Edukasi Pilihan

Lihat Kesiapan Anak, Bukan Orang Tua

9 November 2018   00:44 Diperbarui: 9 November 2018   11:25 254 0 0

Seringkali saya mendengar, bahkan melihat sendiri fenomena "Orangtua Paksa Anak Sekolah" demi memuaskan hasrat dan pembenaran pemikirian mereka sendiri (pribadi). 

Bagaimana tidak saya sebut begitu, jika memang faktanya kebanyakan orangtua menyekolahkan anak-anak mereka pada usia belum cukup umur, dengan alasan-alasan yang tidak masuk akal, yang sebenarnya hanya bisa dibenarkan lewat nalar pikiran orang dewasa, bukan anak kecil.

Contohnya saja tadi pagi, saat saya sedang asyik bermain dengan si kecil ponakan saya, saya ajak dia mengobrol, belajar menyebut nama, benda, dan kata-kata yang mudah, tiba-tiba ibunya nyeletuk "adek abis ini mondok te, kalau udah umur 5 tahun" reflek saya menoleh tidak yakin, "biar apa mbak?" tanya saya, "biar bisa hafal al-qur'an" jawabnya.

Saya mulai mengingat-ingat kembali, tentang bagaimana rasanya dipaksa dan ditekan untuk melakukan sesuatu yang -mungkin walaupun sedikit mampu untuk- bertahan, saya merasa sangat tertekan, dan akibatnya hingga sekarang sedang saya rasakan dan bismillah bi idznillah akan saya coba ubah sedikit demi sedikit.

Seseorang bahkan anak kecil itu, melakukan sesuatu harus dari hatinya, atau harus benar-benar siap untuk mengalami hal tersebut, mungkin dengan cara memaksa, atau menekan anak bisa berhasil, tapi itu masih mungkin, dengan beberapa catatan psikologis dirinya terganggu atau bahkan ia bisa mengalami depresi atau stress yang kita sebagai orang tua tidak tau, bisa jadi hal tersebut berdampak buruk pada anak, seperti perasaan kurang percaya diri, pribadi tertutup, tidak berani berpendapat, dan sebagainya.

Tidak, saya tidak menentang orang tua meminta anak untuk menghafal al-qur'an atau melakukan hal baik lainnya, hal baik tetaplah hal baik. Tapi lakukan dalam porsinya masing-masing. 

Jika anak dirasa belum siap melakukan hal tersebut, jangan paksa dan jangan tekan anak untuk melakukannya. Toh jika dipaksa dan anak tidak mau, tidak akan mendapat hasil apa-apa. Dan hanya akan membuat mental dan psikologis anak terganggu. 

Jika dirasa anak sudah benar-benar matang menghadapi situasi, dan siap menjalani, barulah orang tua bisa melepas si kecil. Tapi jika tidak, apalagi di umur sedini itu, dimana anak masih butuh bimbingan dan kasih sayang ekstra dari orang tua, jangan paksa mereka untuk melakukan sesuatu yang tidak ingin mereka lakukan.

Kemarin juga saya pernah mendengar dosen saya bercerita tentang betapa sibuk orang tua jaman sekarang mencari buku kiat-kiat belajar jitu agar bisa masuk ke sekolah favorit, lalu orang tua akan memaksa anak untuk terus belajar, bahkan tak segan menghilangkan waktu main mereka demi bisa menamatkan buku yang mereka beli. 

Mari kita pikirkan lagi, jika si anak memang berhasil masuk di sekolah berlabel favorit namun mereka merasa tidak cocok dengan sekolah tersebut, apa yang akan mereka alami? Apakah prestasi dan pribadi mereka akan menjadi lebih baik, atau sebaliknya?

Untuk itu, penting sekali bagi kita, calon guru dan orang tua untuk memikirkan kematangan diri dan pribadi yang dimiliki oleh seorang anak dalam menghadapi dunia dan lingkungan baru mereka. 

Jangan kesusu atau terburu-buru melihat mereka segera menjadi orang, jika memang belum siap, biarkan saja. Biarkan mereka melewati "golden age" mereka dengan sempurna dan menyenangkan. 

Biarkan anak melewati masa tumbuh kembangnya sesuai dengan apa yang umumnya dilalui oleh anak seusianya lakukan. Berikan  semua sesuai dengan kebutuhan si kecil, bukan kebutuhan orang tua. Sekali lagi, lihat kesiapan anak, bukan orang tua.