Mohon tunggu...
Irfan Suparman
Irfan Suparman Mohon Tunggu... Penulis - Fresh Graduate of International Law

Seorang lulusan Hukum yang hobi membaca dan menulis. Topik yang biasa ditulis biasanya tentang Hukum, Politik, Ekonomi, Sains, Filsafat, Seni dan Sastra.

Selanjutnya

Tutup

Diary Pilihan

Pesan di Balik Awan, Sebuah Renungan dari Adhitya Sofyan

30 Desember 2021   12:42 Diperbarui: 30 Desember 2021   14:56 1196
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Pesan di Balik Awan, sebuah renungan dari interpretasi lagu Adhitya Sofyan. Pixabay.com/Pcdazero

Pesan di Balik Awan, Sebuah Renungan dari Adhitya Sofyan

Hari ini aku akan memulai menulis tentang hal-hal yang aku suka. Entah mengapa aku jadi ingin menulisnya. Aku juga tidak peduli apakah tulisan ini akan ada yang membaca. Sebisa mungkin aku menulis dengan gayaku dan bahasa aku sendiri. Menggunakan kata "aku" sebagai bentuk aku menulisnya dalam keadaan sangat sadar. Aku berjanji sesuai kata ku di awal, kalau aku hanya akan menulis hal yang aku suka. Itu artinya tidak akan ada yang menyedihkan, meski sedikit sekali hal yang aku suka di dunia ini. Satu hal yang ingin aku tegaskan, aku tidak peduli seberapa lama tulisan ini mengudara.

Tulisan ini akan dimulai di suatu pagi, tepatnya pukul 11 pagi di bulan Desember. Akhir bulan Desember tahun 2021. Apa yang dapat diharapkan dari cerita seorang manusia di akhir bulan Desember. Sekali waktu mungkin cerita tentang bagaimana menyusun harapan untuk di unggah di sosial media, kemudian aku berpikir untuk apa hal itu dilakukan. Bukankah harapan lebih baik disimpan untuk diri sendiri, tapi bukan itu yang ingin aku tulis. Sebuah pagi yang biasa, mandi dan segala pertikaiannya. Saat pertikaian itu sudah reda, aku mendengarkan lagu Adhitya Sofyan berjudul Pesan di Balik Awan.

Lagu tersebut begitu puitik sehingga aku harus terus-terusan mendengarnya. Aku sudah tidak peduli dengan jenis lagu apa yang dimainkan seorang musisi. Selama musik itu dapat dinikmati dan menyejukan jiwa-jiwa yang muram, aku kira kita tidak usah memperdebatkan jenis apa. Seperti liriknya yang puitik itu, tidak perlu rasanya menerjemahkan ke manusia lain tentang makna puisinya.

Aku masih beranggapan bahwa lagu adalah puisi yang dinyanyikan. Terkadang aku tidak setuju dengan para sastrawan yang mengkotak-kotakan puisi. Apalagi belum lama ini ada seorang sastrawan ingin membuat sebuah gebrakan puisi Post-Kontemporer. Sungguh aku bingung, apa yang dia maksud. Jujur saja, aku benci dengan puisi-puisi yang tidak indah. Maksudnya kata-kata indah bukan hanya kata yang adi luhung, tapi juga bisa yang berbentuk derita. Aku hanya memikirkan bagaimana puisi bisa diinterpretasikan sejadi-jadinya makna yang berguna bagi kehidupan. Setidaknya memotivasi diri untuk menulis.

Menulis bukanlah kegiatan yang sering aku lakukan. Hanya karena pagi ini aku mendengarkan lagu Pesan di Balik Awan itu semuanya entah ingin aku tuliskan. Aku sangat suka lirik dan nadanya. Bicara begini bukan bermaksud untuk menjadi seorang analis musik atau lirik lagu. Ini murni tanpa ada unsur keterpaksaan, jujur aku sangat suka dan bersemangat ketika mendengarkan lagu ini. Entah bagaimana otak bisa merespon musik sehingga aku benar-benar bersemangat.

Saat mendengarkan musik ini, yang aku bayangkan adalah sebuah perjalan. Entah mengapa aku langsung memikirkan sebuah perjalanan yang jauh. Ditambah perjalanan jauh, aku harus kembali merasakan sesuatu yang kosong. Mungkin (ini hanya analisis gembelku saja) ketika otak merespon kata "Awan" ada sesuatu yang sering aku lakukan ketika aku sedang berjalan.

Ketika kecil aku sering memperhatikan langit saat dalam perjalanan. Langit yang banyak awannya. Aku perhatikan awan-awan itu. Yang aku pikirkan saat itu adalah awan selalu mengikuti langkahku. Awan yang sama selalu mengikuti aku. Saat aku diam, awan itu pergi perlahan ke entah mana. Mungkin itulah yang membuatku membayangkan perjalanan ketika lagu Adhitya Sofyan ini mengaung di telinga.

Sungkem untuk Adhitya Sofyan karena telah menciptakan lagu sebagus ini. Ada sebuah lirik yang aku sangat suka dalam lagu ini. Biar ku kutip setelah ini. Bagiku liriknya sungguh membuatku merasa kosong dan lemah.

Terbisikkan dalam diam

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Diary Selengkapnya
Lihat Diary Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun