Deany Yasir Wirya
Deany Yasir Wirya Guru Swasta

Tinggal di Jakarta. Bekerja sebagai pendidik. Ayah dari Sarah Hanifa F. dan Almira Hanifa F. Sedang belajar menulis.

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Mau Menjadi Guru Sekolah Indonesia di Luar Negeri?

17 Mei 2018   14:10 Diperbarui: 17 Mei 2018   14:15 482 0 0
Mau Menjadi Guru Sekolah Indonesia di Luar Negeri?
Foto Pribadi

Pada tanggal 6-9 Mei 2018 bertempat di salah satu hotel kawasan Melawai, Jakarta-Selatan ,  sebanyak 110 orang yang terdiri atas kepala sekolah dan guru se-Indonesia telah mengikuti proses seleksi bersama penerimaan kepala dan guru sekolah di luar negeri  tahun anggaran 2018.

Pada tahap ini terdapat 116 peserta yang telah memenuhi pesyaratan administrasi untuk mengikuti seleksi lanjutan. Dari Jumlah tersebut, kemudian akan dipilih 29 guru dan 4 kepala sekolah. Mereka akan ditempatkan di berbagai negara diantaranya; SILN Kuala Lumpur, SILN Johor Bahru, Sekolah Indonesia Kota Kinabalu, Sekolah Indonesia Bangkok, Sekolah Indonesia Davao City, Sekolah Indonesia Riyadh, Sekolah Indonesia Jedah, Sekolah Indonesia Kairo, Sekolah Republik Indonesia Tokyo, dan Sekolah Indonesia Singapura.

Formasi yang dibutuhkan pada tahun anggaran 2018 adalah : Kepala Sekolah 4 orang, Guru Bahasa Indonesia 2 orang, Guru Bahasa Inggris 1 orang, Guru Bimbingan Konseling 2 orang, Guru Kelas 5 orang, Guru TK/PAUD 2 orang, Guru IPA Fisika 2 orang, Guru IPA Biologi 1 orang, Guru IPA Kimia 1 orang, Guru IPS 1 orang, Guru Matematika 2 orang, Guru Pendidikan Agama Islam 1 orang, Guru Pendidikan Agama Kristen 1 orang, Guru Penjaskes 2 orang, Guru Seni Budaya/Seni Musik 4 orang, Guru SMK Perhotelan 1 orang, dan Guru SMK Tata Boga 1 orang.

Hari pertama seleksi diawali dengan pembukaan yang  secara resmi dibuka oleh Kepala Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri, Kemendikbud, Ir. Suharti, M.A, Ph. D. Pada kesempatan tersebut beliau menjelaskan bahwa menjadi guru SILN itu tidak mudah. Karena selain menjadi seorang pendidik, para guru juga diminta menjadi duta Indonesia yang tugasnya membantu KBRI dalam mempromosikan budaya Indoensia. Selalu siap dengan semua tantangannya., berinterkasi dengan guru guru di negara setempat, dan juga mendapatkan pengalaman yang berarti atau best practice.

Selanjutnya para calon guru tersebut harus menjalani serangkaian tes, diantaranya:  Tes Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI),  Tes Kemampuan Bahasa Inggris,  Psikotes,  Wawancara, dan Microteaching. Sedangkan tes untuk calon Kepala SILN adalah Tes  UKBI, Tes Kemampuan Bahasa Inggris, Psikotes, Presentasi , Wawancara, dan   Leaderless Group Discussion (LGD).

Tes Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) bertujuan untuk mengukur kemahiran berbahasa Indonesia bagi penutur Bahasa Indonesia atau asing. Pada tes ini, para peserta mengikuti beberapa tahapan. Tahap pertama, yaitu mendengarkan. Tahap ini bertujuan untuk mengukur kemampuan peserta dalam memahami informasi yang diungkapkan secara lisan, baik dalam bentuk dialog maupun monolog. Tahap ini terdiri atas 40 butir soal plihan ganda dengan alokasi waktu 25 menit. Tahap kedua, yaitu merespon kaidah. 

Tahap ini bertujuan untuk mengukur kemampuan peserta dalam merespon penggunaan kaidah bahasa Indonesia denga formal, yaitu ejaan, bentuk pilihan kata dan kalimat. Tahap ini terdiri atas 2 butir soal piihan ganda dengan waktu 20 menit. Tahap ketiga, yaitu membaca. Tahap ini bertujuan untuk mengukur kemampuan peserta dalam memahami isi bacaan secara tertulis. Tahap ini terdiri atas 40 butir soal pilihan ganda dengan alokasi waku 45 menit.                                                    

PERSYARATAN ADMINISTRASI

Pada laman mutasi.sdm.kemdikbud.go.id tercantum persyaratan umum dan persyaatan khusus yang harus dimiliki oleh calon guru Sekolah Indonesia di Luar Negeri tahun angaran 2018. Persyaratan umumnya adalah: Warga Negara Indonesia, Usia maksimal saat mendaftar adalah 40 tahun, sehat jasman/rohani dan bebas NARKOBA, berkelakuan baik dan tidak pernah dihukum penjara, dan diutamakan memiliki Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan (NUPTK).

Sedangkan persyaratan khususnya adalah: berstatus sebagai Guru bukan Pegawai Negeri Sipil, berijazah minimal S-1 sesuai bidang yang dibutuhkan dengan minimal IPK 2.75, dutamakan telah mengikuti Uji Kompetensi Guru, memiliki kecakapan dalam berbahasa Inggris dibuktikan dengan sertifikat TOEFL Prediction Score minimal 450 atau IELTS 5.0, untk calon Guru Sekolah Indonesia Riyadh, Sekolah Indonesia Jeddah, 

Sekolah Indonesia Kairo  diutamakan memliki kemampuan tambahan Bahasa Arab. Selain itu calon guru juga diutamakan memiliki sertifikat/penghargaan tingkat nasional sebagai keterampilan tambahan selain mengajar, seperti : Olahraga, Pramuka, Seni Budaya, Keagamaan, Prakarya, Teknologi Informasi Komunikasi (ICT), Akuntansi/Keuangan, dan lain-lain.                                                                                                                                                                                  

Foto Pribadi
Foto Pribadi

MENGEJAR IMPIAN MENJADI GURU DI LUAR NEGERI

Menjadi guru di luar negeri merupakan impian kebanyakan guru di Indonesia. Selain  nominal gaji yang ditawarkan oleh pemerintah, sebagai duta Indonesia, guru juga akan berkesempaan belajar budaya negara setempat, dan berbagi pengalaman dengan guru lain.

Para peserta yang hadir berasal dari berbagai daerah di Indonesia, seperti : Aceh, Medan, Padang, Riau,  Lampung, Jakara, Bandung, Banten, Bekasi, Cirebon, Semarang, Malang, Balikpapan, Makassar, Bali, Lombok dan yang lainnya. Memang para peserta masih didominasi oleh guru-guru yang berasal dari Pulau Jawa

Mereka datang dengan bebagai macam latar belakang pendidikan, budaya, dan motivasi.  Seperti halnya peserta dari Pati, Jawa Tengah, Chilvia Faragus yang melamar untuk fomasi guru kelas SD. Ia mengatakan bahwa ia baru pertama kali mengikuti seleksi ini dan berharap bisa lulus. Ia sangat bersemangat sekali dalam mengikuti setiap rangkaian tes tersebut. Selama mengikuti seleksi, Chilvia mendapatkan pengalaman, wawasan, dan juga teman baru dari seluruh Indonesia.

Sementara Ahmad Zaenurrohman Wakhid, peserta asal Purworejo Jawa Tengah, berharap bisa lulus seleksi dan menjadi guru agama di luar negeri . Pria yang akrab dipanggil Zein itu  mengatakan bahwa seleksi ini adalah salah satu sarana yang tepat untuk mengetahui kualitas dirinya sebagai guru. "Jangan bilang hebat jika belum ikut seleksi ini"ujarnya.

Selama seleksi para peserta terlihat akrab satu sama lain. Di sela-sela seleksi, mereka saling berbagi pengalaman hidup, suka duka mengajar di kota ataupun di desa, bertukar informasi, pengetahuan, bahkan cerita lucu saat meagajar. Mereka justru tidak menganggap peserta lain sebagai saingan mereka, tetapi malah seperti saudara seprofesi. Bahkan beberapa guru yang berasal dari daerah membutuhkan acara-acara seperti ini yang mempertemukan guru-guru se-Indonesia dalam berbagi pengalaman demi peningkatan kualitas dan pemerataan pendidikan di Indonesia.

Di malam akhir seleksi, beberapa peserta tidak mau menghabiskan waktunya begitu saja di dalam hotel. Mereka memilih untuk menikmati keindahan Jakarta di malam hari dengan menumpangi Bus Trans Jakarta dan berakhir di Monumen Nasonal (MONAS). Mereka adalah Ariz dari Aceh, Kudev dari Malang, Ummu dari Cilacap, Sujianto dari Malang, Adrian dari Surakarta, Ishak dari Makassar, Chilvia dari Pati, Humaidi dar Malang, Kudev dari  Semarang, Tri Wulansari dari Surabaya, Zain dari Purwokerto, Amirul dari Malang,  dan Fitri dari Bandung.  Selama berkeliling di kota Jakarta mereka dipandu oleh peserta dari Jakarta, yaitu Firdaus dan Deany Yasir. Selamat datang di Jakarta teman-teman. Semoga sukses dan mendapatkan hasil ang terbaik saat pengumuman hasil seleksi nanti.


Foto Pribadi
Foto Pribadi

"My beloved fellows, we have had extraordinary togetherness, a moment to remember, a memory to treasure, proud being a teacher, proud to be surrounded by exceptional inspirator.  Indonesia, thank you." Deany Yasir 

Foto Pribadi
Foto Pribadi

Foto Pribadi
Foto Pribadi
Foto Pribadi
Foto Pribadi