Mohon tunggu...
Irma Nilta Muna
Irma Nilta Muna Mohon Tunggu... Guru - Guru Matematika Di SMP Negeri 9 Semarang

Terus bergerak dan menggerakkan

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Refleksi Modul 1.4 Budaya Positif

28 Januari 2022   23:53 Diperbarui: 29 Januari 2022   00:08 231 2 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Edukasi. Sumber ilustrasi: PEXELS/McElspeth

Puji Syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan umur panjang dan kesehatan kepada kita semua sehingga kita semua dapat mengikuti proses Pendidikan guru penggerak sampai pada tahapan ini, perjalanan yang masih panjang tentunya tetap memberikan semangat untuk terus bergerak dan menggerakkan dalam komunitas kita masing-masing. Banyak hal dan pengalaman yang luar biasa yang sudah kami peroleh dalam mengikuti perjalanan Pendidikan guru penggerak, materi-materi yang sangat bermanfaat dan bisa langsung diterapkan dalam Sekolah kami serta pengalaman-pengalaman dari teman CGP lain yang dapat diterapkan juga pada Sekolah saya.

Sesuai dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang definisi seorang pendidik, yaitu Pendidik hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya kekuatan kodrat anak. Anak bukan kertas kosong yang bisa digambar sesuai keinginan orang dewasa" Anak lahir dengan kekuatan kodrat yang masih samar-samar, tugas orang dewasa (orang tua, pendidik) menebalkan garis samar-samar agar dapat memperbaiki lakunya untuk menjadi manusia seutuhnya. Menebalkan laku anak dengan kekuatan konteks diri anak dan sosio-kultural.

Guru bukan sekedar berperan sebagai pembimbing dan perantara dalam pembelajaran, guru juga sebagai teman bagi siswa. Sesuai dengan konsep pendidikan yang di ibaratkan sawah sebagai tempat persemaian benih-benih. Dimana benih-benih tersebut harus diberikan perawatan yg tepat, pupuk yang tepat. Dan jangan sekali-kali berharap saat kita menanam jagung akan tumbuh padi. Begitu pula sebaliknya. Disini kita diajarkan bahwa anak harus bertumbuh kembang sesuai dengan potensinya masing-masing.

 Pada modul 1 ini para CGP juga diberi materi tentang bagaimana membangun budaya positif di Sekolah, maka sekolah perlu menyediakan lingkungan yang positif, aman, dan nyaman agar murid-murid mampu berpikir, bertindak, dan mencipta dengan merdeka, mandiri, dan bertanggung jawab. Salah satu strategi yang perlu ditinjau ulang adalah bentuk disiplin yang dijalankan selama ini di sekolah-sekolah kita. 

Seperti  paparan Dr. William Glasser dalam Control Theory, untuk meluruskan berapa miskonsepsi tentang kontrol diantaranya: Ilusi guru mengontrol murid, Ilusi bahwa semua penguatan positif efektif dan bermanfaat. Penguatan positif atau bujukan adalah bentuk-bentuk kontrol, Ilusi bahwa kritik dan membuat orang merasa bersalah dapat menguatkan karakter, Ilusi bahwa orang dewasa memiliki hak untuk memaksa.

Kemudian pada modul 1 juga CGP di perintah untuk membuat keyakinan kelas, dimana dengan membuat suatu keyakinan akan lebih memotivasi seseorang dari dalam, atau memotivasi secara intrinsik. Seseorang akan lebih tergerak dan bersemangat untuk menjalankan keyakinannya, daripada hanya sekedar mengikuti serangkaian peraturan. Murid-murid pun demikian, mereka perlu mendengarkan dan mendalami tentang suatu keyakinan, daripada hanya mendengarkan peraturan-peraturan yang mengatur mereka harus berlaku begini atau begitu.

Pada modul ini CGP juga mendapatkan materi tentang kebutuhan dasar manusia yaitu kebutuhan untuk bertahan hidup (survival), cinta dan kasih sayang (love and belonging), kebebasan (freedom), kesenangan (fun), dan kekuasaan (power). Ketika seorang murid melakukan suatu perbuatan yang bertentangan dengan nilai-nilai kebajikan, atau melanggar peraturan, hal itu sebenarnya dikarenakan mereka gagal memenuhi kebutuhan dasar mereka. 

Bila mereka tidak bisa mendapatkan kebutuhannya dengan cara yang positif, mereka akan mencoba mendapatkannya dengan cara yang negatif. Seorang murid yang tidak begitu berhasil secara akademik mungkin kebutuhannya akan kekuasaan tidak terpenuhi di sekolah. Oleh karena itu, mungkin dia akan mencoba untuk memenuhi kebutuhan kekuasaannya, dengan mencoba mengatur orang lain di lapangan bermain, atau bahkan menyakiti mereka secara fisik. Maka sebagai seorang guru, kita dapat melibatkannya dalam kegiatan yang memberi peluang murid tersebut membuat pencapaian yang berarti

Pada modul ini juga saya diajak untuk memahami lima posisi kontrol sebagai seorang guru. Menurut Dr. William Glasser tentang Teori Kontrolnya, Gossen berkesimpulan ada 5 posisi kontrol yang diterapkan seorang guru, orang tua ataupun atasan dalam melakukan kontrol. Kelima posisi kontrol tersebut adalah Penghukum, Pembuat Orang Merasa Bersalah, Teman, Monitor (Pemantau) dan Manajer. Seorang guru profesional akan berada pada posisi kontrol sebagai seorang Monitor dan Manajer.

Materi terakhir yang saya dapatkan pada modul ini adalah tentang memahami segitiga restitusi. Restitusi merupakan suatu usaha untuk menebus kesalahan, tetapi sebaiknya merupakan inisiatif dari murid yang melakukan kesalahan. 

Proses pemulihan akan terjadi bila ada keinginan dari murid yang berbuat salah untuk melakukan sesuatu yang menunjukkan rasa penyesalannya. Fokusnya tidak hanya pada mengurangi kerugian pada korban, tapi juga bagaimana menjadi orang yang lebih baik dan melakukan hal baik pada orang lain dengan kebaikan yang ada dalam diri kita. Pada modul ini CGP melakukan praktik segitiga restitusi di Sekolah masing-masing. Ini merupakan pengalaman yang luar biasa, karena dari sinilah sebagai seorang guru saya mengetahui bagaimana menyelesaikan masalah dengan tepat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Edukasi Selengkapnya
Lihat Edukasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan