Pertama, sebanyak 20% dari laba bersih yang kita terima harus kita arahkan untuk investasi atau sebagai dana cadangan. Investasi ini berguna untuk memenuhi kebutuhan operasional usaha dalam jangka waktu panjang atau menengah dan boleh diambil dalam keadaan yang memang sangat penting. Anda bisa menabungkannya dalam bentuk tabungan, emas, deposito, properti dan surat berharga lainnya.

Kedua, 10% dari laba usaha bisa Anda gunakan untuk pengembangan usaha Seperti misalnya untuk meningkatkan infrastruktur, SDM, sistem, teknologi dan lain sebagainya. Disamping itu, kita juga bisa menggunakan dana tersebut untuk menambah cabang usaha lain yang sekiranya cukup menguntungkan.

Ketiga, sebanyak 10% dipakai untuk keperluan pribadi serta keluarga Anda. Dana ini adalah sebagai tanda penghargaan terhadap kerja keras kita dalam membangun usaha tersebut.

Keempat, sebanyak 10% disalurkan sebagai zakat, dana sosial, infaq. Ini perlu sebagai rasa tanggung jawab sebagai warga yang peduli pada lingkungan dan masyarakat sekitar yang memang membutuhkan. Apalagi kita adalah makhluk sosial.

Kelima, yang paling banyak yakni 60% dari laba bisa digunakan sebagai modal berputar, dana operasional usaha yang berhubungan dengan penjualan dan stok persediaan barang.

Saat saya melepaskan kekaryawanan saya di tahun 2006 dan memulai merintis usaha sendiri dalam bidang Training & Consulting , awalnya saya tidak menerapkan point ini, tepatnya sih sengaja melupakan..hehheee…menganggap kalau keuntungan yang saya dapatkan itulah gaji saya,seperti layaknya sebelumnya yang setiap bulan mendpatkan pendapatan tetap.Awalnya sih seru seru aja saya menikmatinya,

Eh eh..setelah berajalan beberpa bulan, mabok sendiri juga, disaat ada project yang harus dihandle,dimana saya harus dealing dengan pihak hotel dan berbagai pihak lain yang tentunya mereka meminta Uang muka..nah looo…ternyata ga ada dana standby…alhasil ngorek tabungan deh…judulnya sih pinjem alias pake dulu..yang ujungnya sengaja melupakan tanpa kembalian…hahhaha..awas jangan diikuti

Akhirnya saya pun sadar diri,yang saya lakukan itu judulnya hanya merasa untung yang semu, alhasil langsuung kembali kejalan yang lurus, setiap laba yang saya dapatkan 30  % untuk biaya hidup, 20 % sebagai dana cadangan 10  % dana sosial dan 40 % nya masuk kembali sebagai tambahan modal berputar.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Money Selengkapnya
Lihat Money Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun