Mohon tunggu...
Indrian Safka Fauzi
Indrian Safka Fauzi Mohon Tunggu... Full Time Blogger - Pemuda asal Cimahi, Jawa Barat kelahiran 1 Mei 1994. Praktisi Kesadaran Berketuhanan, Kritikus Fenomena Publik dan Pelayanan Publik. Sang pembelajar dan pemerhati abadi. The Next Leader of Generation.

🌏 Akun Pertama 🌏 My Knowledge is Yours 🌏 The Power of Word can change The World, The Highest Power of Yours is changing Your Character to be The Magnificient. 🌏 Sekarang aktif menulis di Akun Kedua, Link: kompasiana.com/rian94168 🌏

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Mengkritisi Hasrat Terbesar Manusia

15 September 2022   06:30 Diperbarui: 15 September 2022   06:46 268 27 10
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Deep Desire (Sumber: Freepik)

Selamat membaca Sahabat Kompasianer dan Reader Terhormat dan Terkasih.

Pagi ini saya membaca Buku karya Dale Carniege, "How to Win Friend and Influence People". Ada gagasan menarik dibahas yaitu tentang hasrat terbesar manusia.

Sigmund Freud berkata salah satu hasrat terbesar manusia adalah untuk menjadi besar. Sementara John Dewey sang Filsuf Amerika paling terkenal, hasrat terbesar manusia adalah untuk menjadi penting. Bagi saya kedua hal tersebut bertentangan dengan apa yang menjadi hasrat terbesar orang-orang yang religius. Seperti ungkapan status hampir Sahabat Kompasianer terhormat ungkap pada akunnya, yakni hasrat untuk memberikan kebermanfaatan bagi sesama.

Saya sendiri cenderung setuju dengan apa yang sahabat Kompasianer tulis di statusnya yang menjadi hasrat terbesarnya yakni, memberikan kebermanfaatan kepada sesama hidup. Bagi saya memberikan kebermanfaatan kepada sesama, itu lebih langgeng dirasakan oleh orang banyak peran kita kepada kehidupan, dibanding hanya menjadi penting dan menjadi besar.

Banyak orang-orang terjebak dengan paradigma berfikir untuk menjadi penting dan menjadi besar. Tak ayal setelah menjadi penting dan besar, banyak diantara mereka menyalahgunakan status kepentingannya dan status kebesarannya, hanya demi sebuah materi dan kenikmatan duniawi yang dikejarnya. Alhasil, tidak sedikit yang terjerat dengan berbagai skandal dan kasus yang disorot oleh kebanyakan masyarakat, karena ada pelanggaran hukum pada prosesnya.

Yang namanya makhluk bernama manusia, pasti tidak luput dari kesalahan. Ada saja tergelincirnya, itu karena manusia mengejar segala hal yang padahal bakal manusia tinggalkan, dan tidak kekal.

Banyak hal yang dicari manusia jika sudah mengejar hasrat untuk menjadi besar dan penting, demi hal-hal duniawi yang amat dicintainya diantara lain:

  • Uang dan kekayaan duniawi.
  • Ilmu yang dimakan sendiri.
  • Kenikmatan dunia yang mewah.
  • Pengakuan.
  • Pembuktian.
  • Bahkan tipu daya sekalipun, jika diperlukan.

Pertanyaan besarnya, apakah 6 hal yang dicintai manusia diatas benar-benar akan menolong manusia kelak di hari pertanggungjawaban di hadapan Tuhan? Atau malah memberatkan kesaksian pada dirinya? Yah itu juga kalau manusia tersebut meyakini akan hadirnya hari pertanggungjawaban tersebut. Masalah percaya atau tidak percaya, toh manusia kelak akan merasakan apa yang akan terjadi kelak. Tidak ada unsur pemaksaan untuk percaya, bagi siapapun.

Oleh karena itu, saya mengkritisi gagasan Sigmund Freud dan John Dewey. Apa urgensinya untuk menjadi besar dan penting untuk kehidupan manusia ini?

Sungguh beruntung manusia yang memperjuangkan untuk yang hidup. Proyek keabadian diri manusia dapat lebih dirasakan kebermanfaatannya oleh orang banyak, karena manusia tersebut mendedikasikan dirinya semasa hidup hingga akhir hayat menjelang, untuk derma dan kontribusi yang memberikan kebermanfaatan bagi sesamanya.Β 

Menjadikan kebermanfaatan tersebut sebagai pahala yang tidak pernah putus yang kemudian dirasakan manusia bahkan setelah meninggalkan alam dunia.

Apa saja yang bisa menjadi kebermanfaatan bagi orang banyak? Diantaranya:

  • Ilmu yang bermanfaat yang dibagikan terus-menerus.
  • Sedekah yang tidak pernah putus.
  • Berkarya dan berkontribusi untuk kemajuan bangsa dan negerinya.
  • Membangun fasilitas dan membuat benda fungsional untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
  • Menanam pepohonan atau tanaman bermanfaat di lingkungan untuk menopang kehidupan masyarakat.
  • Memberikan pencerahan spiritual yang benar untuk banyak orang yang membutuhkannya.Β 
  • Dan masih banyak lagi yang bersifat penuh ketulusan tiada kepamrihan didalamnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan