Mohon tunggu...
I Nyoman  Tika
I Nyoman Tika Mohon Tunggu... Dosen

menulis sebagai pelayanan. Jurusan Kimia Undiksha, www.biokimiaedu.com, email: nyomanntika@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Tutur Ni Diah Tantri tentang "Satshsang" (Berkawan dengan Orang Baik)

7 Juli 2020   19:44 Diperbarui: 7 Juli 2020   19:54 36 6 0 Mohon Tunggu...

 

Hidup manusia ibaratnya seperti kehidupan seekor kijang yang sedang merumput di savana luas, maut mengendap-ngendap mengikuti langkah kehidupan manusia itu, layaknya seekor harimau mengintai sang kijang dari balik semak. Karena itu, manusia hendaknya jangan membuang-buang waktu lagi, berusahalah membuang kesalahan, kemalasan, dan kemarahan. Tenanglah selalu di tengah keributan dan kegalauan zaman. Bergaullah dengan teman-teman yang tenang. Biarlah asap harum pikiran suci yang penuh kasih bagi semua mahkluk membumbung di sekeliling manusia. Itulah pesan dari babak pertama cerita yang ingin disampaikan Ni Diah Tantri pada Sang raja Aeswarya Dala. Ni Diah Tantri agaknya ingin memberikan ungkapan itu pada manusia di dunia tentang nilai kebesaran manusia bukan terletak pada kelahirannya sebagai manusia tetapi yang lebih utama adalah kehidupan jenis apa yang ditempuhnya, pada akhirnya kehidupan yang sesuai dengan harkat kemanusiaanlah yang memberi keluhuran dan kemuliaannya. Oleh karena itu manusia harus menempuh segala kesulitan dan mengerahkan segenap kesabaran yang diperlukan untuk mencari pergaulan yang baik, dalam budaya "Sanathana Darma " disebut dengan konsep 'Sathsang" Pada hakekatnnya, konsep sathsang berawal dari pergaulan yang baik menuju tanpa pergaulan, kemudia dari tanpa pergaulan menuju ke fase tanpa keinginan , dari tanpa keinginann menuju kebenaran yang tidak berubah, dari kebenaran yang tidak berubah menuju kebebasan abadi. Seperti yang diungkapkan oleh Ni Diah Tantri secara tersirat kepada raja Aeswarya Dala, "Teman-teman yang tidak baik mudah didapat, teman yang baik harus dicari dan diperjuangkan. Seperti ibaratnya naik tangga jatuh betapa mudahnnya, sedangkan mendaki anak tangga memerlukan kekuatan, tenaga dan kehendak" Katanya di depan sang raja. Tanpa disadari dan memang sudah menjadi kecenderungan bahwa manusia lebih tergoda memilih jalan yang lebih mudah, layaknya " tidak bekerja ingin memperoleh banyak uang' bentuk dari tatanan 'mental menerabas' sebuah jalan pintas yang selalu disindir oleh Ni Diah Tantri dengan manis disetiap mengawali ceriteranya. Tak pelak Ni Diah Tantri ingin menonjolkan makna sathsang dalam kisah pertemanan Si Titih ( baca kutu busuk) dan Si Tuma ( baca kutu di lipatan baju), bahwa kesalahan memilih teman di dunia ini membawa bencana, karena dunia obyektif ini merupakan fatamorgana, sebenarnya adalah hanya satu bayangan, yakni sifat Ketuhanan. Tuhan terpantul dalam setiap cermin yang diindentikkan dengan dunia obyektif. Manusia harus dapat melihat bayangan-Nya dalam manusia lain, dalam tubuh margasatwa, burung, tanaman, pepohonan dan rerumputan , bahkan dalam setiap sel dan setiap atom penyusun suatu materi. Namun apa hendak dikata, manusia terpikat dan kadang tergila-gila pada cermin dan bayangan itu tanpa mengetahui kenyataan yang sejati yang tercermin di dalamnya, sehingga bagaimana Tuhan yang merupakan pantulan cermin itu dapat diketahui jika manusia silau oleh hanya bayangannya yang merupakan pikiran dan niat yang tidak baik. Untuk mengungkap dan memberikan teladan itu Ni Diah Tantri mengambil contoh persahabatan antar dua binatang yang hidup sebagai "drakula' terhadap sang raja, kedua mahluk ini merupakan simbol yang berfungsi sebagi cermin bagi manusia bahwa berteman ibaratnya mencari tangkai bunga tunjung dari dasar kolam, keduanya tampak sama namun manusia harus hati-hati memetik tangkainya agar jangan salah pilih karena antara tangkai bunga dengan tangkai daun memang hampir sama. Sepintas sulit dibedakan, kita harus tetap melirik ke atas permukaan kolam, yang mana tangkai bunga dan yang mana tangkai daun. Sama halnnya berteman juga begitu tubuh manusia nyaris bisa mengecoh jika hanya terpesona dengan tampilan luar. ****** Di hari pertama Ni DiahTantri, setelah menjelaskan konsep " Premavadin, dia ingin memberikan masukan dalam tataran contoh cerita dalam bingkai fabel, lukisan tingkah laku tentang binatang kepada sang raja Aeswarya Dala " Ampun... tuanku,ijinkanlah hamba sekarang menuturkan cerita tentang si Titih dengan si Tuma. Seperti kebiasaan sang Prabu, yang sedikit genit terhadap gadis-gadis lain. Kebiasaan yang aneh itupun juga diterapkan kepada Ni Diah Tantri. Beliau mulai dengan meminta agar bercerita sambil dipijat untuk sekedar menghilangkan kepenatan. Ni Diah Tantri pun menuruti kemauan sang raja, pada saat inilah Ni Diah Tantri menuturkan kisah Si Titih dan Si Tuma, Yah..... silahkan ceriterakanlah padaku tentang ceritera yang engkau miliki" kata sang Prabu mengawali. " Kisah tentang apa ini?" kata sang raja penuh harap, ' Kisah ini tentang strategi mencari teman yang baik paduka" Jawab Ni Diah Tantri. Silahkan aku ingin tahu kayak apa orang berteman itu? Kata sang raja sekenannya. " Suatu hari, di wilayah yang diuni oleh Si Titih, mereka sedang dilanda kesedihan, pasalnnya kegersangan telah menimpa keluarga mereka. Si Titih sedang menyesali diri, mengapa dia harus lahir menjadi Titih, nasib memang sangat tidak beruntung, rezeki memang tidak pernah memihak padanya, kalau hanya untuk menderita untuk apa dia harus dilahirkan ke dunia, Si Titih menggugat Tuhan. Dia berteriak-teriak mengatakan bahwa Tuhan memang bukan Maha Adil, tidak konsekuaen terhadap akibat ciptaan yang seolah-olah mempermainkan hasil ciptaannya yang lemah dengan seenak-Nya. Jika seandainnya Tuhan adil, mengapa dia (Keluarga Si Titih) hidup menderita sedangkan mahluk lain, Si Tuma tetanggannya, kegemukan di tempat lain. Hampir-hampir tidak bisa jalan karena kegemukan, Dia tampak mempersalahkan dan mengujat Tuhan, yang menciptakan alam semesta ini, tak hayal si Titih badannya ' berig angkig' (kurus kering) hanya mata yang berdelik seperti mata udang. Otot-ototnya lisut dan keriput, tulang rusuk dan iganya seperti deretan 'tuts piano', perutnya seperti 'palungan' (piring untuk babi), jika berjalan tidak lebih seperti mayat hidup, hanya kulit menutupi tulang tidak ada daging sedikitpun. Kesengsaraan menjepit diri bak pengungsi, hidupnya merana dalam kegersangan di dinding peraduan raja. Dipihak lain, ada Si Tuma, hidupnya makmur, badannya gemuk, kulitnya 'melanyat, (mengkilat) seperti kena minyak, tubuhnya tambun, perut gembrot, mata tidak kelihatan, sampai sipit karena daging dikelopak matanya padat, lehernya sampai tidak kelihatan karena saking suburnya. Tentu, setiap hari hatinya gembira, kemewahan selalu mengelilinginya, makanan melimpah, harta benda menumpuk, sedikitpun tidak takut akan kehabisan makanan. Kata kelaparan seolah-olah takut mendekati keluarga Si Tuma, mereka selalu memuji Tuhan, karena dia memiliki sedikit kecerdasan sehingga rahmat Tuhan selalu melimpah kepadanya Dia hidup sejahtera bersama keluarganya di lipatan 'spring bed dan bed cover" sang Raja. Melihat kehidupan Si Tuma yang mewah, apa lagi semua keluarga si Tuma gemuk-gemuk membuat hati si Titih sangat gundah, dia tidak bisa menyembunyikan kekecewaan hatinya dan berujung pada iri hati sekaligus benci atas kemewahan si Tuma. Si Titih berinisiatif ingin tahu apa gerangan yang menyebabkan kehidupan tetangganya sangat makmur, berbeda seratus delapan puluh derajat dengan dirinnya. Sebuah siasat harus dia gelar untuk menjebak urusan rumah tangga si Tuma. Suatu ketika diapun menghampiri si Tuma, dengan penampilan yang digandengkan roman ' semitane memadu juruh' (wajah manis) si Titih berkata" Hai, sobat bolehkah aku berkenalan denganmu, kata si Titih mengawali percakapan hari itu. " mengapa tidak boleh? Wong... persahabatan tidak mengenal batas, dalam konsep idealisku ' makin banyak sahabat makin mudah hidup ini, apalagi sekarang sudah zaman globalisasi siapapun berhak untuk berteman secara lintas negara, bagi yang menghalanginya itu merupakan pelanggaran HAM, dan bagi yang melanggar HAM hukumannya berat" kata si Tuma berfilsafat. "Tapi, apakah konsep itu juga berlaku bagi kami orang yang miskin dan sengsara ini, kami takut nanti bisa-bisa menyusahkan anda" kata si Titih merendah. " Live is coice, The coice is yours, Hidup ini adalah sebuah pilihan, dan pilihan itu ada pada kita masing-masing, pilihan hidup saya adalah bersahabat kepada siapa saja," seandainnya akhirnnya menyusahkan kami, itu adalah resiko dari suatu pilihan" kata Si Tuma mempertegas idialismenya. " Anda memang hebat ?, apakah konsep persahabatan ini akan mengahburkan batas individualime pada diri anda? Tanya Titih mengejar. " Tentu, persahabatan memiliki batas-batas yang wajar, tidak semua yang bersifat individu harus boleh diketahui oleh orang lain, hidup adalah unik, pada saat tertentu orang perlu menyendiri dan merenungkan sesuatu yang bersifat pribadi, disinilah privacy seseorang harus dihargai? Kata Si Tuma memberikan batasan persahabatannya. " Saya memiliki banyak pertanyaan, saya tidak tahu boleh atau tidaknnya kami ketahui, diantara sekian banyak pertanyaan mudah-mudahan semua masalah dapat kami ketahui, kata Titih membentengi diri" " Sebelum kau utarakan semuannya, tentu aku jelas tidak tahu isi perut orang lain, dan untuk itu aku belum bisa mengatakan boleh atau tidak itu dilontarkan pada diriku? Gertak si Tuma. " Saya tidak habis pikir, mengapa engkau tetap gemuk-gemuk, bahagia , ceria dan selalu kelebihan makanan? Tanya Titih memelas. " yah..... kami selalu mengikuti disiplin hidup, disipli diperlukan dalam hidup ini" Jawab Si Tuma sembarangan. "Apa?, disiplin hidup ? tanya si Titih keheranan." Apa hubungannnya antara disiplin dengan tubuh yang gemuk,kelebihan makan dan rasa kebahagiaan?, kejar Titih lagi. Ditanya soal pribadi seperti itu, Tuma kelihatan sangat emosional..... "Mengapa anda begitu antusias menguak rahasia dapur kami? Tidak seorang pun boleh tahu apa yang kami lakukan disini, apa lagi anda belum kenal sebelumnya. Kami khawatir , jangan-jang anda adalah seorang mata-mata, yang sengaja disusupkan di keluarga kami untuk menjadi seorang provokator? Si Titih diam dia tampak mempelajari situasi. Dengan mata melotot Si Tuma berkata lagi" Anda harus tahu tak seorangpun boleh berbuat seenaknnya terhadap komunitas kami, kami tidak mentolerir segala bentuk pengacau yang ingin memecah belah bangsa kami, kami tidak sebodoh manusia, yang mau diperolok-olok oleh segelintir manusia lainnya, manusia begitu bodoh mereka berteriak tentang pentingnnya agama tetapi mereka berperilaku seperti layaknya manusia tidak beragama, anehnya mereka tidak memiliki hati nurani untuk memperdayai bahkan membunh temannya yang seiman, sebuah kedunguan dipertontonkan pada manusia, dan itu kami tidak harapkan terjadi pada bangsa kami, kata Si Tuma dengan sombongnnya. Mendengar argumen Si Tuma yang emosional, Si Titih berubah haluan, dengan suara memelas, Oh... kakanda Tuma, kakanda yang yang menjadi saudara Tua kami, dan menjadi penerang seluruh bangsa yang lemah, adalah pemimpin kami yang siap membebaskan kami dari kemiskinan dan penjajahan, saya mohon lindungilah kami, kemana lagi kami harus mengadu kalau bukan kepada saudara tua kami, tegakah kakanda jika kami sebagi pengemis, atau tidur sebagai peminta-minta di balai desa? Mendengar desahan si Titih yang menyebut saudara tua dan pemimpin bangsa-bangsa yang lemah dikawasan itu , seketika itu suhu darah Si Tuma menurun tajam, kelembutan seolah tampak menyelimuti dirinya, dia malah berkata dengan penuh kasihan, "Aku sebenarnya ingin menguji sejauhmana sebenarnnya kesungguhan mu berteman dengan kami, maafkanlah aku Titih, itu adalah kebiasaanku untuk menguji ketabahan dan keseriusan seorang teman, hanya orang-orang kuatlah yang berhak menjadi teman kami, kata Si Tuma dengan banggganya. "Kami sekarang telah menyatakan diri bahwa kami adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kesatuan bangsa ini, kami hidup dalam pertiwi yang sama, udara yang sama dan berhak menikmati suka duka yang juga saudara tua alami, itu bisa terjadi karena kebesaran hati, saudara-saudara kami disini, dan itu tidak lengkap jika saudara tua tidak mengajari aku tentang hakekat hidup dan kehidupan, termasuk didalamnnya bagimana carannya mengeloloa sumber alam dan bagaimana caranya makan, kata si Titih memelas. " Sekarang aku akan katakan padamu, bahwa keluargaku bisa hidup sejahtera, makmur dan rukun, karena kami disini bisa mengendalikan diri dengan disiplin yang sangat ketat, sebuah aturan yang disepakati secara demokrasi. Aku biasa melaksanakan tapa berapa berhari-hari, karena suasananya tidak menguntungkan untuk mencari makan" Kata Si Tuma "Maksudnnya?" kata Si Titih penasaran, " Engkau dan aku adalah hidup dari satu cara yaitu dari mengisap darah sang prabu, itu dilakukan tidak di sembarang kesempatan, aku selalu berdasarkan pada ' kala, desa", atau mungkin mirip dengan ' situasi dan kondisi, itu kompas kami untuk mencari makan" Kata Si Tuma sambil tersenyum. " Coba jelaskan apa yang saudara tua maksudkan dengan konsep desa kala ?, kata Si Titih penuh harap. " Yang dimaksud dengan semua itu adalah, sikap kehati-hatian untuk menjaga diri agar jangan terbawa harus emosi, nafsu dan keserakahan, dalam mengisap darah sang prabu. Ada tiga hal yang penting engkau harus ketahui. Pertama, pada siang hari bila hari sedikit panas jika beliau berbaring, sambil berkipas-kipas, maka jangan coba-coba untuk mengisap darah sang prabu, waktunya tidak baik, walaupun beliau tertidur istirahat ini tidaklah lama, engkau harus bisa menahan emosi" Kata Si Tuma. " Lantas yang kedua apa? tanya Titih lagi, " Kedua adalah pada saat malam hari, Sang prabu masuk ke peraduan dan tertidur, walaupan berjam-jam tetap menampakkan rasa gelisah dan sering bergerak-gerak, jangan coba-coba menggigit Beliu, kondisi itu sangat berbahaya, hanya badan belaiu saja yang tidur tetapi pikirannya tidak istirahat sama sekali. Setiap saat bisa bangun dan sadar. Hal ini pertanda banyak masalah yang dihadapi sang raja, negara tidak aman, krisis berkepanjangan, rakyat banyak yang meminta referendum, demontrasi terus menerus digelar, aksi anarkis merajalela, kekerasan berbahu agama merebak dimana-mana, KKN tidak pernah tuntas terselesaikan oleh aparatnnya, dan lain-lain. Semua itu berkecamuk dipikiran raja, membuat tidur raja tidak nyenyak" Kata Si Tuma panjang lebar . Si Titih mengangguk, " Yang ketiga adalah, sang prabu datang ke pembaringan, kemudian tidur, apalagi ada suara ngoroknnya sedikit, apa lagi kejadian itu telah berlangsung relatif lama. Pada saat itu mulailah mengisap darahnnya sebanyak-banyaknnya, dan sepuas-puasnnya, pasti sang prabu tidak akan bangun, walaupun beliau menggaruk-badannya karena gatal, tetapi itu di luar kesadrannya, itu hanyalah gerakan refleks otot, pikirannya telah istirahat, tidak akan bangun" itu kala (waktu ) yang tepat untuk engkau beroperasi, waktu yang sangat menguntungkan, namun waktu sperti itu tidaklah selalu ada, untuk mendapatkan keadaan itu engkau harus menunggu, selama menunggu engkau harus siap berpuasa demi keselamatan bangsa kita. " Kata Si Tuma. " Adakah lagi pesan saudaraku buat kami lagi?" Tanya Si Titih dengan senyum di kulum, " Ada dan ini sangat penting, Kata Si Tuma sambil memperbaiki tempat duduknnya, " Manusia memang banyak akal, Iptek manusia begitu berkembang pesat, engkau dan seluruh bangsa kita harus siap hidup nomaden, bermigrasi setiap beberapa waktu berselang, kalau tidak kita akan mati koyol, setiap waktu, secara periodik, kasur dan 'bad cover' sang raja akan disemprot dengan bahan anti serangga yang beracun, serta dicuci dengan aneka detergent dan memakai beberapa pengarum dan pelunak kain yang semua itu mengandung bahan kimia yang berbahaya bagi kita, jika engkau teledor maka kita semua akan mati keracunan, engkau harus hati-hati, itulah nasehatku" Kata Si Tuma mengakhiri wejangannya. Singkat cerita, saat selesai ngobrol itu, Sang Prabu, datang keperaduannya untuk sekedar rileks, melepas kepenatannya, tetapi apa yang terjadi dengan Si Titih diluar dugaan Si Tuma, dia bernafsu untuk mengisap darahnya sang prabu. Si Tuma pun memberitau agar jangan saat itu, tidak sesuai dengan kala-desa, tetapi sayang Si Titih tetap si Titih yang dulu, bernafsu setelah lama tidak dapat makanan, semua nasehat Si Tuma pergi entah kemana. Melihat paha sang parabu yang putih bersih, Si Titih ngiler, ingin segera mengisapnnya, dia berlari kencang mendekati paha sang prabu, dengan sekuat tenaga Si Titih mengisapnnya. Sang prabu kaget... dan bangun memanggil dayang dan abdi kerajaan lain untuk mencari kutu busuk yang hidup di perbaringan Beliau, kemudian Si Titih ditemukan, dengan sekali tekan, jari-jari pelayan sang raja, menyebabkan nyawa Si Titih melayang. Pencarian pun dilakukan terus sampai dibawah lipantan tilam sang raja, ditemukan lagi Si Tuma dengan keluarganya, sama nasibnya dengan Si Titih, jari-jemari sang pelayan menjadi ladang pembataian bagi keluarga Si Tuma, sekali lagi hanya dengan sekali tekan, si Tuma menyusul Si Titih mati dengan kepala remuk redam, darah segar muncrat dari tubuhnnya yang tambun. Prabu Aeswarya Dala tertegun dan bengong mendengar cerita Ni Diah Tantri, kemudian Ni Diah Tantri pun menyimpulkan apa makna yang tersirat dalam kisah itu :' Si Tuma akhirnnya hancur juga, itulah akibatnnya bila berteman dengan mereka yang liar dan bodoh. Betapapun penuh kasih sayangnnya mereka, kebodohan mereka akan menjerumuskan diri kita ke dalam bencana. Oleh karena itu, hati-hatilah mencari teman, berteman dengan orang jahat sedikit demi sedikit akan mempengaruhi kita juga. Bila ada orang yang memberi tahu paduka sesuatu yang salah secara moral dan bertentangan dengan pikiran paduka, hentikan pergulan dengannya dan tinggalkan dia. Bila paduka mendengar sesuatu yang negatif dan bertentangan dengan prinsip-prinsip kebenaran, tinggalkanlah tempat itu. Bila paduka tetap ada disana dan mendengarkan pembicaraan buruk siapa saja, maka pikiran dan perasaan paduka akan tetap tercemar. Bila paduka selalu menghindari diri dengan segala hubungan atau teman yang yang kotor dan tidak baik, pikiran, perasaan, dan hati paduka akan menjadi murni. Semoga Damai selalu.********

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x