Irawan
Irawan karyawan swasta

Pelahap informasi...

Selanjutnya

Tutup

Jalan Jalan

Pulau Samalona; Pengalaman Rekreasi Berenang dan Menyelam

11 Desember 2013   12:15 Diperbarui: 24 Juni 2015   04:04 801 4 4
Pulau Samalona; Pengalaman Rekreasi Berenang dan Menyelam
1386833870366425075

Photo by Adi Kristanto on Flickr

Minggu lalu saya harus melakukan perjalanan dinas ke cabang perusahaan di Makassar.  Setelah beberapa hari bekerja keras membanting tulang, tibalah saatnya kembali ke Jakarta. Namun tuan rumah, sang kepala cabang, rupanya punya rencana lain. Beliau menawarkan saya untuk menambah satu hari lagi di sana, yang kebetulan hari libur juga, yang akan dihabiskan untuk refreshing. "Bapak mau berenang di pantai berpasir putih dan mengamati terumbu karang?," demikian tuan rumah menawarkan. "Lho, memang ada pantai di Makassar yang cocok untuk berenang dan menyelam?," jawab saya. Saya heran karena setahu saya  memang Makassar merupakan kota pelabuhan yang cukup besar dan padat, sehingga tidak ada sisi pantai di kota tersebut yang layak dijadikan tempat berenang, apalagi menyelam ke terumbu karang segala. Pantai Losari yang terkenal itu juga hanya dijadikan tempat pemandangan laut saja, tidak ada orang berenang di sana. Pantai yang lain, Akkarena, walaupun berpasir hanya cocok untuk tempat bermain bersama anak-anak. "Ya gak lah Pak, tentu tidak di Makassar, kita akan pergi ke suatu pulau kecil, namanya Pulau Samalona," demikian tuan rumah menjawab sambil tersenyum simpul. " Bapak dijamin bakal betah dan pasti suka," demikian janjinya. Saya pun tertarik dan menurut ajakan tuan rumah. Esoknya pagi-pagi sekitar pukul 07.00 kami berangkat ke pelabuhan penyeberangan yang terletak di samping Pantai Losari. Sebelumnya kami sudah menyiapkan segala sesuatunya termasuk pakaian renang, baju ganti, dan bekal berupa snack dan minuman. Untuk makan siangnya nanti, pagi itu juga kami membeli beberapa ikan kembung (Rastrelliger) berukuran besar di pasar ikan, yang rencananya akan dimasak di pulau nanti. [caption id="attachment_317586" align="aligncenter" width="415" caption="Ikan Kembung (Rastrelliger) / Foto : Wikipedia Commons"]

13904158446299933
13904158446299933
[/caption] "Di sana hanya ada sedikit warung, jadi sebaiknya kita siapkan semuanya dari sini," demikian tuan rumah menginformasikan." Ikan memang ada, tapi gak tentu jumlahnya dan kadang ukurannya kecil-kecil sekali." Sesampainya di pelabuhan, mobil terpaksa diparkir di area luar pelabuhan yaitu di samping ruko-ruko sekitarnya, karena mobil tidak bisa masuk, hanya ada parkir motor saja di dalam. Baru turun dari mobil, kami sudah diserbu oleh beberapa operator perahu penyeberangan. Kami memilih sebuah perahu, dan setelah negosiasikami mendapatkan harga sewa Rp. 350 ribu untuk perjalanan pulang-pergi ke pulau Samalona. Perahunya kecil sekali, seperti perahu nelayan tradisional penangkap ikan yang dialihfungsikan untuk penumpang. Kalau dihitung, hanya bisa memuat maksimal 8 orang saja. "Tadinya kalau ada tanda-tanda mau hujan, perjalanan ini akan dibatalkan, soalnya berbahaya, lihat kan perahu seperti ini tidak bisa dipakai dalam kondisi ombak besar," kata tuan rumah di atas perahu. Saya manggut-mangut saja, sebenarnya ukuran perahu tidak masalah, karena sewaktu kecil saya sudah biasa naik sampan yang hanya muat dua orang, . Ketika lepas dari pelabuhan Makassar, ternyata perahu tidak langsung ke tempat tujuan, tapi mampir dulu ke satu pulau yang namanya Pulau Lae-Lae, sekitar 5 menit perjalanan, ternyata untuk beli bahan bakar. Tukang perahu turun di pantai, sedang kami ditinggal di perahu. Melihat-lihat kiri kanan, saya terkesan juga lihat pulau kecil ini, ternyata begitu padat penduduknya.
13867537481126364159
13867537481126364159
Pulau Lae-Lae ini cukup unik,  luasnya hanya 11 ha dan dihuni oleh 420 keluarga atau sekitar 1780 jiwa, umumnya sebagai pelaut dan nelayan. Karena letak geografisnya, seperti terlihat pada gambar di atas, pulau ini dan gugusan karangnya menjadi semacam pelindung alami bagi pelabuhan Makassar. Dapat dilihat bahwa salah satu sudutnya dipanjangkan menjadi dinding pelindung pelabuhan. Kami kemudian melanjutkan perjalanan kembali, keluar dari wilayah pelabuhan Makassar dan menuju laut lepas. Sekitar 45 kemudian, kami pun sampai di Pulau Samalona.
1386838806483152241
1386838806483152241
Pandangan pertama terhadap pulau tersebut menimbulkan kesan mendalam, pulau ini terlihat kecil sekali di tengah lautan biru. Air laut di pantainya begitu jernih, sehingga terlihat jelas terumbu karang dengan ikan-ikannya. Pasirnya juga pasir putih, terasa enak diinjak. Di pulau ini ada guest house, warung, kamar mandi, dan beberapa rumah penduduk setempat yang berupa rumah panggung. Pulau ini berbentuk oval, dan kira-kira hanya berukuran 300 x 600 meter saja. Kami pun turun dan menuju sebuah guest house. Walau rencananya tidak lama hanya setengah hari berada di pulau, namun kami memutuskan menyewa sebuah kamar di guest house tersebut demi kenyamanan dan keamanan saja. Tarifnya Rp. 200 ribu sehari. Kami pun masuk kamar dan bergegas bersalin dengan pakaian renang. Ikan Kembung yang dibawa kami serahkan ke pengurus guest house dengan pesan untuk dimasak sebagai ikan bakar untuk makan siang, sekalian pesan nasi dan sayur kalau ada. Untuk keperluan menyelam dengan snorkeling, kami menyewa peralatannya yang dihitung Rp. 50rb per set per hari. Pulau ini begitu kecil, sehingga hanya memerlukan waktu beberapa puluh menit untuk berjalan kaki mengitari pantainya. Dengan menggunakan snorkeling, kami pun berenang dan menyelam mengagumi pemandangan bawah air lautnya.Karena tidak sempat foto-foto, maklum badan basah takut resiko membawa hape, jadi ini saya ambil saja dari Detiktravel dan Flickr.com, sebagai gambaran bagi pembaca.
13867411881555932870
13867411881555932870
1386835482231856547
1386835482231856547
13867412471593730499
13867412471593730499
Karena dangkal, terumbu karangnya cukup dinikmati dengan cara mengapungkan badan di garis permukaan laut tanpa perlu diving. Airnya jernih dan hangat, pemandangan bawah laut terlihat jelas. Terlihat ikan-ikan laut berwarna-warni di sekitar karang. Ada juga kerang laut. Beberapa yang terlihat misalnya ikan napaleon, ikan badut, ikan kerapu, bahkan ada gerombolan teri kecil. Hanya harus agak hati-hati karena sering ada bulu babi, dengan durinya yang hitam panjang, kebayang kalau tertusuk di kaki pasti dahsyat sakitnya.
1386747018696130580
1386747018696130580
1386827506886987321
1386827506886987321
Bagian utara pantai pulau, yang tidak digunakan untuk tempat bertambatnya perahu, adalah tempat terbaik untuk menyelam dan mengamati terumbu karang. Sementara jika hanya untuk berenang, bisa di sisi utara di pantai berpasir sebelahan dengan lokasi tambatan perahu. Saya tak bosan-bosannya berenang dan menyelam, di beberapa lokasi sekitar pulau. Diselingi beristirahat sejenak, makan snack dan minum, kemudian melanjutkan berenang dan menyelam.  Sungguh menyenangkan dan membuat badan dan pikiran menjadi santai, bisa menghilangkan stress akibat tekanan pekerjaan. Selain kami, banyak juga pengunjung lainnya, bahkan ada sekelompok orang bule. Kemudian sekitar menjelang siang, datang segerombolan orang menggunakan beberapa kendaraan jenis jetski. Mereka singgah beberapa menit, lalu melanjutkan perjalanan entah ke mana, mungkin pulau lainnya. Sekitar tengah hari, kami makan siang dengan nasi lauk ikan bakar.  Nikmat sekali, badan yang kelelalahan karena berenang dan menyelam, mendapat asupan lauk segar seperti itu. Kami sempat berbelanja di warung setempat karena kekurangan sesuatu. Setelah berbelanja, kami merasa beruntung sekali sudah membawa bekal dari kota, karena harga barang di pulau kecil ini mahal sekali, hampir 75% lebih mahal dibanding biasanya. Walau bisa dimaklumi, mengingat lokasinya yang sangat terpencil. Setelah itu kami bersih-bersih, dan bersiap-siap untuk kembali ke Kota Makassar. Pengalaman bersantai di Pulau Samalona ini begitu mengesankan, dan saya mungkin akan kembali lagi nanti. Mudah-mudahan bakal ditugasin lagi ke cabang Makassar...