Mohon tunggu...
Mochamad Iqbal
Mochamad Iqbal Mohon Tunggu... Guru - Penulis | Pengajar | Penikmat Film

Nominasi Best in Fiction 2023, senang membaca buku-buku filsafat. | Menulis adalah cara untuk mengabadikan pikiran, dan membiarkannya hidup selamanya.|

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen: Stasiun Kereta Pukul 11:25

4 September 2023   16:49 Diperbarui: 4 September 2023   17:14 166
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
gambar oleh Febi Ariyanto dari pexel.com

Stasiun kereta api besar itu seperti sebuah kota kecil dalam dirinya sendiri, dengan ribuan orang yang sibuk bergegas dari satu tempat ke tempat lainnya. Aku duduk dengan santai di peron yang ramai dengan sebuah buku di tangan. Aku sedang menunggu kereta yang akan mengantarkanku menuju desa yang penuh dengan kenangan indah yang kini telah berlalu seiring dengan waktu, mataku tertuju pada seorang anak laki-laki kecil yang tampaknya tersesat di tengah kerumunan orang yang berlalu-lalang.

"Ibu? Ibu?" Seorang anak Laki-Laki yang berteriak dengan ekspresi cemas. Sepertinya ia berusia sembilan atau mungkin sepuluh tahun. Dengan langkah kaki kecilnya, ia berusaha mencari-cari seseorang yang mungkin telah terpisah darinya.

Aku mendekati anak itu. "Hai, apakah kamu baik-baik saja?"

"Aku kehilangan ibu, aku tidak tahu harus bagaimana." kata anak laki-laki itu yang hampir menangis, "Aku tidak tahu di mana ibu aku." Air mata itu kini benar-benar tumpah.

"Jangan khawatir, kita akan mencarinya bersama-sama. Ibu kamu pakai baju apa hari ini?"

"Ibuku memakai jaket biru dan membawa tas merah." Jawabnya dengan isakan tangis.

Aku berusaha membuat anak itu tenang. Kami berdua mencari ibu anak itu di antara kerumunan yang semakin padat.

Aku menggandeng tangan anak itu dan kami berdua terus mencari, bertanya kepada petugas stasiun dan orang-orang yang mungkin telah melihat ibunya.

Dengan suara gemetar anak laki-laki itu bertanya, "Apa yang akan terjadi kalau kita tidak menemukannya?"

"Jangan khawatir, kita pasti akan menemukannya ..., kita pasti bisa." sahutku, meskipun aku tidak yakin saat itu, namun hatiku mengatakan untuk terus mencarinya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun