Pemerintahan Pilihan

Mengapa Petani Sawit Tolak Program Kementan?

31 Desember 2018   15:54 Diperbarui: 31 Desember 2018   16:34 258 1 1
Mengapa Petani Sawit Tolak Program Kementan?
Petani Sawit (Adek Berry/AFP PHOTO)

Mencari nafkah adalah urusan yang tidak bisa ditunda-tunda. Ada perut yang harus diberi makan ketika kelaparan. 

Mungkin itu jadi alasan yang paling masuk akal mengapa petani sawit di Penajam Passer Utara, Kalimantan Timur, menolak meremajakan kebunnya. Mereka tidak mau menebang dan mengganti pohonnya dengan bibit sawit baru dari Kementerian Pertanian (Kementan). Padahal bibit itu diklaim lebih berkualitas dan lebih produktif menghasilkan.

Berdasarkan beberapa berita yang sudah beredar, sejumlah petani kelapa sawit yang ditemui di Penajam, ibu kota Kabupaten Penajam Paser Utara, mengaku tak berminat melakukan peremajaan kebun sawit, karena jika tanaman sawit mereka ditebang dan diganti dengan bibit yang baru, mesti menunggu 3 sampai 4 tahun untuk panen lagi. Dengan kata lain, tidak ada sumber pemasukan bagi mereka selama 3 atau 4 tahun ke depan.

Para petani sepertinya lebih rela mendapat hasil sawit yang lebih sedikit atau tidak seberapa, ketimbang tidak ada sama sekali.

Sumber:Koran Jakarta

Padahal, program dari Kementan akan memberikan peremajaan dengan cara bantuan Rp 25 juta per hektare melalui program replanting atau peremajaan kebun kelapa sawit. Program tersebut sudah disosialisasikan. Kementan juga sudah setuju menganggarkan bantuan untuk peremajaan kebun seluas 6000 hektare atau nilainya setara Rp 150 milyar.

Akan tetapi, program bantuan itu tidak berhasil memikat para petani. Karena sampai dengan saat ini, belum ada yang mengajukan peremajaan kebun kelapa sawit ke Dinas Pertanian setempat.

Mengacu pada data Dinas Pertanian setempat, lahan perkebunan kelapa sawit rakyat dan plasma di Kabupaten Penajam Paser Utara mencapai sekitar 17.000 hektare dengan jumlah petani sekitar 6.000 orang.

Di sinilah kita bisa melihat bahwa program yang bertujuan baik, seperti peremajaan tanaman, bisa gagal di level pelaksanaan. Para petani tidak bisa serta-merta diiming-imingi dengan potensi produktivitas sawit yang tinggi. Itu saja tidak cukup. Karena para petani ada benarnya, dengan apa mereka harus mencari nafkah selama sawit baru itu belum menghasilkan. 

Pihak Kementan sendiri juga tidak bisa langsung memblok anggaran bantuan hingga ratusan milyar, bila program yang mereka tawarkan itu belum memiliki solusi komprehensif.