Iwan Permadi
Iwan Permadi karyawan swasta

a freelance tv creative

Selanjutnya

Tutup

Media Pilihan

"The Newsroom", Saat Reporter jadi Selebriti

11 Juni 2018   19:38 Diperbarui: 13 Juni 2018   13:11 2032 1 0
"The Newsroom", Saat Reporter jadi Selebriti
dokpri

Siapa bilang tayangan berita cuma "begitu-begitu saja"? Lihat tayangan berita The Newsroom milik Net TV yang cukup menarik untuk diulas karena pendekatan nya yang ringan, bernas dan mempunyai unsur mendidik.

Dengan mengambil latar belakang dunia jurnalisme televisi yang penuh suka-duka karena target berita dan kenyataan yang didapat sering tidak sesuai harapan, The Newsroom, memperkenalkan para reporter yang rata-rata berpenampilan menarik sebagai ujung tombak untuk meraih perhatian penonton.

Sayangnya program berita (di belakang layar/behind the scene) seperti ini sepertinya "hanya" bisa lahir dari stasiun televisi yang melihat berita bukan hanya komoditas serius saja tapi juga hiburan. Pakem tayangan berita selama ini hanya menampilkan tayangan talkshow, dialog, dan tatap muka yang kebanyakan didominasi oleh gerakan kamera statis sehingga miskin visualisasi dan imajinasi.

Penggagas program ini pasti menyadari berita keseharian dari sumber berita yang ditargetkan bisa menjadi "kering" dan tidak punya unsur "menjual" bila ditampilkan apa adanya dan miskin visual sehingga dicarilah cara bagaimana mengemasnya sehingga menjadi konten yang menarik.

Bahan beritanya mungkin sebuah kenyataan (reality) tapi bagaimana mengemasnya (form) adalah urusan lain. Bukankah form dan content adalah satu kesatuan seperti dua sisi mata uang? Konten dari sebuah program televisi adalah bagaimana bentuk visualnya begitu juga sebaliknya?

Selama ini penonton sudah biasa menonton menyaksikan program baik sumber berita dan pelapor (reporter) hanya menjadi "talking head" dengan sudut pengambilan gambar yang kurang dinamis sehingga nyaris tidak ada perbedaan tayangan yang dihasilkan dari banyak stasiun televisi yang ada.

Kalaupun ada reporter yang mempunyai keunggulan dengan wajah menarik dan cerdas namun ditampilkan terbatas dengan durasi yang ada, pengambilan gambar yang rata-rata mid close up (MCU) serta ditambah mimik serius sehingga membuat penonton "kurang puas".

Sebaliknya para reporter program  The News Room ini sepertinya "sadar kamera" bahwa mereka kelak akan jadi selebriti karena mereka tidak hanya berpenampilan menari, tetapi juga cerdas merangkai kata dan piawai bagaimana memperlakukan kamera sebagai cermin untuk menarik perhatian penonton terutama para pria yang sudah mulai mengantuk pada pukul 22:00.

Dengan pengambilan gambar ke wajah para reporter yang tetap enak dilihat dari sudut extreme close up (ECU) , nyaris tidak ada yang mubazir menyaksikan tayangan ini bagi penonton pria. Jadi ingat bagaimana bintang legendaris Hollywood, Marilyn Monroe, memperlakukan kamera sebagai mata penggemarnya, dengan cara yang "intim", padahal dalam kesehariannya, banyak yang bercerita, aktris seksi ini "biasa saja" like other ordinary girls.

Lewat program ini para reporter ini bekerja tidak hanya untuk merekam saja berita, tapi bagaimana memanipulasinya dan tentu sesuai dengan sepengetahuan atasannya agar berita ini layak tayang dan jual. Ada pakem dan standard operation procedure (SOP) yang dijalankan di samping pemahaman tentang fungsi kamera dan audio, di samping kemampuan membuat dan mengajukan pertanyaan serta membuat skrip yang singkat namun mudah dimengerti.

Kasarnya para reporter ini memang sudah bertugas seperti produser dengan memperhatikan/mencari background wawancara dilakukan dan saat editing membantu editor untuk mendapatkan footage pendukung sehingga memudahkannya membuat kemasan yang kaya gambar.      

Sesuai dengan tag line TV Masa Depan, kembali Net TV menjadi terdepan dalam menyajikan tayangan yang memberikan inspirasi bagaimana seharusnya mengemas program televisi agar terus jadi pilihan program dari penonton televisi yang makin selektif dan jumlahnya makin berkurang karena maraknya dunia internet.

Fake news is cheap to produce. Genuine journalism is expensive (Thomas Hendrik lives)