Mohon tunggu...
I Nyoman  Tika
I Nyoman Tika Mohon Tunggu... Dosen

menulis sebagai pelayanan. Jurusan Kimia Undiksha, www.biokimiaedu.com, email: nyomanntika@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Pesan Ritme Malam yang Sepi

6 Mei 2019   07:46 Diperbarui: 6 Mei 2019   07:55 0 2 0 Mohon Tunggu...

Kelelawar mengepak menembus ke gelapan malam, seperti layaknya hewan malam lain, beraktivitas dalam kekosongan waktu. Terbang bagai benda hitam dan berjarak membelah  setiap jeda sebagai  sosok "nilambara" menembus kabut malam. Disana muncul kembali sebagai   pranajiwa, menyilaukan  yang menari dalam pusaran kelembaman dunia maya. 

Ruang itu mengizinkan munculnya seberkas pencerahan,  seperti diungkapkan dengan indah,  bunga-bunga padang adalah anak-anak kasih semesta alam, dan anak-anak manusia adalah bunga-bunga cinta dan kasih sayang.

Mekarnya bunga adalah proses kerja, dan rasa bakti adalah sebuah mata air di dalam hati yang tidak akan pernah dicapai oleh kumpulan pemikiran apapun. Pikiran tak pernah berhenti selama jantung berdenyut memompa darah, dan memberikan sebentuk kesadaran pada jiwa manusia. 

Disana dia berpendar dalam ruas-ruas semesta, dalam bentuknya yang  asali, sebab keindahan sejati terletak pada keserasian spiritual yang diberi nama cinta. Yang dapat bersarang di antara seorang lelaki dan seorang wanita.

Kasih hidup fundamennya adalah kasih sayang, namun untuk memaknai bahwa hidup itu perlu usaha, secara klasik telah diikhtiarkan antar generasi. Lalu, engkau berdiri mematung, tak sadarkan diri, dibelenggu oleh gemerlap dunia. Usaha terus menerus memindai dalam banyak ruas kepentingan hidup yang dimanjakan oleh aneka ragam kemudahan. 

Kemudahan yang terukir dalam banyak produk-produk modern, namun hampa dalam nilai yang penyentuh hati, manusia seakan menjadi batu dan tak pernah hirau kemana pergi setelah ini, karena terkurung oleh beragam sakit yang menjalar tak pernah bisa dihentikan. Kelelawar malam menjadi saksi bisu bahwa jiwa ini mengalami pergulatan yang dasyat untuk digiring pada vibrasi semesta raya.

Usaha untuk mengentikan debat materialisme yang menuntut sang badan, dan kadang membawa tubuh disudut berdebu yang melelahkan dan menjerit dalam setiap dimensi atom-atom untuk  membentuk persenyawaan alam, dalam nurani yang terus membeku, karena riuh oleh banyak kepentingan , jiwa semakin gersang, kesejukan tak pernah hadir sebagai pemandu hidup. Sebab Keyakinan merupakan suatu pengetahuan di dalam hati, jauh tak terjangkau oleh bukti.

Engkau pergi melintasi jalan, kemudian tak pernah bisa berangkat karena menoleh bayangan tak pernah jelas di belakangmu. Lalu hidup seperti apakah itu..? Tak pasti.... . yang engkau lalui tanpa seonggok jiwa, kini dia semakin  menjadi layu, dalam pusaran , nalar-nalar dangkal. 

Aku pikir engkau mulus bergerak dalam laju kehendak, namun alam seakan tak berpihak, sebab duka lara selalu mengimpit dimana suka itu muncul. 

Namun kesenyapan tetap membuat belalang malam, semakin jelas, dan tiupan angin mengkhabarkan bahwa dimensi jiwa sedang dihambang kebimbangan yang dalam.

Desiran angin itu membawa bentuk celotehan semu, riak yang gagap, dalam menerka hidup semakin menjelaskan bahwa hidup ke depan semakin hampa dan tak mudah,kalau dilalui dengan tangan dipangku. Tangan tak berarti banyak karena liuk kompetisi semakin menuntut narasi berlabel, ulet, tabah dan juga taktis serta cerdas. 

Menggapainya bukanlah mudah namun semuanya harus dibangkitkan dalam prosesi pengasah dengan api, kebijaksanaan, bak membakar gerambah menjadi tembikar, api membuatnya kuat dan tak mudah dipecah oleh aliran air.

Lalu lembayung sutra cahaya bulan selalu memberi isyarat bahwa kita tak bisa bermimpi, sebab malam tak membutuhkan mimpi, kerja tak pernah selesai dengan bermimpi, kenyataannya engkau sibuk dalam dengkuran ritmis yang tak membantu kerja usai. 

Aku menyadari bahwa semuanya membutuhkan bara motivasi, sebagai penyulut ledakan fusi yang terus mendera kerak pikiran yang sudah memfosil, dengan dalih bahwa masih ada waktu esok, padahal esok tidak pernah datang, yang ada justru hari ini. 

Sebagian orang bermimpi untuk sukses, sedangkan sebagian lainnya bangun di pagi hari dan mewujudkannya, itulah makna bunga sedap malam yang mewangi menghiasi tempatku termenung menatap cahaya bulan.

Tak terasa, awan mulai berarak meninggalkan bulan , cahaya kembali merekah, menerangi bumi dengan kelembutan yang menawan, nalar-nalar ku tak pernah bisa berhenti merenung, sebab tak ada yang bisa dibuat setelah kesempatan itu pergi lalu menjauh kemudian lenyap. 

Itu sebabnya alasan mengapa banyak orang yang tidak menyadari kesempatan adalah karena kesempatan selalu muncul dalam bentuk kerja keras. Kerja keras adalah ritme yang harus dibangun, alam semesta membutuhkan itu, kalau ingn bergerak maju.

Maju bergerak di dunia ini, bukan diberikan untuk mereka yang jadi pecundang, namun bagi mereka yang gagah sebagai pahlawan, untuk membangun dengan menatap ke depan. Lalu, disudut keping berdebu ku gali mutiara yang nyaris telempar , 'sebab aku harus bangun setiap pagi dengan tekad, jika hendak pergi tidur dengan puas.

Engkau masih tetap mendengkur dalam mimpi, dan memberikan pesan bahwa tak ada yang penting dalam hidup selain rasa puas hanya sekedar bekerja, namun hidup harus menggali dan memasukkan hal-hal berwujud positif, karena diterminal itu, 'hal pertama yang aku dan engkau bangun dalam diri ini untuk bisa menghadapi hari dengan semangat adalah menciptakan sebanyak-banyaknya pikiran menggetarkan jiwa positif. 

Jiwa itu diawali oleh berpikir positif, bagaikan kapak yang tajam untuk merobohkan pohon kemalasan dalam diri. Hanya itu pesan dari ritme malam purwani tilem yang sepi*****