Mohon tunggu...
Inosensius I. Sigaze
Inosensius I. Sigaze Mohon Tunggu... Lainnya - Membaca dunia dan berbagi

Mempelajari ilmu Filsafat dan Teologi, Politik, Pendidikan dan Dialog Budaya-Antaragama di Jerman, Founder of Suara Keheningan.org, Seelsorge und Sterbebegleitung dan Mitglied des Karmeliterordens der Provinz Indonesien

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana Pilihan

Ramalan Kelinci, Bukan Basa Basi tentang Negeri Ini

22 Januari 2023   05:30 Diperbarui: 22 Januari 2023   06:48 276
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ramalan kelinci, bukan basa-basi tentang negeri ini | Dokumen diambil dari rupa-rupa.com. Sumber: Pixabay/David Mark.

Sejenak lagi tiba hari bahagia Imlek, nama yang mendunia dari budaya China. Mulanya biasa-biasa saja, namun semakin diterima dan menjadi merah.

Mencintai yang berbeda budaya tidak ada salahnya. Indonesia tetap negara yang ternama dalam keberagaman. Bhineka Tunggal Ika tetap menggema dari dulu sampai sekarang.

Kita sama-sama penghuni dunia. Dalam ruang ziarah manusia mestinya saling belajar, itu lumrah. Pelajaran terindah di tahun 2023 tak sangka-sangka merujuk pada binatang lincah.

Kelinci nama lain tahun 2023 dalam tradisi China Thionghoa. Binatang telinga panjang dan lebar itu dijadikan sandi hidup bukan cuma orang-orang China, tapi juga kita semua.

Kelinci itu bukan kelinci percobaan, tapi kelinci kesabaran dan keberuntungan. Kelinci simbol usaha dan semangat juang yang paling dibutuhkan saat sekarang.

Kelinci tak pernah bertengkar, mungkin itu pesan damai yang bisa dibawa ke rumah hati kita masing-masing di tahun 2023. Kelinci mungkin satu-satunya hewan yang paling untungnya.

Jarang ditemukan liar di hutan hidupnya. Ia lebih menjadi hewan peliharaan manusia. Diberi makan, dielus, ditonton. Kelinci di foto bahkan, kadang jadi mainan saat mengejarnya.

Kelinci dan pelajaran mendengar tampak terlihat dari postur telinganya.  Pendengaran itu kekuatannya. Siapa sangka hewan lincah itu punya bau yang sama dengan hewan lainnya.

Suka menggali lubang untuk sembunyikan dirinya. Tapi juga untuk hangatkan badan. Loncat sana loncat sini, tapi menghibur itu sifatnya.

Tak menyiksa sesamanya, tak menertawakan yang lainnya. Ia tak munduh dan tak menuntut sesamanya. Ia hidup dan bersandar pada alam, merumput dan menyatu dengan lingkungan di sekitarnya. 

Daun-daun hijau itu harapan mereka, tanda keberuntungan itu datang. Kelinci itu sebuah ramalan hidup manusia. Hidup yang terlalu sulit untuk menjadi lemah seperti kelinci.

Hidup manusia terlalu besar bedanya dengan sang kelinci. Telinga manusia terlalu kecil untuk dibandingkan dengan kelinci. Tak heran banyak manusia tak mau dengar apa kata sesamanya. 

Kecuali ada orang-orang yang telinganya besar sering disegani karena kata-katanya kadang menebar gelombang suara yang mengganggu gendang telinga, pedas dan nyaring menukik dalam.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun