Mohon tunggu...
Intan Rifiwanti
Intan Rifiwanti Mohon Tunggu... Guru - Human-ist

Menulis adalah salah satu cara yang baik untuk bicara.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Sang Inspirator

1 Juni 2020   10:20 Diperbarui: 1 Juni 2020   10:45 84
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

Sedih, merana, perih, pilu, bercampur menjadi gado-gado. Lengkap dengan bumbunya yang dominan pahit. Sakit adalah kondisi yang menjengkelkan. Kondisi yang tidak pernah aku harapkan. Ini adalah kali pertamaku menyaksikan bahwa dokter memvonisku menderita  gejala jantung. Hatiku miris saat itu. Ditambah lagi dengan satu kenyataan meyakitkan bahwa aku mengidap lambung kronis.

Assalamu’alaykum Kak Iwan, maaf di hari terakhir saya tidak bisa hadir karena saya sakit. Makasih atas ilmu yang kakak berikan selama 2 hari MOS. Ini ada sedikit kenang-kenangan dari saya, semoga kaka mau menerimanya. Wassalamu’alaykum.” Itulah tugas terakhir dari senior, yaitu membuat surat kecil yang harus disampaikan di hari ketiga Masa Orientasi Peserta Didik Baru.

Aku juga menyelipkan nomor phone cellku di dalam suratku. Dan sesuai harapan, Kak Iwan membalas pesanku.

Wa’alaykumussalam, iya, gpapa. Syukron untuk kenang-kenangannya. Kakak suka. Nadia sakit apa? Semoga lekas membaik, ya..” Begitulah balasan dari Kak Iwan. Wah, senangnya.

Aku ceritakan semuanya sampai panjang dikalikan lebar sama dengan luas. Hehehe... Tentang sakitku. Tentang perasaanku. Aku malahan curhat sama kakak yang satu itu. Nyaman banget rasanya. Namun, sebenarnya aku takut kalau akan mengirim pesan singkat. Takut mengganggu aktivitasnya, karena aku tahu dia seorang yang sibuk karena dia bagian dari kepengurusan OSIS. Organisasi siswa tertinggi di sekolah.

Semenjak aku divonis sakit, aku mulai sering tidak masuk sekolah. Aku yakin, buku laporan hasil belajarku kelak pasti banyak coretan pena di kolom hadir siswa. Aku lebih sering mengunjungi dokter bersama ibuku atau sesekali bersama Mba Nindy. Tidak sedikit obat berhasil kutelan dan rasanya pahit. Setiap orang pasti akan mengeluh bila harus berhadapan dengan tablet dan kapsul yang menjengkelkan. Akulah yang setiap harinya memang suatu keharusan menelan obat-obat itu sampai habis dan aku sembuh. Beruntungnya, keluargaku terus memberiku semangat. Tak lekang mereka mengingatkanku untuk pandai bersyukur.

Assalamu’alaykum Nadia, gimana kabar?” nama Kak Iwan muncul di inbox ponselku sebagai pesan singkat.

La Tahzan, jangan bersedih. Meskipun sedang sakit harus tetap semangat. Mungkin ini cara Tuhan menunjukkan kasih sayang-Nya buat Nadia. Allah sangat sayang pada Nadia, makanya, Nadia juga harus sayang pada Allah dengan tetap menjaga iman Nadia. Okey?” begitulah salah satu bentuk perhatiannya terhadapku.

Banyak hal yang kami bicarakan. Intinya curahan hatiku semua. Hehehe.. sampai akhirnya, Kak Iwan tertarik dengan ceritaku dan berniat mengadopsi kisahku menjadi cerita pendek.

“Kakak terinspirasi dengan kisah Nadia. Sebenarnya pengin kakak buat cerita panjang atau novel, tapi kalau itu, kaka belum sanggup. Ilmu kakak masih cetek. Vocabsnya juga limit. Mwhehe...” guraunya yang mengasyikkan terhenti karena langit yang menghitam mulai berhiaskan kelap-kelip bintang. Alam menghentikan obrolan kami karena matahari telah sempurna tenggelam dan memberi isyarat untuk selekas mungkin melaksanakan kewajiban salat magrib.

Bulan yang hampir bulat berlatar langit di musim kemarau mengundang kesan yang dalam. Suasana Hari Raya masih terasa begitu hangat. Betapa bangganya aku, ketika aku menjadi objek cerita Kak Iwan yang pastinya akan menjadi bagian dari koleksi cerpen karyanya. Pun aku senang, ini adalah kali pertamaku menjadi salah satu inspirator. Angkasa kelam sepi membisu. Hawa dingin terasa menusuk melalui celah-celah di ariku dan menuntut mekanisme tubuhku untuk beristirahat. Aku menurut.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun