Mohon tunggu...
intan rahmadewi
intan rahmadewi Mohon Tunggu... bisnis woman

seorang yang sangat menyukai fashion

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Empatikah Kita terhadap Anak?

23 Juli 2019   13:47 Diperbarui: 23 Juli 2019   14:02 48 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Empatikah Kita terhadap Anak?
tirto.id

Masih ingat keluarga pengebom tiga gereja di Surabaya? Keluarga Dita Oepriyanto adalah keluarga kelas menengah lulusan salah satu perguruan tinggi negeri di Surabaya. Dita punya empat orang anak yaitu Yusuf (18 thun), Firman (16 tahun) dan Fadila (12 tahun) serta Famela (9 tahun)

Beberapa media mengungkap beberapa kesaksian soal perilaku anak-anak Dita sesaat sebelum kejadian itu. Dalam kisah yang diturunkan oleh media terungkap bahwa Dita dan anak-anak laki-lakinya melakukan salat subuh di masjid dekat rumah mereka di satu perumahan. Saat itu terlihat anak kedua yaitu Firman yang biasanya tersenyum cerah tapi hari itu dia menangis tiada henti. Sesekali dipeluk dan dielus oleh ayahnya. Kejadian itu terekam di benak Herry seorang petugas keamanan yang juga mengenal keluarga itu dan kebetulan salat subuh bersama. Sebelumnya Herry menganggap Firman sebagai sahabat kecilnya.

Tak lama kemudian Yusuf dan Firman menaiki sepeda motor dengan membawa sebuah beban. Sepeda motor mereka melaju dari arah Rungkut -- daerah tempat tinggalnya ke daerah  Ngagel, tepatnya ke gedung Gereja Santa Maria Tak Bercela di jl Ngagel Madya. Tepat pk 07.30 bom meledak di halaman gereja tersebut.  Bom yang dibawa Yusuf dan Firman meledak setelah terkendala olh salah satu volunteer keamanan gereja yaitu Bayu yang merupakan umat Gereja itu juga.

Selang lima menit kemudian bom meledak di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) di jl Arjuno. Bom dilakukan oleh sang ayah, Dita dengan membawa mobil Avansanya. Kemudian bom kembali meledak di GKI Diponegoro, jl Diponegoro Surabaya. Pelakunya adalah istri Dita dan anak bungsunya yang masih berusia 9 tahun yaitu Famela. Seluruh pelaku dalam hal ini keluarga Dita tewas pada kejadian di tiga titik  itu.

Dari peristiwa itu kita bis melihat bahwa anak-anak dalam keluarga Dita telah dicekoki paham radikal yang tidak semestinya dilakukan orangtua terhadap anak-anak. Anak-anak punya hak untuk mendapatkan informasi yang netral dan sesuai dengan perkembangan jiwanya, sehingga lingkungannya dalam hal ini keluarga atau sekolah sebenarnya tidak berhak memberikan atau memaksakan doktrin-dotrin tertentu pada mereka termasuk doktrin radikal.

Yusuf dan Firman yang remaja dan akan beranjak dewasa seharusnya punya atau berdaya menerapkan pilihan-pilihannya sendiri atas informasi. Dari gelagat Firman yang menurut kisah saksi menangis ketika salat subuh terkesan bahwa Firman tidak sepenuh hati menuruti keinginan orangtuanya yang radikal. Mungkin dia masih senang hidup di dunia dan tidak ingin melakukan bom bunuh diri; dia punya hobby yang dia senangi, dan teman-teman yang dia sayangi.

Begitu juga dengan Famela yang masih berusia sembilan tahun. Mungkin saja dia punya pilihan-pilihan sendiri bagi masa depannya selain yang ditawarkn oleh orangtuanya yaitu sebagai pelaku bom bunuh diri sekaligus korban bom itu sendiri. Jika dia masih hidup mungkin dia tidak setuju dengan apa yang dilakukan oleh orngtuanya dan punya cita-cita dan harapan yang ingin diwujudkannya. Tapi seusia dia mungkin belum bisa menyatakan pendapatnya.

Melihat peristiwa pelaku -korban Bom Surabaya yang melibatkan anak-anak-, mungkin kita bisa belajar untuk berempati soal perasaan anak-anak terhadap semestanya. Apa yang dirasakan oleh anak belum tentu sama dengan orangtua. Juga soal keinginan, keyakinan, cita-cita dan harapan mereka. Mereka seharusnya merdeka dengan pikiran mereka sendiri. Hal itu mungkin harus jadi perenungan kita.

Selamat hari Anak Nasional. Selamat berempati terhadap anak-anak kita.

VIDEO PILIHAN