Mohon tunggu...
Irene Cynthia Hadi
Irene Cynthia Hadi Mohon Tunggu... Jurnalis

Just an ordinary girl from Surakarta, who writes perfect moments at the perfect time...

Selanjutnya

Tutup

Diary Pilihan

Sebersit Luka yang (Tak Lagi) Menganga

19 April 2021   16:55 Diperbarui: 19 April 2021   17:46 94 5 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Sebersit Luka yang (Tak Lagi) Menganga
Ilustrasi gadis menangis (Freepik)

Masa SMA adalah masa terindah....

Begitu kata sebagian orang. Dalam berbagai drama dan sinetron, masa SMA selalu digambarkan sebagai sesuatu yang indah. Ya, di SMA, remaja mulai saling jatuh cinta, murid-murid menikmati masa-masa bahagianya bersama teman-teman sebaya sebelum masuk ke bangku kuliah.

Namun, bukan itu yang aku rasakan. Kisahku di masa SMA begitu pahit, sepahit kopi tanpa sedikit pun tambahan gula di dalamnya. Tepatnya 10 tahun lalu, kisah itu dimulai.

Seperti halnya remaja biasa, aku hanya ingin menikmati masa SMA. Orang bilang, masa ini hanya akan terjadi sekali seumur hidup. Oleh karenanya, aku sangat antusias saat memasuki SMA.

Namun di satu sisi, jauh di lubuk hatiku, ada perasaan takut yang tersirat. Ya, dibully. Aku tahu bahwa sejak dulu aku kesulitan beradaptasi dengan lingkungan baru. Aku juga seorang remaja yang pendiam dan sulit mengungkapkan isi hatiku. Oleh sebab itulah, tak banyak teman maupun sahabat dekat yang aku miliki selama duduk di bangku SD hingga kuliah dan akhirnya bekerja.

Out of the world, kadang itulah yang aku rasakan saat berada di dalam sebuah komunitas yang tak sefrekuensi denganku. Itupun yang aku rasakan saat memasuki kelas 10 di SMA.

Selama setahun itu, dunia terasa runtuh bagiku. Bullying yang tadinya hanya menjadi sebuah ketakutan dalam pikiranku, akhirnya benar-benar menjadi nyata. 

Dalam sekejap, aku tak punya teman lagi di kelas. Aku merasa marah sepanjang waktu saat dibully, risih dengan ocehan-ocehan dan ejekan yang dilontarkan kepadaku dan kepada teman-teman sekelasku yang juga menjadi korban bullying. Bukan ejekan biasa tapi sudah masuk ke ranah privasi. Sesuatu yang mengganggu kinerjaku selama menjadi murid di SMA saat itu.

Pada satu waktu, akhirnya aku benar-benar tidak tahan. Bak bom yang siap meledak setelah disimpan lama, aku marah kepada seisi kelas. "Bodo amat, mau aku dikeluarin atau nggak mah aku nggak peduli," pikirku saat itu. Emosi sesaat itu menimbulkan kekagetan dari seluruh teman kelasku. Mungkin aku pun sudah dianggap gila oleh beberapa di antara mereka karena tingkahku itu.

Bukan hanya itu saja, aku pun harus menerima getahnya karena dipanggil guru BK. Di satu sisi, aku sudah siap jika memang harus dikeluarkan dari sekolah. Namun di sisi lain, aku merasa kasihan kepada orang tuaku yang banting tulang membayar sekolahku yang mahal.

Ilustrasi wanita menangis (Unsplash/ KatJ)
Ilustrasi wanita menangis (Unsplash/ KatJ)
Syukurlah, masalah itu selesai di ruang BK. Meskipun begitu, trauma akan bullying kerap menghantuiku selama 5 tahun berikutnya. Luka dan rasa sakit itu tak bisa pergi begitu saja. Setiap kali mengingat momen-momen itu, hatiku sakit. Dan setiap kali aku melihat atau pun mendengar kisah SMA teman-temanku yang lain, aku merasa tak adil.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN