Mohon tunggu...
Iwan Permadi
Iwan Permadi Mohon Tunggu... Freelancer - Pekerja kreatif televisi dan Guru Bahasa Inggris

a freelance tv creative

Selanjutnya

Tutup

Inovasi Pilihan

Mengapa Acara Kuis "Family 100" Tetap Bertahan?

8 September 2018   16:15 Diperbarui: 8 September 2018   16:27 3095
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Bagi para pemerhati acara kuis televisi, Kuis Famili 100 adalah salah satu program game show yang tetap bertahan dan diminati penontonnya hingga kini padahal kuis ini sudah tayang sejak pertengahan tahun 90an. 

Kuis yang format aslinya berjudul "Family Feud" diadaptasi ke format lokal berjudul Family 100 dan awalnya ditayangkan di ANTV dengan pembawa acara (host)Sonny Tulung, namun setelah itu seperti piala bergilir berganti stasiun penayang dan produksinya seperti sempat ditayangkan di Indosiar (IVM) dengan host, Darius Sinathrya dan sekarang Global TV (GTV), dengan hostAnanda Omesh.

Mungkin banyak yang bertanya bagaimana bisa kuis yang berformat sederhana ini justru mampu bertahan dari persaingan ketat kuis tahun 90an dan awal 2000an yang sangat marak pada saat itu.? Katakan kuis top yang juga tayang pada awal pertelevisian swasta itu seperti Who Wants to be A Millionaire (WWTBAM), Kuis Kata Berkait, Kuis Piramida, Kuis Kontak, Kuis Cocok, Kuis Tebak Gambar, Secret Mission, Kuis Apa ini Apa Itu, Galileo dan lainnya, namun kenapa kuis yang banyak disebut belakangan ini lama-lama fade out (tenggelam) dan tidak siuman lagi?

Menurut Mark Goodson, pakar game show dari AS minimal ada tiga hal yang mendasari kuis itu digemari masyarakat antara lain peraturan permainannya (rules of the games) tidak rumit dan berbelit-belit (intricate), ada pemahaman tidak semua game show bisa diconvert ke dalam games televisi seperti permainan Scrabble dan terakhir games di televisi haruslah melibatkan penonton di rumah artinya menjadi viewer's games bukan player's game-artinya pemain di studio jangan asik dan heboh bermain sendiri tanpa melibatkan penonton di rumah.

Coba kita lihat di awal segmen dari Famili 100, pertanyaan rebutan yang diajukan ke kedua tim yang bertanding berdasarkan survei terbanyak yang didasarkan dari situasi dan kondisi masyarakat dalam kesehariannya seperti pertanyaan "apa saja isi dompet yang biasa dibawa orang ketika bepergian?". 

Dan katakanlah pemirsa di rumah tidak sepakat dengan hasil survei terbanyak namun paling tidak disinilah dinamisnya ada tarik ulur "psikis" antara program dan penontonnya sehingga menjadi menarik- walaupun pada akhirnya tidak semua hasil survei yang dilakukan meleset dari jawaban banyak penonton.Pertanyaan yang mengajak keikutsertaan penonton di rumah ini menjadikan kuis ini lebih hidup (vivid) dan menarik (attractive).

Hal lain yang menjadi keunggulan format kuis ini adalah tidak segmented artinya penonton yang disasar bisa luas dan banyak karena pertanyaan yang diajukan merupakan hal keseharian yang dihadapi penontonnya dan pada akhirnya digemari seluruh demografi penonton mulai pria, wanita, anak-anak hingga segala usia dan dari kelas ekonomi yang bervariasi. 

"Kemewahan" seperti ini yang tidak dimiliki misal seperti Kuis Komunikata yang juga ditayangkan di GTV, karena peserta kuis ini minimal harus cukup punya perbendaharaan kosa kota (vocabulary) agar jawabannya tidak sama dengan jawaban peserta lainnya-dan hal ini perlu keahlian khusus seperti banyak membaca dan bersosialisasi. 

Seperti juga kuis WWTBAM dengan hostnya Tantowi Yahya yang mengharuskan peserta kuisnya mempunyai tingkat intelektualitas tinggi karena setiap pertanyaan yang diajukan hanya punya empat jawaban pilihan, dan pertanyaan yang diajukan makin lama makin sulit seiring dengan hadiah uang yang didapatnya.

Tadi disebut bahwa Kuis ini seolah sederhana saja formatnya (simple format), namun justru itu intinya untuk membuatnya menjadi kelihatan "mudah" dimainkan pastilah melalui proses lama sehingga bisa menyatu (blending) dengan mentalitas pemain dan penontonnya sehingga terlihat wajar dan masuk akal. 

Analoginya hampir sama ketika membentuk atau mengukir patung seseorang yang terkenal dari bahan baku lilin, semua aspek harus diperhitungkan sehingga terbentuk patung lilin yang sempurna seperti gambaram tokoh yang diinginkan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Inovasi Selengkapnya
Lihat Inovasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun