Mohon tunggu...
Intan Rifiwanti
Intan Rifiwanti Mohon Tunggu... Human-ist

Menulis adalah salah satu cara yang baik untuk bicara.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Yth. Kamu yang Selalu Merindukanku

29 Juni 2020   21:03 Diperbarui: 29 Juni 2020   21:09 32 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Yth. Kamu yang Selalu Merindukanku
dok. pribadi

Hai, kangen, ya? Hehe

Aku berharap, kamu dapat memaklumi dan tentu saja memaafkan. Akhir-akhir ini aku malas sekali menulis. Pernah sesekali menulis, tapi tidak selesai, lalu aku tinggalkan tulisan itu hingga teronggok di ruang penyimpanan. Beberapa waktu lalu, kamu—seseorang yang selalu bilang kangen padaku, yang aku juga selalu kangen padamu, merengek meminta dibuatkan tulisan. Baik. Kepadamu—seseorang yang kusayang, akan aku tunaikan.

Kamu adalah sosok yang sudah pasti ada banyak penyebab mengapa aku menaruh sebagian hatiku padamu. Kita sudah lama bersahabat. Dulu ketika masih sekolah, memang tidak ada yang spesial antara kita. Beberapa bulan menjelang kelulusan, hubungan kita sedikit naik level dari teman biasa menjadi sahabat dengar berbagai cerita. Kita tahu, hal ini berlangsung sampai kuliah.

Aku memang tipekal orang yang cuek, senjang sekali dengan kamu yang terlihat sangat peduli, dalam hal chat misalnya. Kamu sering membuka topik bicara, aku jarang memulai bahkan sering kali tidak merespon. Aku memang saat itu tengah membiasakan membuat orang lain kecewa, termasuk kamu.

Aku lelah hidup dalam frame yang dibikin-bikin orang. Aku bukan orang baik sebaik yang orang kirakan tentangku. Kendati begitu, kamu tetap sabar menerimaku yang jarang merespon, yang sering meninggalkan room chat saat aku menganggap chat darimu sudah tidak memerlukan balasan. Secuek itu aku padamu dulu.

Kepadamu, aku tidak memiliki perasaan lebih dari sahabat dan teman diskusi. Sampai suatu saat kamu menantangku untuk puasa bicara selama setahun, aku baru merasai kehilangan. Sesekali aku baper saat menemukan tulisan di blog pribadimu. Isinya tentang kenangan bersamaku.

Aku sempat berpikir, “Kamu menulis begitu maksudnya apa, ya?” Setiap kali muncul baper, aku selalu menepisnya. Kamu hanya sahabatku, yang selalu mau menyimak segala curahanku dan aku tidak mau kehilangan kamu dari posisi itu.

Setelah puasa bicara tunai, kita jadi sering mengobrol. Tempo obrolan kita relatif cepat dan bisa dibilang sering. Lagi-lagi aku selalu menepis ketika baper melandaku.

Dalam hal diskusi, lebih sering kamu yang memulai duluan. Sesekali aku yang membuka. In case, aku jadi lebih terbuka. Mungkin karena kangen setelah setahun tidak bertegur sapa. Kita semakin dekat. Kita telah sangat dekat.

Awal bulan November di usiaku yang nyaris meninggalkan singgasana 22, melalui sebuah mention di twitter, semua rahasia tentang perasaanmu padaku terbongkar. Ternyata kamu secara diam-diam mengagumiku. Aku terharu bukan bikinan. Hampir tiga tahunan mungkin, kamu menyembunyikan perasaanmu secara sepihak. Aku sama sekali tidak tahu. Pun aku tidak peka dengan kode-kode yang kamu berikan. Ah, tidak selalu begitu. Itu karena aku memang selalu menepisnya.

Komunikasi kita setelah drama terbongkarnya rahasia itu, jadi semakin intens. Setelah tahu perasaanmu padaku, aku jadi mencoba meyakinkan diri. Apakah baperku yang dulu-dulu itu berasal dari hati dan bisakah bertahan lama? Atau hanya sesekali singgah saja?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x