Mohon tunggu...
Iriany Hasan
Iriany Hasan Mohon Tunggu... Guru - Guru Kimia SMAN 2 Kota Ternate juga Duta Rumah Belajar Kemdikbud

kimia

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Guru Merdeka Belajar Itu Melek IT

8 Februari 2020   12:25 Diperbarui: 8 Februari 2020   12:25 266
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Pembelajaran abad 21 dicirikan dengan arus informasi yang begitu cepat.Arus digitalisasi dengan  perkembangan teknologi yang begitu hebat akan mendukung elemen pelaku pendidikan. Selain itu potensi revolusi 4.0 yang merambah dunia pendidikan meliputi: cloud computing, kecerdasan buatan, internet of thinks, teknologi 5.0, Big data  menjadikan guru harus menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Pembelajar sepanjang hayat mengimpelementasikan kebiasaan belajar secara berkesinambungan (continuing learning). Seseorang yang terus belajar akan terus memperbaharui pengetahuan dan  kompetensi diri serta  tidak akan ketinggalan  zaman.

Belajar sepanjang hayat juga memiliki prinsip-prinsip yang memberikan arah  dalam mengembangkan pelaku pembelajar. Pendidikan akan mendorong seseorang untuk terus belajar hingga tutup usia. Selain itu belajar sepanjang hayat akan mendorong kita berperan dan merencanakan kegiatan belajar secara terorganisir dan sistematis. Ada enam kunci pembelajaran sepanjang hayat adalah : komunikasi, kolaborasi, kreativitas, berpikir kritis, percaya diri dan Choice.

Awal tahun 2020 ini pemerintah mendorong banyak program berbasis teknologi digital sejalan dengan pemerintah tengah membangun infrastruktur digital . Kebijakan pemerintah ini dilakukan karena pendidikan merupakan kunci untuk membangun masyarakat cerdas dan sejahtera. Untuk hal tersebut guru dituntut harus menjadi garda terdepan untuk menyajikan pendidikan bermutu.

Untuk mencapai pembelajaran yang bermutu maka unit pendidikan harus memiliki kebebasan untuk berkreasi dan berinovasi.Selain itu guru juga harus berani mengambil tindakan-tindakan tanpa disuruh atau diperintah untuk melakukan yang terbaik demi kemajuan mutu belajar siswanya. Namun di sisi lain kondisi tantangan pendidikan 4.0 yang kita hadapi adalah masih terjadi : 

1) kesenjangan kebutuhan konten pembelajaran dan media bahan ajar guru ( Konten gap); 

2) kesenjangan kompetensi TIK guru baru 40% ( Komptensi guru gap); 

3) Kesenjangan generasi antara siswa, guru dan orang tua ( Teknologi guru gap) serta 

4) Kesenjangan kondisi geografis sehingga akses sumber belajar antar wilayah belum merata (Geografis gap).

Tantangan pendidikan 4.0 ini juga berlaku bagi kami guru di wilayah Indonesia Timur . Persoalan pendidikan di daerah timur bukan hanya karena memiliki kategori daerah tertinggal terbesar di Indonesia (84,43%) namun juga terkait akses  dan minimnya sarana prasarana dan juga masih minimnya jumlah dan kompetensi  guru utamanya kemampuan TIK.

Terdorong karena keinginan untuk mengupdate diri, sebagai guru saya merasakan sendiri bahwa era revolusi 4.0 ini sangat membawa dampak perubahan besar kepada akses guru dalam proses pembelajaran, pola dan trend, serta hubungan sosial antara orang tua, siswa dan guru. Kemampuan TIK menjadi hal wajib yang harus dimiliki guru jika ingin membawa perubahan di dalam kelasnya yang konvensional.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun