Mohon tunggu...
ioanes rakhmat
ioanes rakhmat Mohon Tunggu... Ilmuwan - Science and culture observer

Seorang peneliti lintasilmu, terus berlayar, tak pernah tiba di tujuan, pelabuhan selalu samar terlihat, the ever-expanding sky is the limit.

Selanjutnya

Tutup

Healthy Artikel Utama

Vaksinasi Tak Dapat Berdiri Sendiri Menanggulangi Pandemi Covid-19

13 April 2021   01:54 Diperbarui: 27 April 2021   12:39 623
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi vaksinasi Covid-19. (sumber: SHUTTERSTOCK/Orpheus FX via kompas.com)

"Mixed shots"

Direktur BPOM China, Gao Fu, mengakui bahwa vaksin-vaksin "inactivated" buatan China (2 dosis vaksin Sinovac dan vaksin Sinopharm, dan 1 dosis vaksin CanSino) memiliki angka efektivitas (ER, "effectiveness rate") yang rendah, antara 50%-70%, jauh di bawah ER vaksin mRNA Amerika-Jerman Pfizer dan vaksin mRNA Amerika (Bill Gates) Moderna yang mencapai 95%-97%. Baca lebih lanjut Apnews dan CNBC. 

Pengakuan yang langka oleh Gao Fu tersebut disampaikan dalam suatu konferensi di baratdaya kota Chengdu, 10 April 2021.

Dikatakan, ER vaksin-vaksin China rendah bisa disebabkan oleh usia orang yang mengikuti uji klinis (makin tua usia, makin sulit antibodi terbentuk dalam titer cukup apalagi titer tinggi), bisa juga karena strain virus yang berbeda, dan bisa juga karena faktor-faktor lain yang tidak disebutkan.

Vaksin-vaksin China tersebut dikembangkan berdasarkan sekuens genetik SARS-CoV-2 Desember 2019! Tentu anda tahu apa artinya ini.

Sebelumnya, China meremehkan vaksin-vaksin mRNA Amerika, dengan alasan vaksin mRNA baru pertama kali dikembangkan dan diproduksi sehingga keamanan vaksin-vaksin mRNA belum teruji dan tidak dapat dijamin. Kini China berubah sikap.

Seorang pejabat BPOM China menyatakan bahwa China juga sedang mengembangkan vaksin-vaksin mRNA yang, kabarnya, kini sedang memasuki tahap uji klinis. Kapan uji klinis hingga tahap 3 selesai, tidak ada beritanya. Sampai kapan dunia harus menunggu?

Nah, China berencana nanti akan memakai vaksin-vaksin gabungan (vaksin "inactivated" dan vaksin mRNA) untuk disuntikkan berurutan ("mixed shots") pada satu orang dengan jedah waktu 3-4 minggu.

"Mixed shots" diyakini akan meningkatkan dan memperkuat kemampuan  memproteksi orang yang sudah divaksinasi gabungan terhadap infeksi virus corona. "Mixed shots" membuat virus-virus digempur lebih dari satu penjuru.

Jadi, kalau vaksin mRNA berbayar sudah tersedia di Indonesia, pilihlah vaksin ini, dan jika sudah menerima dua dosis lengkap vaksin Sinovac, ambil lagi vaksin mRNA dua dosis, dengan jedah waktu yang cukup.

Kita belum tahu, apakah "mixed shots" nanti akan diperbolehkan di Indonesia. Kalau memakai pertimbangan keilmuan dan ER yang diharapkan tinggi, seharusnya "mixed  shots" Sinovac dan mRNA dibuka seluas-luasnya bagi warga Indonesia.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun