Humaniora

Cetak Sawah Jangan di Rawa

7 Desember 2018   17:37 Diperbarui: 7 Desember 2018   17:41 54 0 0
Cetak Sawah Jangan di Rawa
Ilustrasi rawa. Gambar disadur dari Harnas.co

Meningkatnya permintaan pangan, menuntut sektor pertanian kita meningkatkan produksinya. Bisa dengan intensifikasi, atau memperbanyak frekuensi penanaman atau mencari varietas padi yang bisa memproduksi lebih banyak. Atau bisa juga dengan cara ekstensifikasi, atau memperluas wilayah penanaman padi.

Rupanya cara terakhir ini yang dirasa paling menjanjikan oleh Kementerian Pertanian (Kementan). Sejak 2015 lalu, Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman meluncurkan program cetak sawah, yang nilai anggarannya hampir mencapai Rp4,1 triliun. 

Berselang tiga tahun berjalan, Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) malah melansir data yang berkebalikan. Alih-alih luas lahan pertanian kita bertambah, malah terjadi penyusutan. Jumlah sawah berkurang, karena terjadi alih fungsi lahan menjadi hunian, perkantoran, atau pabrik.

Sumber berita

Kementan juga sepertinya tidak mau kalah cepat dengan laju alih fungsi lahan. Tahun ini, Mentan Amran Sulaiman menggagas rencana cetak sawah dari lahan rawa.

Rencana ini terdengar sebagai terobosan. Tapi sebelum dilaksanakan, kontroversi sudah kadung bertebaran. Para pegiat lingkungan mengingatkan Kementan untuk menerapkan prinsip kehati-hatian dini, yang juga dikenal dalam UU Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Terutama lagi, belajar dari pengalaman terdahulu.

Karena pada 1995, Presiden Soeharto pernah punya program serupa. Yakni memanfaatkan lahan gambut untuk areal tanaman pangan. Itu diatur melalui Keppres No. 82 mengenai Proyek Pengembangan Lahan Gambut (PLG)

Tapi sayangnya, satu Juta Hektar di Kalimantan Tengah, tidak berakhir mulus, bahkan hampir setengah dari 15 ribu keluarga transmigran yang dahulu ditempatkan pada kawasan tersebut, meninggalkan lokasi.

Pemanfaatan lahan rawa tandasnya harus diletakkan secara hati-hati. Kemampuan ekosistem lahan gambut atau rawa, tidak bisa dipandang terpisah-pisah. Menurutnya, fungsi dan dampaknya terhadap ekosistem dan produksi pangan harus dipertimbangkan secara matang.

Pada zaman Soeharto itu, proyek lahan gambut satu juta hektar berakhir dengan kegagalan. Mungkin saat itu belum ada pihak yang sadar atau mengingatkan pemerintah bahwa Rawa gambut merupakan ekosistem esensial yang terbentuk jutaan tahun. Bukan hanya memiliki fungsi hidrologi, tetapi juga sebagai penyimpan karbon, jika rusak maka akan menyebabkan perubahan iklim. Dan pada akhirnya perubahan iklim akan berdampak pada produksi pertanian.

Berkaca dari pengalaman masa lalu itu, semoga kali ini upaya cetak sawah di lahan rawa, bisa terlaksana dengan penuh pertimbangan. Jangan sekadar kejar setoran, demi cetak sawah sebanyak dan seluas-luasnya.