Mohon tunggu...
Inosensius I. Sigaze
Inosensius I. Sigaze Mohon Tunggu... Lainnya - Membaca dunia dan berbagi

Mempelajari ilmu Filsafat dan Teologi, Politik, Pendidikan dan Dialog Budaya-Antaragama di Jerman, Founder of Suara Keheningan.org, Seelsorge und Sterbebegleitung dan Mitglied des Karmeliterordens der Provinz Indonesien

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Going to Periphery, Dilema antara Winter dan Tunawisma

11 November 2022   04:29 Diperbarui: 12 November 2022   12:52 389
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Going to periphery, dilema antara Winter dan Tunawisma | Dokumentasi pribadi oleh Ino

Ada orang yang tidak punya rumah, tetapi merasakan kehangatan; tapi ada juga yang punya rumah, tapi tidak punya kehangatan di sana | Ino Sigaze

Tema tentang krisis energi di benua Eropa sorotan Kompasina kali ini datang bersamaan dengan hadirnya musim dingin, Winterzeit. Kemarin saya sudah menulis tentang "Krisis Energi dan 5 Siasat Kemandirian Energi di Jerman", terlewatkan dari pembahasan itu sebenarnya berkaitan dengan kenyataan para tunawisma di Jerman.

Coba bayangkan saja kita yang punya rumah saja sudah waswas dengan musim dingin ekstrim nanti, nah bagaimana dengan mereka yang tidak punya rumah? Memang sih kalau dilihat dalam diri mereka tidak ada kecemasan apa-apa.

Beberapa waktu lalu ketika saya melihat di depan sebuah gereja yang pernah dibom pada perang dunia kedua di Mainz, saya tersentak oleh seorang pria tunawisma (Obdachlosen) di pelataran gereja itu.

Memang dari segi wajahnya, sebenarnya tidak asing lagi. Saya sudah sering melihat pria tua itu di Mainz. Saya mengenal mereka di daerah sekitar tempat tinggal saya ada 5 orang. 

Tunawisma dan pertanyaan tentang arti hidup

Terkadang saya diam terpekur di dekat tempat di mana mereka tidur. Saya terdiam sejenak untuk merenungkan tentang apa artinya hidup ini dari sudut pandang mereka. 

Pada hari Sabtu minggu lalu, tepatnya jam 7.00 pagi saat saya membeli roti, saya melihat mereka tidur di bawah kolom jembatan kecil dekat tempat kerja saya.

Saya benar-benar menarik nafas dalam dan bergulat dengan pikiran saya sendiri. Ada beberapa pikiran yang muncul pada saat itu: Hidup itu ternyata begitu sederhana. Mereka tidak pernah ribut memikirkan rencana dan masa depan, tetapi sejak 2014 mereka bertahan sehat sampai sekarang. Apa yang mereka lakukan setiap hari cuma membaca dan tidur. Lalu duduk pindah-pindah tempat, menjemurkan diri mereka di matahari, lalu kembali lagi tidur di bawah kolom jembatan kecil itu.

Dari pilihan tempat tinggal mereka itu, tampak jelas bahwa mereka tidak membutuhkan penerangan ekstra di malam hari, mereka tidak membutuhkan gas untuk menghangat tubuh mereka sendiri. Hidup, apa sih hidup itu? Cuma ada 2 sepatu, dua tas, tongkat, topi, dan beberapa jacket. Setiap hari mereka dapat makanan, entah siapa yang memberikannya.

Mereka tentu saja bukan pemungut (Der Sammler) karena mereka tidak banyak barang. Mereka tentu saja bukan politikus, yang sibuk setiap hari berdebat tentang kepentingan partai mereka. Mereka tentu saja berbeda dari semua yang hidup di bumi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun