I Nyoman  Tika
I Nyoman Tika Dosen

menulis sebagai pelayanan. Jurusan Kimia Undiksha, www.biokimiaedu.com, email: nyomanntika@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Filsafat

Primodialisme dan Phenodeviant sebagai Katalis Radikalisme

5 Juni 2018   06:30 Diperbarui: 5 Juni 2018   08:41 227 1 0

Radikalisme, konsep yang sangat populer saat ini, radikalisme ditengArai bisa  muncul pada semua agama, golongan, bangsa dan dia hadir sebagai jawaban atas hilanganya pengakuan diri pada  suatu identitas. Oleh karena itu,  kehadirannya  ingin mengokohkan sebuah pengakuan atas keberadaannya yang dihilangkan atau sengaja dihilangkan atas nama kekuasaan, agama dan ideologi. Konstruksi berpikir inilah, sebenarnya, meminjam konep biologi sebagai phenodeviant, membuat mereka tampil beda secara tipikal dengan populasi keseluruhan. Hasrat tampil beda itu, membuat  suatu individu diperhitungkan dalam populasi yang seragam.

Kini gejala phenodeviant dengan  radikalisme  semakin menjadi priomadona, paling tidak menjadi pemikiran  penguasa dan pihak  keamanan. Akibatnya,  Indonesia terus dihantui oleh paham radikalisme  yang kian menyebar, dan anehnya mereka merekrut kelompok usia muda. Artinya, kaum muda sangat mudah  direkrut untuk menjadi komunitas penggerak radikalisme, karena fenomena phenodeviant tadi . 

Hal ini terlihat semakin seringnya ditemukan  kasus-kasus terorisme yang siap  menjadi pengantin" bom bunuh diri. Kebanyak dari mereka adalah kaum muda, yang terlihat sopan , halim dan termasuk orang baik-baik di sekolahnya, namun bila kondisi jiwa yang selama ini tidak tertantang kemudian dimasuki asrat  kuat untuk bisa tamipl dengan jalan berbeda, maka phenodeviant  yang sifatnya permanen pun melahirkan  benih-benih  radikalisme siap tumbuh berbiak dan menjadi besar.Phenodeviant seperti ini berakar pada karakteristik sosial, yang meminjam tesis  Gerrtz (1973)  sebagai primordialisme

Primordialisme  menurut  Gerrtz adalah sesuatu yang berakar pada sesuatu yang sudah takdirnya given atau di mana seseorang terikat secara moral dan oleh berbagai rasa tanggung jawab yang timbal balik pada anggota-anggota kerabatnya, tetangganya, sesama penganut kepercayaan dan agamanya, setidak-tidaknya primordialitas tersebut sebagian besar terwujud oleh adanya kesadaran moral atas sesuatu kemutlakkan yang penting atau utama yang tidak dapat diperhitungkan secara untung rugi semata-mata, diatributkan pada ikatan dirinya sendiri.

Dan ketika ikatan atas dasar kesadaran moral itu diuraikan dan dipetakan untuk ras, agama, suku  dan antar golongan, maka radikalisme juga bisa tumbuh dalam diri elemen-lemennya,  Mengapa demikia? Bila  aspirasi dan kedamaian elemen-elemen itu dalam bentuk komunitasnya  tergerogoti oleh berbagai persoalan yang laten yang tidak terselesaikan dengan amanah. Misal, kasus  reklamasi,  kemiskinan, pembagian sumber daya alam yang tidak adil, hak ulayat adat terganggu oleh investor karena kepentingan pusat, dan  penyelesaian tidak tuntas dan kurang  memuaskan atau  dipaksakan karena adanya kerakusan atas usaha yang mementingkan keuntungan semata juga menjadi benih yang sangat mengkhawatirkan. Kondisi demikian, menjadi ladang bersemai   benih-benih radikalisme yang sangat mujarab.

Kasus yang lain yang bisa memunculkan radikalisme, adalah kuatnya tradisi yang  menghegemoni  karena tradisi dan adat yang dilingkupi oleh generasi tua yang susah diatur, juga menjadikan benih radikalisme dalam skala intern, menjadi proses pembusukkan nilai luhur agama, sebut saja, kebangkitan kelompok atas nama pemurnian agama, dengan tradisi yang kaku merupakan benih radikal yang kerap  merusak ke dalam sehingga secara kohesifitas komunitas bisa terganggu.

Celakanya pemikiran radikal terus menyebar dan mulai merambah kaum muda.. Fenomena ini menunjukkan bahwa  beberapa dugaan, yaitu  (1) adanya kesalahan dalam pendidikan di tingkat dasar, sampai perguruan tinggi  terhadap  toleransi dan keberagaman, serta pikiran terbuka tidak dimiliki para tokoh masyarakat maupun  agama,  (2) adanya  faham radikal yang terus dengan sengaja disusupi masuk ke ruang publik tanpa tedeng aling-aling,  tanpa disadari oleh para pengambil kebijakan,  (3)  politik negara sudah mengendor menanamkan paham negara berdasarkan Pancasila dan Bhinneka  Tunggal Ika, (4) adanya ketimpangan  komunitas yang tidak terwadahi dalam keberagaman di negara ini.

Solusi yang ditawarkan  untuk merdeduksi munculnya phenodeviant yang menjadi benih radikalisme, adalah  pembenahan generasi muda Indonesia saat ini, berangkat dari implementasi  konsepsi bernegara antara lain,  (1) Ada  beberapa  prinsip  yang  harus  diperhatikan  dalam  mengembangkan  lembaga  pendidikan, pertama, kesadaran  magis  (magical consciousness) yang meliputi hakikat hukum, kesadaran nilai-nilai humanis mengamalkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Inonesia. (2) kesadaran  naif  (naival consciousness)  dan  kesadaran  kritis  (critical consciousness) kondisi untuk melahirkan keteladan  kokoh yang perlu dikembangkan dalam bernegara.

Langkah konkritnya dapat diuraikan  antara lain, pertama,  fungsi  menumbuhkan kesadaran  magis  (magical  consciousness). Kesadaran  ini  dikembangkan  dengan  suatu keadaan  kesadaran  yang  tidak  mampu  mengetahui  hubungan  atau  kaitan  antara  satu  faktor  dengan  faktor  yang  lainnya. Misalnya nak-anak di sekolah tingkat dasar dan menengah bahkan taman kanak-kanak berisiko terpapar ajaran intoleransi dan radikalisme, seperti ditunjukan sejumlah penelitian. 

Solusinya adalah, yaitu Pelajaran etika karakter bangsa yang ditinggalkan dan sekarang kembali harus dimasukkan kembali dengan metodologi yang berubah. Mungkin sifatnya bukan doktrin, tapi bagaimana membangun empati anak-anak untuk mengerti bangsanya, soal kemajemukan, dan sebagainya, dalam dimensi inilah pesan bijak Mahatma Gandhi Memberikan kesenangan kepada sebuah hati dengan sebuah tindakan masih lebih baik daripada seribu kepala yang menunduk berdoa. Di koridor itu, maka sejatinya pendidikan memegang peranan penting.  

Pendidikan adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian. Pendidikan sering terjadi di bawah bimbingan orang lain, tetapi juga memungkinkan secara otodidak.[

Dalam hal teroisme, perlu dipastikan tiga hal, Keterlibatan pemerintah pusat dalam hal pendidikan juga perlu masuk ke ranah pemastian materi pendidikan. Ini perlu supaya tak ada muatan terorisme yang masuk ke ruang-ruang kelas di negara ini, Harus ada semacam verifikasi setiap bahan ajaran yang akan dilemparkan kepada anak-anak kita, jangan diracuni dengan hal-hal pemikiran-pemikiran semacam itu. 

Kedua, Selain di sekolah, masyarakat perlu mewaspadai arus informasi yang mengalir via internet. Dewasa ini, sekat ruang pribadi sudah tertembus oleh arus informasi. Konsumsi arus informasi ini bisa berdampak bukan hanya kepada orang berpendidikan rendah, tapi juga bisa merasuk ke dalam diri orang berpendidikan tinggi., Kondisi ini menyangkut, Khususnya masalah informasi, anak-anak kita, keluarga kita, sudah berseliweran informasi-informasi yang masuk. Tidak ada lagi ruang privat untuk kita, anak kita, keluarga kita semuanya.

Kedua,  membangun  kesadaran  naif  (naival  consciousness).  Lembaga  pendidikan  sebagai  sebuah  keadaan kesadaran  yang  melihat  keterbelakangan  oleh faktor individu dari orang lain. Dalam kesadaran ini  masalah,  etika,  kreativitas,  need  for  achivement  dianggap  sebagai  perubahan sosial. 

Dalam dimensi inilah Mahatma gandhi berpesan dengan bijak,  kekuatan terdiri dari dua jenis. Salah satunya diperoleh karena rasa takut pada hukuman dan yang lainnya dikarenakan cinta. 

Kekuatan berdasar cinta seribu kali lebih efektif dan permanen dibanding yang berasal dari rasa takut pada hukuman" Keseluruhan  mekanisme  dan tindakan pembangunan harus  sesuai  dengan  kesepakatan  yang  berada  dalam  sistem  yang  diajarkan  oleh  sistem  pendidikan.  Dari  sinilah  yang  dimaksud pendidikan  telah membatasi  manusia  yang  terkungkung  dalam  nalar  pragmatis.

Ketiga, membangun  kesadaran  kritis  (critical  consciousness).  Kesadaran  ini  memandang  sebab  masalah  dilihat  dari  sistem  alam  atau  struktur  sebagai  sumber masalah. Kesadaran  ini  memberikan  ruang  bagi  masyarakat  agar  mampu  mengidentifikasi  ketidakadilan  dalam  struktur  yang  ada  dan  mampu  melakuka analisis bagaimana  sistem  dan  struktur  lembaga.

Strukur  dipahami sebagai  realitas yang  dilihat  sebagaimana  adanya  yang  diletakkan  sebagai  sebuah sistem.  Dalam  hal  ini  lembaga  pendidikan  merupakan  bagian dari  struktur  realitas.  Oleh  karenanya,  pendidikan  seharusnya  dapat  mengarahkan  peserta  didik  untuk  dapat  melihat  sistem  yang  menjadi  sasarannya  untuk membuka sistem yang membelenggu  dirinya. 

 Sebagai  contoh  munculnya  keterasingan  karena  diskriminasi  peran  kelompok  minoritas  dalam  kelompok mayoritas masyarakat  atau  munculnya  keterasingan seseorang  karena  kemiskinan  dilihat  karena  adanya  sistem  realitas  yang  mengitarinya  tidak  memungkinkan  seseorang untuk dapat keluar dari gubangan sistem yang membelenggu. 

Oleh karena itu pesan Gandhi menarik untuk kita simak kembali, Cinta tidak pernah menuntut, cinta selalu memberi.Cinta selalu menderita, tanpa pernah meratap, tanpa pernah mendendam. Dasari semuanya dengan cinta kasih, maka benih radikalisme tidak akan berkembang, dia tumbuh menjadi pohon yang menyejukkan. Oleh karena itu, maka primordialisme   dan phenodeviant sebagai  katalis radikalisme dapat diinhibisi, sehingga radikalisme tak berkembang lebih lanjut  *****