Mohon tunggu...
M. Iqbal
M. Iqbal Mohon Tunggu... Part Time Writer and Blogger

Pengamat dan pelempar opini dalam sudut pandang berbeda. Bisa ditemui di http://www.lupadaratan.com/ segala kritik dan saran bisa disampaikan di m.iqball@outlook.com. Terima kasih atas kunjungannya.

Selanjutnya

Tutup

Teknologi Pilihan

Wujud Masa Depan pada Baterai Lithium Ion

27 November 2019   19:39 Diperbarui: 27 November 2019   19:52 349 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Wujud Masa Depan pada Baterai Lithium Ion
www.nobelprize.org

Tepuk tangan pecah saat pengumuman Nobel Kimia 2019 menyebutkan nama tiga ilmuwan John Goodenough, Stanley Whittingham, dan Akira Yoshino. Berkat penemuan, pengembangan, dan penerapan baterai lithium-ion seakan mengubah cara manusia dalam  menggunakan energi. Ganjaran piagam Nobel Kimia dan hadiah 9 Juta Krona Swedia jadi oleh-oleh atas penemuan mereka yang revolusioner.

Energi sebelumnya sering tak ramah lingkungan, mengandalkan sepenuhnya bahan bakar fosil. Kehadiran baterai dengan energi efisien tapi punya tenaga yang optimal seakan memberikan revolusi baru di semua lini energi umat manusia. 

Bayangkan andai saja dunia modern belum menemukan baterai lithium-ion hingga saat ini. Mungkin kita belum mengenal ponsel pintar, laptop, atau kendaraan listrik. Semuanya masih mengandalkan baterai konvensional alkali standar yang mudah lemah daya dan eksplorasi bahan bakar fosil dalam jumlah besar.

Menipisnya bahan bakar fosil seakan tak jadi masalah sejak penerapan energi baterai yang ramah lingkungan. Ada banyak perangkat kini mulai dari ponsel pintar, laptop, dan bahkan kendaraan menggunakan akses baterai lithium-ion dalam penerapannya. 

Penghargaan yang layak didapatkan oleh ketiga ilmuwan tersebut. Baterai isi ulang seakan meletakkan dasar elektronik nirkabel yang tak terhubung dengan listrik pada ponsel dan laptop. Bahkan menyalakan kendaraan listrik hingga menyalakan energi dari sumber terbarukan.

Perjuangan mereka pun sangat terjal dan panjang hingga akhirnya Nobel Kimia berhasil diraih tahun ini. Butuh hampir penantian panjang hampir setengah abad sejak pertama sekali M. Stanley Whittingham dari USA mengembangkan baterai lithium ion pertama di awal tahun 1970.  Pada dekade selanjutnya tongkat estafet dalam menggandakan potensi baterai lithium ion dilanjutkan oleh John B. Goodenough.

Melihat potensi besar energi yang dihasilkan tersebut, ilmuwan asal jepang Akira Yoshino mengkomersilkan baterai lithium ion di tahun 1985 setelah menghilangkan lithium murni yang terdapat di dalam baterai. Alhasil baterai yang dihasilkan jadi lebih aman dan punya daya pakai lebih lama. Setelah kemudian cukup sukses dan dianggap sudah bisa diterapkan secara komersial. 

Baterai lithium ion akhirnya dikomersilkan tahun 1991 oleh perusahaan raksasa asal Jepang, Sony. Produk pertama kali yang digunakan adalah kamera video dan walkman, kemudian berlanjut pada berbagai produk elektronik portabel sesuai keinginan pasar.

Lithium ion dianggap merepresentasikan masa depan

Bukan hanya mobil Tamiya saja tapi semua aspek roda penggerak. Sebelumnya teknologi baterai masih menggunakan baterai konvensional khas baterai alkali. Daya yang dihasilkan lebih pendek dan mengalami penurunan daya setelah beberapa kali penggunaan dalam jangka panjang. Beda halnya dengan lithium ion yang punya kelebihan mengisi daya lebih cepat, bertahan lebih lama, dan punya tingkat kepadatan daya lebih tinggi dengan bentuk ringkas. Ini yang diharapkan dalam merevolusi energi di masa depan.

Ada banyak perangkat teknologi saat ini yang sudah menggunakan baterai lithium ion karena punya pengisian super cepat dan daya pakai lebih besar. Tak hanya itu saja, di dalam baterai lithium ion terdapat proses pengisian daya saat baterai hampir penuh, biasanya di kisaran 80% daya untuk mengontrol suhu baterai.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x