Mohon tunggu...
Intan Afika N A
Intan Afika N A Mohon Tunggu... Mahasiswa yang harus membuat artikel di kompasiana

Bismillah, lagi belajar.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Curhatan Seniman Bogor, Punahnya Tari Tayub, Desa Sinar Sari

6 Maret 2019   13:11 Diperbarui: 6 Maret 2019   13:24 0 0 0 Mohon Tunggu...
Curhatan Seniman Bogor, Punahnya Tari Tayub, Desa Sinar Sari
Gambar: Wawan Dewantara menari Tari Tayub | dokpri

Desa Sinar Sari, Bogor -- Seniman senior yang merupakan seorang penari, dalang sekaligus budayawan asal Bogor, Wawan Dewantara, menyebutkan bahwa Tari Tayub saat ini terancam punah.

Beliau mengatakan, punahnya Tari Tayub di Bogor terlihat dari pertemuan para tokoh budayawan dan seniman se-Jawa Barat tahun lalu, tenyata hanya tiga orang  tokoh Tertua penari Tari Tayub yakni dari Bogor, Sumedang dan Bandung. Selain itu, Beliau mengatakan saat ini sulit menemukan regenerasi penari Tayub.

"Bahkan untuk mencari orang yang bisa memukul gamelan saja sekarang sudah susah," katanya.

Sekilas Beliau menceritakan sejarah Tari Tayub yang merupakan tarian yang ia teruskan dari buyutnya sendiri yaitu AA Isra Sasmintara. AA Isra Sasmintara adalah seniman silat, penari, dalang, sekaligus tokoh pendiri Galuh Pakuan pada tahun 1883 dan telah wafat saat usia 99 tahun.

Setelah Beliau wafat, Galuh Pakuan dilanjutkan lagi ke generasi selanjutnya. Saat ini, Sanggar Galuh Pakuan dilanjutkan oleh cucu dari Wawan Dewantara. Eksistensi sanggar ini tidak surut, bahkan semakin maju dan berkembang di bawah bimbingan tokoh-tokoh penerusnya. Bahkan Galuh Pakuan telah membuka banyak cabang sanggar di Bogor. Beberapa diantaranya yaitu Obor Sakti, Bagaskara, dan Sweet Gapa. Cabang-cabang tersebut didirikan oleh anak-anak yang telah belajar kesenian dari Sanggar Galuh Pakuan.

Banyak warga negara asing yang datang ke Sanggar Galuh Pakuan untuk mempelajari budaya Sunda. Beliau baru saja pulang ke rumah setelah menetap selama 1 bulan di Austria.

"Sekitar 27 warga negara asing yang belajar budaya kita di sini. Kadang mereka menetap, kadang nginep, dan bahkan ada yang membuat rumah disini. Biasanya yang dari Belanda dan Prancis belajar silat, ada juga yang belajar tari klasik seperti Austria, Rusia, dan Jerman," katanya.

Tari Tayub ditarikan oleh penari laki-laki dimana para penari bergerak sesuai dengan kemampuan dan keterampilan masing-masing diiringi irama gending.

Tari Tayub mengandung falsafah hidup yakni berketuhanan dimana setiap geraknya melambangkan penghormatan terhadap Yang Maha Kuasa. Dalam gerakan tari tradisional itu ada duduk, duduk itu melambangkan dasar, dan dasar itu dari agama.

"Di Tayub itu ada gerakan adeg yaitu posisi pendirian. Lalu ada istilah Cindeg, terus ada lontang kanan, kiri dan sembah. Itu salah satunya mengenai timbang baik buruknya hidup diserahkan kepada Tuhan," katanya.

Ia mengatakan bahwa sampai saat ini, belum ada perhatian dari pemerintah mengenai seni yang ia geluti.  Bahkan dalam pengurusan visa, paspor dan sebagainya masih sering dipersulit. Selain itu, masyarakat Indonesianya pun kurang mencintai budaya sendiri dan memilih mempelajari budaya negara lain.

"Anak-anak sekarang tariannya tidak ada nilainya. Kalau di Sunda kan Tarian Tayub ada nilainya, yaitu mengingat Allah. Coba kalo tarian-tarian anak sekarang yang dari budaya-budaya luar, kan tidak ada nilainya. Semua seni dari Sunda dan Bali pasti memiliki nilai falsafah hidup," katanya.

Beliau berharap agar pemerintah bisa lebih peduli dengan budaya-budaya yang ada di Indonesia dan untuk generasi zaman sekarang, harus lebih memerhatikan dan mau melestarikan tarian-tarian yang ada di Indonesia.

"Harapan Bapak, semoga pemerintah lebih peduli dengan budaya kita. Anak muda sekarang juga harus lebih memerhatikan dan mau melestarikan tarian-tarian Indonesia. Kita harus menjadikan budaya kita sebagai filter. Jangan mencintai budaya bangsa lain. Orang asing aja jauh-jauh ke sini belajar budaya kita, masa kita yang orang Indonesianya sendiri gak mau mencintai budaya kita. Kesenian itu harganya milyaran loh. Maka pertahankanlah." Lanjutnya.

(Oleh: Intan Afika Nuur Aziizah)