Mohon tunggu...
Irawati msaiful
Irawati msaiful Mohon Tunggu... Be a hero

Mahasiswa program studi teknik pertambangan universitas khairun ternate

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan

Dampak Kegiatan Penambangan Ilegal di Hutan Amazon

10 November 2019   22:38 Diperbarui: 10 November 2019   22:34 0 0 0 Mohon Tunggu...

Di kutip dari Liputan6.com, Brasilia Hutan hujan Amazon perlahan mulai menyusut pada tingkat yang mengkhawatirkan. Ini disebabkan oleh kebakaran hebat yang terjadi sejak akhir Agustus kemarin. Saat ini, hutan di kawasan Amazon kehilangan lahan yang luasnya setara dengan satu lapangan sepakbola setiap menit. 

Kebakaran, penggundulan, dan pemanasan global telah menghancurkan hutan yang menjadi paru-paru dunia tersebut. Wilayah Amazon Brasil saat ini sedang mengalami musim kemarau, tetapi para ahli mencatat bahwa tahun 2019 lebih basah dari tahun-tahun sebelumnya. Para ahli itu juga menekankan bahwa tidak ada kebakaran alami di Amazon. Kebakaran yang meluas tersebut diduga terjadi karena adanya konsekuensi dramatis dan meluasnya deforestasi.

.  Dikutip dari CNN Indonesia deforestasi untuk pertanian adalah salah satu ancaman paling serius terhadap hutan hujan dan merupakan masalah yang ada di Bolivia, Brasil, Kolombia, Ekuador, Guyana Prancis, Guyana, Peru, Suriname, dan Venezuela. Petani Brazil, Peru, Ekuador dan Bolivia umumnya membakar di musim kemarau untuk membersihkan semak belukar di daerah yang gundul. Namun, ini sering mengarah pada pembakaran yang tidak terkendali, yang memakan korban lebih besar di hutan hujan amazon.

Banyak para pecinta lingkungan yang kecewa dengan Pemerintah Bolivia karena baru-baru ini memberi wewenang kepada para petani untuk membakar 20 hektare (ha) atau lebih luas dari biasanya, yaitu 5 ha . Hal itu diyakini telah berkontribusi pada ribuan kebakaran hutan yang menghancurkan 1,2 juta ha padang rumput dan hutan sejak Mei. Menurut data PBB, tanaman ilegal juga mengurangi hutan hujan, seperti budidaya coca Kolombia, yang meliputi sekitar 170 ribu ha.

Kerusakan yang signifikan juga dilakukan oleh operasi penambangan ilegal, yang diperparah dengan penggunaan bahan kimia, seperti merkuri, terutama di wilayah pertambangan emas, yang mencemari tanah dan aliran air. BBC News Brasil lantas bekerja sama dengan Planet Labs, sebuah perusahaan Amerika Serikat yang memiliki lebih dari 100 satelit di orbit Bumi dan menyediakan foto-foto permukaan Bumi secara harian. Perusahaan itu menganalisis kegiatan penambangan ilegal di tiga cagar alam suku pedalaman yang paling terpapar oleh pencarian emas secara diam-diam, yakni Kayap dan Munduruku (di negara bagian Para) serta Yanomami (di negara bagian Roraima dan Amazonas).

Ketiga lokasi membentang di area seluas 248.000 kilometer per segi lebih luas dari Inggris. Kawasan itu mencakup sejumlah bagian hutan Amazon Brasil yang pelestariannya paling baik.

Aktivitas penambangan menimbulkan 'sayatan-sayatan' di hutan. (Planet Labs)

Foto di atas menampilkan penambahan jumlah 'titik' yang menandakan keberadaan penambang. Mereka menyebar baik di lokasi tambang tuayang diciptakan 10 tahun lalu maupun di lokasi baru. Dua pakar foto satelit, ahli geologi Carlos Souza Jr dan ahli geografi Marcos Reis Rosa memastikan foto di atas menunjukkan perluasan area tambang. Beberapa lokasi menduduki area seluas 10 lapangan sepakbola yang disatukan. BBC telah menghubungi Kementerian Lingkungan, Kepolisian Federal, dan Funai (badan nasional perlindungan suku pedalaman), tapi mereka sejauh ini belum memberikan tanggapan.

Dilansir dari Detiknews di Roraim, emas merupakan produk kedua yang paling banyak diekspor. Akan tetapi, negara bagian itu tidak punya satupun tambang yang terdaftar secara sah di pemerintah.

Kegiatan penambangan di lahan suku pedalaman masih tergolong ilegal. (Ibama)

Tidak ada tambang emas yang terdaftar secara resmi di Roraima, namun logam mulia adalah barang ekspor terbesar kedua dari negara bagian itu. (Getty Images) Guajajara mengklaim pernyataan presiden yang membela penambangan di tanah suku pedalaman menjadi pendorong kegiatan itu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2