Mohon tunggu...
Irwan Prasetia
Irwan Prasetia Mohon Tunggu...

na

Selanjutnya

Tutup

Energi Pilihan

Selalu Siap

31 Oktober 2017   03:44 Diperbarui: 31 Oktober 2017   04:07 0 0 0 Mohon Tunggu...

Kemampuan kita di atas kertas boleh kalah, namun jangan pasrah saat bersaing kalau ingin menang.

Sebuah prestasi, sebuah kebanggaan, sebuah harga diri, sebuah hak dan keyakinan tidak bisa diraih tanpa perjuangan. Semua orang berjuang dengan misinya masing-masing, hampir tidak ada ruang bagi mereka untuk pasrah, pasrah dalam artian tidak mau berbuat apa-apa, bukan tidak bisa berbuat apa-apa.

Dengan perjuangan siapapun bisa menang, dengan kelengahan siapapun bisa kalah, kemampuan matematis tidak selalu menjadi indikator.

Bercermin pada sejarah, ketika perang ketiga antara Arab dan Israel yang biasa dikenal dengan perang enam hari 1967. Di atas kertas kekuatan militer negara-negara Arab unggul atas Israel, namun kenapa negara-negara Arab tidak bisa menaklukkan Israel? Dunia Bertanya? Lalu kenapa Indonesia bisa menundukkan penjajah dengan bambu runcing?

Kuncinya perjuangan, kemauan lebih untuk menang memanfaatkan apa yang dimiliki.

Israel dengan strateginya pada saat itu, mereka memiliki Wolfgang Lotz, seorang yang diutus menjadi mata-mata Israel di Mesir, pria keturunan Jerman dan Yahudi dengan segala kemampuannya sukses mendapat kepercayaan dari petinggi Mesir, sampai-sampai diizinkan masuk ke instalasi militer rahasia oleh Mesir. Awal mula pertanda kehancuran Mesir.

Benar saja, 5 juni 1967 Israel di bawah pimpinan mayor jenderal Mordechai Hod melakukan serangan udara besar-besaran terhadap banyak lapangan udara Mesir, serangan ini dinamakan Mivtza Moked dalam bahasa Ibrani yang artinya Operasi Fokus.

Di hari tersebut pukul 7:45 serangan dimulai, waktu fajar dipilih karena personel militer khususnya para pilot Mesir di waktu itu tidak dalam kewaspadaan penuh. Saat para pilot menikmati sarapan sementara komandannya belum masuk kerja Israel menyerang lapangan udara mereka tanpa terdeteksi radar (menghindari zona radar Mesir).

Disaat yang sama petinggi angkatan Mesir, bersama Menteri Peperangan Shams el-Din Badran dan Marsekal Amir juga sedang berada di udara mengunjungi unit-unit Mesir di Sinai. Pasukan Mesir sengaja mematikan sistem radar untuk memastikan keamanan para petingginya agar tidak ditembaki pasukan sendiri. Keputusan yang tidak antisipatif dan berakibat fatal.

Di lain titik, pesawat-pesawat Israel terbang rendah untuk menghindari radar, namun setelah mendekati lapangan udara Mesir, pilot Israel menaikan ketinggian pesawat agar tiba-tiba terdeteksi sistem radar sehingga menciptakan kepanikan pasukan Mesir, dan mendorong pilot Mesir untuk segera menerbangkan pesawatnya, disaat itulah pesawat Israel menghancurkan pesawat Mesir bersama pilotnya yang terjebak.

Dalam serangan gelombang pertama itu total delapan dari sembilan lapangan udara Mesir yang menjadi target hancur dalam 15 menit.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2