Analisis Artikel Utama

Politisi dan Kepungan Minuman Perisa

19 Maret 2019   10:16 Diperbarui: 20 Maret 2019   10:41 342 6 2
Politisi dan Kepungan Minuman Perisa
Sumber gambar : pixabay.com

Saya menemukan sesuatu yang unik.

Setelah saya sadari ternyata minimarket di sekitar kita justru lebih banyak memajang dan menjual minuman perisa ketimbang menjual dan memajang buah aslinya langsung alih-alih menjual jus buah di sana. Yang kemudian hari tanpa kita sadari justru kita lebih mengenal dan mencari minuman perisa itu untuk dikonsumsi ketimbang mencari jus dengan kadar buah yang asli.

Hal yang paling menyebalkan adalah minuman dengan perisa ini justru lebih "sombong" daripada buah aslinya itu sendiri. Bagaimana tidak, tak asing kita dengar banyak minuman yang mengklaim bahwa dirinyalah yang paling asli dan yang memiliki rasa paling segar ketimbang buah itu sendiri.

Ini adalah hal yang menurut saya aneh karena justru buah itu sendiri tidak pernah melabelkan diri bahwa dirinya yang paling asli, walaupun memang kalaupun mau begitu ya tidak apa-apa toh memang buah itu asli.

Hal inilah yang membuat saya akhirnya menganalogikan kisah minuman perisa ini dengan kondisi menjelang garis akhir Pemilu. Hari ini, kita dikepung oleh poster para politisi yang sedang merayu kita.

Tak main-main, baik di tembok, pohon, tiang listrik bahkan tempat sampah sekalipun terdapat poster atau banner promosi para politisi yang katanya akan mewakili dan melaksanakan aspirasi pemilihnya.

Yang menjadi kesamaan dari mereka adalah mereka seolah menunjukan dirinya yang "paling" atas sesuatu. Paling milenial, paling jujur, paling nasionalis, paling agamis, bahkan paling profesional. Padahal tak henti-hentinya di antara mereka pula yang paling sering memakai rompi oranye KPK.

Kondisi ini sama halnya dengan minuman perisa tadi. Mereka yang mencalonkan kebanyakan mengklaim sepihak bahwa mereka adalah yang berhak mewakili kata tersebut. Dan mereka adalah yang saya liat mirip dengan minuman perisa yang kali ini mengelilingi kita minta untuk "dibeli" dengan uang berupa pencoblosan nama atau nomor mereka dalam surat suara.

Kondisi terbalik justru terlihat oleh mereka yang kita sendiri secara kasat mata bisa menilai bahwa mereka banyak melakukan sesuatu bagi masyarakat baik sebelum ataupun sesudah terpilih.

Mereka justru tidak pernah mengklaim kata tersebut dalam kampanye mereka dan lebih memilih memaparkan apa yang mereka lakukan kemarin dan apa yang akan mereka lakukan ketika terpilih lagi yang membuat ketika kita melihat atau mendengar namanya kita langsung teringat apa yang mereka lakukan.

Contoh kecil adalah ketika nama Habibie disebut. Rakyat tak pernah meragukan keahlian beliau akan teknologi dan betapa cerdasnya beliau. Sampai bosnya dulu di sana saja bilang belum tentu 100 tahun sekali lahir orang seperti Habibie di Indonesia.

Tapi apakah nama harum dan predikat itu membuat Habibie bahkan mengklaim dirinya paling cerdas dan paling tahu soal teknologi? Tentu tidak karena beliau "asli" bukan "perisa" yang sibuk menyematkan predikat pada dirinya.

Tapi sekali lagi, komposisi yang perisa dan yang asli mungkin tidak seimbang. Bagi pemilih pemula seperti kita harusnya lebih cermat memilih. Mana politisi yang menunjukan keasliannya dan mana yang rasanya manis hanya ketika kampanye.

Terakhir, tugas kita adalah memastikan. Memastikan bahwa yang aslilah yang terpilih dan yang akan kita konsumsi hasil kebijakan dan kerja kerasnya. Serta menyingkirkan dan memastikan mereka yang jadi perisa agar tak mendapat tempat di sana.