Mohon tunggu...
Mochamad Iqbal
Mochamad Iqbal Mohon Tunggu... Guru - Penulis | Pengajar | Penikmat Film

Nominasi Best in Fiction 2023, senang membaca buku-buku filsafat. | Menulis adalah cara untuk mengabadikan pikiran, dan membiarkannya hidup selamanya.|

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen: Tas Sekolah Hadiah dari Tuhan

17 September 2023   18:24 Diperbarui: 17 September 2023   18:25 208
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
gambar oleh Godisable Jacob dari pexel.com

Aku bekerja sebagai pemulung, mengais-ngais sampah di tempat pembuangan akhir. Aku mencari barang-barang yang masih bisa dijual, seperti botol plastik, kaleng bekas, atau kertas koran. Aku menjual barang-barang itu ke pengepul dengan harga murah, dan mendapatkan uang yang tidak seberapa.

Aku adalah seorang anak yatim piatu yang tinggal di sebuah gubuk reyot di pinggiran kota. Aku tidak pernah merasakan kasih sayang dari orang tua, karena mereka meninggal ketika aku masih kecil. Aku juga tidak pernah merasakan kebahagiaan dari bermain, karena aku harus bekerja setiap hari untuk mencari nafkah.

Aku tidak pernah bersekolah, karena aku tidak punya biaya untuk mendaftar dan membeli perlengkapan sekolah. Aku juga tidak punya waktu untuk belajar, karena aku harus bekerja dari pagi sampai malam. Aku hanya bisa membaca dan menulis sedikit, karena aku belajar sendiri dari buku-buku bekas yang kutemukan di antara sampah.

Aku sering merasa iri melihat anak-anak lain yang bisa bersekolah, bermain, dan bercanda dengan teman-teman mereka. Aku ingin sekali bisa seperti mereka, tapi aku tahu itu hanya angan-angan yang tidak mungkin terwujud. Aku terjebak dalam lingkaran kemiskinan yang sulit untuk ditembus.

Aku juga sering merasa takut dan kesepian. Aku takut akan penyakit yang bisa menyerang tubuhku yang kurus dan lemah. Aku takut akan preman yang bisa mengambil uang hasil jerih payahku. Aku takut akan polisi yang bisa menangkap dan mengusirku dari tempat tinggalku. Aku takut akan kematian yang bisa menjemputku kapan saja.

Aku tidak punya teman atau saudara yang bisa menemani dan membantuku. Aku hanya punya seekor anjing kecil yang kutemukan terlantar di jalanan. Aku memberinya nama Budi, karena dia adalah satu-satunya teman baik yang kumiliki. Aku merawatnya dengan sebaik-baiknya, memberinya makan dan minum dari sisa-sisa makanan yang kutemukan.

Budi adalah satu-satunya alasan aku bertahan hidup. Dia selalu setia menemani dan menjagaku. Dia selalu menghibur dan menghangatkan aku dengan lidahnya yang basah dan bulunya yang lembut. Dia selalu melindungi dan membela aku dari orang-orang jahat yang ingin menyakitiku.

***

Suatu hari, ketika aku sedang bekerja di tempat pembuangan akhir, aku melihat sesuatu yang membuat hatiku berdebar-debar. Aku melihat sebuah tas sekolah berwarna biru yang tergeletak di antara tumpukan sampah. Aku segera mendekatinya dan membukanya dengan hati-hati.

Aku terkejut melihat isi tas itu. Ada beberapa buku pelajaran, buku tulis, pensil, penghapus, penggaris, dan gunting di dalamnya. Semua barang itu masih terlihat baru dan bersih. Aku merasa seperti menemukan harta karun.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun