Mohon tunggu...
Iqbal Tawakal
Iqbal Tawakal Mohon Tunggu... Jakarta

Artikel baru, setiap Rabu dan Sabtu. Lihat artikel lainnya di bit.ly/iqbalkompasiana

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Pandemi Berlanjut, Kaum Jomblo Kalang Kabut

21 November 2020   08:49 Diperbarui: 21 November 2020   09:03 117 7 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Pandemi Berlanjut, Kaum Jomblo Kalang Kabut
Foto oleh Tirachard Kumtanom dari Pexels

Oke, kalang kabut mungkin agak overstatement ya. Tapi, bisa jadi lho. Setelah delapan bulan pandemi, kehidupan kita memang banyak berubah. Everything's slowing down. Termasuk di dalamnya hubungan asmara yang sekarang jadi mandek.

Kok bisa? Begini.

Minggu lalu, saya sempat reconnect dengan sejumlah kawan lama. Ada yang sudah menikah, ada pasangan yang berencana akan menikah, ada juga yang masih jomblo. Salah satu di antara mereka sudah berpacaran hampir lima tahun sejak tingkat akhir kuliah sarjana. Saya tak begitu mengikuti bagaimana cerita mereka berdua, yang pasti hubungannya masih awet sampai sekarang. Dan yang laki-laki, teman saya ini, memang berencana akan melangsungkan pernikahan di medio 2020 lalu dengan pasangannya.

Semua berubah ketika pandemi menyerang.

Rencana-rencana yang telah disusun pun, bagi sebagian orang, termasuk Ia dan pasangannya berada di persimpangan. Beberapa faktor, seperti beban pekerjaan, intensitas bertemu, dan gaya komunikasi menjadi tiga hal yang secara radikal mengubah pola pikir mereka. Beban pekerjaan yang kian tinggi di masa pandemi, harus diseimbangkan dengan gaya komunikasi yang baru karena intensitas bertemu jadi tak tentu. Dari segala dinamika yang terjadi, akhirnya, keduanya menunda sementara rencana semula. Tampaknya, pandemic brings out the best and the worst in people.

Kaum Jomblo Sulit Melepas Lajang

Tak hanya pasangan muda, kaum lajang pun terkena imbasnya. Ketika bersosialisasi jadi sangat rentan terhadap penularan virus, kesempatan para lajang untuk bertemu lebih banyak orang dan menambah angka pertemanan di hidupnya pun menurun drastis. Singkat kata, mencari pasangan akan semakin sulit.

Dulu, peluang kita bertemu orang-orang baru begitu tinggi. Kita bekerja, belajar, beribadah di luar rumah. Kita pergi ke kampus, kantor, sekolah, rumah-rumah ibadah, mendatangi kelas dan seminar publik, melakukan aktivitas sosial di akhir pekan, dan nongkrong di cafe untuk bersosialisasi dengan orang lain. Dari sana, kans kita untuk berkenalan dengan orang baru sangat terbuka.

Kini, semua hal tadi justru akan membahayakan kita dan keluarga di rumah. Sosialisasi langsung dan tatap muka dipandang sebagai faktor risiko. Artinya, generasi pandemi tak punya kesempatan yang sama dengan generasi-generasi sebelumnya. Mungkin saja, masa lajang generasi pandemi lebih lama ketimbang generasi sebelumnya, karena pernikahan yang tertunda atau bahkan tak menikah sama sekali. Lingkup pergaulan kian eksklusif. Lingkar pertemanan semakin kecil. Cari pasangan susah. Kencannya apalagi.

Banyak alternatif dicoba, termasuk dengan menggunakan dating apps populer untuk memperluas pertemanan. Namun, penggunaan dating apps dan media sosial pun  bukan tanpa risiko. Kasus-kasus seperti penipuan, kekerasan, pelecehan seksual, revenge porn, yang tak jarang juga berujung maut acap kali kita jumpai dan bisa saja terjadi pada kita dan keluarga jika kurang waspada.

Selain itu, untuk masuk ke jenjang selanjutnya, interaksi maya saja tak cukup. Hal-hal lain seperti quality time, act of service, hingga physical touch juga sangat penting untuk membangun ikatan emosional yang kuat (lihat Five Love Languages).  Dan ikatan ini tak terbentuk dalam waktu singkat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x