Mohon tunggu...
Irma DamayantiQueen
Irma DamayantiQueen Mohon Tunggu... -
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi Pilihan

Data Pertanian Versus Fakta Lapangan

13 Desember 2018   09:11 Diperbarui: 13 Desember 2018   09:16 182 0 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Ilustrasi jagung (Republika)

Terjadi anomali jagung di Tulungagung, Jawa Timur. Daerah penghasil jagung yang kata Kementerian Pertanian (Kementan) sedang surplus produksi itu, kini malah jadi pasien penerima donor jagung impor.

Kepada wartawan, Kepala Bulog Sub Divre 5 Tulungagung, mengungkapkan bahwa para peternak di daerah yang katanya surplus itu, sudah pada tingkat kekurangan jagung. Bahkan untuk mencukupi kebutuhan jagung bagi para peternak, Bulog sudah meminjam jagung dari sejumlah perusahaan pakan sebanyak 11 ribu ton. 

Pinjaman jagung sebanyak itu diajukan Bulog atas dasar permintaan peternak Tulungagung dan Blitar itu sendiri. Rencananya, jagung pinjaman itu akan dikembalikan Bulog saat jagung impor dari Brazil tiba di pelabuhan dalam waktu dekat. 

Mereka menyatakan bahwa Tulungagung dan Blitar akan mendapatkan alokasi 30.000 ton jagung impor, dari total 60.000 ton kuota untuk Jawa Timur. Tingginya alokasi jagung buat Bulog Sub Divre Tulungagung karena permintaan peternak yang sangat tinggi.

Hantam data (meme editan pribadi)
Hantam data (meme editan pribadi)
Sumber informasi Suryamalang.tribunnews.com 

Klaim surplus jagung yang terdengar seperti omong kosong itu, sebenarnya sudah pernah disampaikan oleh Bulog pusat, beberapa waktu lalu. Sekretaris Perum Bulog, Siti Kuwati mengungkapkan, adanya permintaan impor jagung melalui rapat koordinasi terbatas atau rakortas, menunjukkan tidak ada stok jagung. 

Siti Kuwati mengungkapkan hal itu untuk menanggapi pernyataan Menteri Pertanian, Amran Sulaiman yang menyatakan bahwa impor jagung ditujukan untuk cadangan stok di Bulog. Karena menurut Bulog, jika memang benar ada surplus jagung dan harganya sesuai dengan HPP (harga pembelian pemerintah) maka sudah pasti jagung dapat diserap oleh Bulog.

Sumber informasi Jawapos.com

Ogah berpolemik lebih lanjut, Bulog pun malas menanggapi klaim-klaim Mentan lebih lanjut. Lagipula Bulog lebih cerdas. Menurut mereka, urusan data pangan, merupakan wilayah otoritas Badan Pusat Statistik. Sehingga benar-tidaknya klaim Mentan mengenai surplus jagung, harus dikonfrontasi dengan data BPS.

Di tingkat pusat, Mentan boleh saja beradu retorika. Tapi di lapangan atau daerah, segala argumen atau alasan Mentan tidak bisa dipertanggungjawabkan. Lagi pula, yang dihadapi peternak di daerah bukanlah data, tapi fakta.

Pilih data BPS (meme editan pribadi)
Pilih data BPS (meme editan pribadi)

Mohon tunggu...

Lihat Konten Ekonomi Selengkapnya
Lihat Ekonomi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan