Mohon tunggu...
Inosensius I. Sigaze
Inosensius I. Sigaze Mohon Tunggu... Lainnya - Membaca dunia dan berbagi

Mempelajari ilmu Filsafat dan Teologi, Politik, Pendidikan dan Dialog Budaya-Antaragama di Jerman, Founder of Suara Keheningan.org, Seelsorge und Sterbebegleitung dan Mitglied des Karmeliterordens der Provinz Indonesien | Email: inokarmel2023@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Ibu Kerinduan

23 Desember 2022   05:07 Diperbarui: 23 Desember 2022   05:13 190
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ibu kerinduan | Dokumen pribadi oleh Ino

Ibu itu tak kenal lepas rindu, rindunya tak berujung, tak pernah lengkang waktu, tapi juga jarang terucap seperti sambil lalu.

Kata rindu bergetar dalam kalbu sang ibu. Kadang berdebar-debar rindu itu menyusup hingga ke jantung. 

Entah kenapa dengan anakku yang jauh? Sering menjadi tanya bisu sang ibu dalam relung waktu saat di dapur, saat tidur, saat di mana ibu sendiri dalam rindu.

Ibu..sering terhempas rindu. Lebih-lebih saat ibu sakit dan tiada kabar dari anak-anak yang jauh. Pesan sepi, tanya sederhana, kata yang singkat semuanya sangat berarti saat ibu kerinduan itu datang.

Masak ibu masih merindukanku? Aku sudah seusia begini. Kata sang ibu yang sepi dari ambisi ingin menang dalam diskusi, "berapapun usiamu, kamu adalah anakku."

Kerinduan sang ibu terlalu larut dalam bisu. Rindu tidak terkatakan bertahun-tahun, sampai saat kritis, sang ibu hanya titip tanya, kapan aku kembali? Di manakah dia saat ini?

Hanyut hati ini, saat ibu yang nun jauh menunggu dalam waktu yang diukur oleh mereka yang tahu hari-hari hidup. Oh ternyata, hidup itu bukan semata-mata apa kata orang yang merawatmu.

Hidup itu tumbuh dari kerinduan yang terpenuhi. 

Kerinduan itu tumbuh dari ibu, diberikan oleh sang ibu. Dan aku belajar tentang kerinduan itu juga dari sang ibu. 

Tak ada kado kenangan untuk sang ibu, selain tetap merindukan ibu, entah seperti apa dan bagaimana ibuku itu. Dia tetaplah ibu yang menjadikanku seperti sekarang ini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun