Mohon tunggu...
Indrian Safka Fauzi
Indrian Safka Fauzi Mohon Tunggu... Full Time Blogger - Pemuda asal Cimahi, Jawa Barat kelahiran 1 Mei 1994. Praktisi Kesadaran Berketuhanan dan Kritikus Fenomena Publik dan Pelayanan Publik. Sang pembelajar dan pemerhati abadi.

🌏 Humaniora, Filsafat, Fiksiana, Ruang Kelas, Lyfe, Politik, Teknologi, Life Hack dan Gaya Hidup 🌏

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Advance Civilization: Silih Asih Silih Asah Silih Asuh Silih Seuseungitan

17 Mei 2022   05:00 Diperbarui: 17 Mei 2022   13:27 322 43 8
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Instagram/Nyoman_Nuarta

Sebuah filosofi "Silih Asih Silih Asah Silih Asuh Silih Seuseungitan" dari Kearifan lokal warisan leluhur Sunda, tentunya mengajarkan bahwa Bumi Nusantara kaya akan budaya.

"Silih Asih Silih Asah Silih Asuh Silih Seuseungitan" merupakan peradaban masyarakat yang paling puncak, dimana kata silih berarti saling.

Silih Asih, berarti saling mengasihi. Tangga awalnya manusia berupaya untuk mengasihi tanpa ada niatan untuk dikasihi. 

Mengasihi murni karena mengasihi. Tak ada keinginan transaksional seperti dagang dalam mengasihi, semua dilakukan penuh ketulusan, memberi demi ingin memberi kebermanfaatan hidup. 

Tangga akhirnya manusia seluruhnya terkoneksi dengan cinta, dimana seluruh beritikad memberi tanpa harap diberi. Hingga terjalin hubungan mutualisme dari manusia, ke manusia, dan oleh manusia.

Silih Asah, berarti saling memperkuat. Tangga awalnya manusia berupaya untuk mencerdaskan sesama tanpa ada niatan untuk mendapatkan imbal balik dari perjuangannya. 

Tangga akhirnya seluruh manusia saling memperkuat potensi sesama, menambal kekurangan sesama, saling memberikan pengetahuan penuh kebermanfaatan, saling mengingatkan dan saling menasihati dalam kebaikan dan kebenaran seperti bunyi firman Allah dalam Surah Al Ashr ayat 3 yang berbunyi:

"Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran."

Silih Asuh, berarti saling membimbing, merawat dan mengasuh. Tangga awalnya manusia berupaya mengasuh sesama agar terpenuhi kebutuhannya, tanpa ada itikad mendapatkan imbalan, seperti sang ibu mengasuh bayi mungilnya dengan penuh ketulusan. 

Tangga akhirnya seluruh manusia saling membimbing, merawat dan mengasuh sesamanya agar semua terpenuhi kebutuhannya, berkecerdasan dan berkarakter. Terkoneksi antar sesama dengan sifat welas asih, semuanya begitu harmoni, tanpa cela menyesatkan sesama.

Silih Seuseungitan, berarti saling meluhurkan. Tangga awalnya manusia berupaya meluhurkan sesama dengan apresiasi dan ungkapan terima kasih atau syukur kepada sesama hidup, tanpa berharap dipuji atau disanjung

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan