Mohon tunggu...
Inosensius I. Sigaze
Inosensius I. Sigaze Mohon Tunggu... Lainnya - Membaca dunia dan berbagi

Mempelajari ilmu Filsafat dan Teologi, Politik, Pendidikan dan Dialog Budaya-Antaragama di Jerman, Founder of Suara Keheningan.org, Seelsorge und Sterbebegleitung dan Mitglied des Karmeliterordens der Provinz Indonesien | Email: inokarmel2023@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Travel Story Pilihan

Mampukah Suara dan Alam Mengubah Dilema Menjadi Iman?

24 Februari 2021   17:12 Diperbarui: 26 Februari 2021   21:18 312
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Gelombang laut yang begitu tinggi dan kecepatan Speedboat sendiri yang terus berusaha melintas dan melampaui terpaan gelombang, sungguh mengandaikan kepiawaian seorang driver yang tingkat dewa. Belum lagi dalam keadaan seperti itu, beberapa kali mesin Speedboat itu mati. Ya, hanya bisa menahan nafas dan dengan berani berpasrah pada Tuhan. Pada saat yang sangat menakutkan, karena gelombang tinggi menghantam kami semua, hingga basah dan bahkan berteriak ketakutan. Apakah saya juga harus larut dalam ketakutan? Tidak. Meski melawan rasa takut pada saat itu, sungguh amat berat, saya berusaha tetap tenang dan pasrah. Jika Dia menghendaki yang terbaik, maka hanya yang terbaik yang akan terjadi.

Seorang ibu perawat yang dengan suara lembut berkata seperti ini: kebahagiaan saya adalah kalau saya mati ketika dalam tugas pelayanan." Suara dan kata-kata itu perlahan-lahan menumbuhkan keberanian kami semua, ya tentunya mengobarkan iman.

2. Dilema antara apa yang dipelajari dan apa yang diimani

Masing-masing orang memiliki konsep tentang Allah sesuai dengan apa yang dipelajarinya dari bangku sekolah maupun dipelajari di Universitas. Saya mengenal gagasan tentang Allah solidaritas dari bangku kuliah. Ya, Allah yang solider dengan nasib manusia bahkan terlibat langsung dalam kehidupan manusia untuk menyelamatkan manusia. Konsep seperti itu adalah konsep indah di bangku sekolah atau kuliah, tetapi belum tentu indah saat berada di lapangan. Ya, ini tentu berangkat dari pengalaman. Ketika melintasi danau Yamor menuju Paparao kami sungguh kesulitan. Danau Yamor adalah danau berawa yang juga dikenal dengan sebutan danau Teratai. Teratai tumbuh seluas danau itu, ya merambat ke seluruh danau itu. Betapa susahnya baling-baling mesin Speedboat bisa berputar dengan baik karena dililit akar-akar Teratai. Belum lagi dibumbui cerita bahwa di danau Yamor hidup begitu banyak buaya air yang ganas. Benar-benar seram rasanya. Pertanyaan saya yang tidak terucapkan waktu itu adalah apakah mungkin saya bisa kembali ke rumah?

Seberapa besar keyakinan seseorang pada gagasan yang dipelajari tentang Allah itu, akan sungguh masuk ke dalam ruang dilema ketika dalam bahaya yang terasa sedikit harapan untuk selamat. Dilema yang tentu tidak terucap, tetapi dirasakan melalui debaran jantung yang tidak pernah berdetak nyaman dan teratur. Apakah Allah itu benar terlibat menyelamatkan manusia?

3.Di manakah tempat yang layak untuk suatu doa

Di bangku kuliah saya belajar dan mengenal sebutan ini: Ekaristi kerinduan." Wah terdengar keren dan enak banget. Nah, bagaimana Ekaristi kerinduan itu bisa benar-benar dirayakan di pedalaman Papua? Wow sungguh tidak mudah Bung. Jam 8.00 pagi kami berangkat meninggalkan rumah penginapan karena perhitungan air danau Paparao masih penuh dan kami bisa berusaha melalui itu dengan Speedboat tanpa harus berjalan pada rawa-rawa. Setengah jam perjalanan jauhnya kami meninggalkan rumah penginapan, persisnya kami sudah berada di atas jembatan kayu, bahkan hendak memasuki Speedboat untuk berlayar pulang ke Kaimana, tiba-tiba berlari seorang ibu dan bapak ke arah kami, minta tunggu, katanya spontan: Bapa pastor, kami minta misa? Oh ampun....mula-mula saya menjawab, kami sudah tidak punya cukup waktu, dan harus segera berangkat karena sebentar lagi air akan surut. Opsi lain saya tawarkan: Apakah mungkin kita berdoa dan Anda semua menerima berkat di tempat ini? Keduanya sama sekali tidak mau, kata ibu itu: " kami ada lima orang, tiga anak saya masih dari belakang dan kami sudah berjalan melampaui tujuh bukit ke tempat ini."

Suara itu sungguh menerpa jantung dan pikiran saya. Suara murni dari hati yang penuh rindu untuk mengalami Firman dan kekuatan Ekaristi. Hati saya luluh, namun lagi-lagi campur dilema. Apakah mungkin saya merayakan misteri cinta-Nya di tempat ini? Saya memejamkan mata sendiri dan berdoa, ampunilah saya Tuhan, seandainya keputusan saya ini keliru. Semuanya karena kerinduan umat-Mu.

Waktu itu, kami berdiri di atas jembatan kayu Paparao, kami merayakan untuk Saudara-saudari kami satu keluarga yang datang penuh rindu itu. Saya ingat, yang membantu dalam perayaan itu ada juga saudara saudari yang tidak seiman dengan saya. Atas nama kemanusiaan mereka menolong saya menghapus kerinduan jiwa orang kecil dan sederhana di wilayah terpencil dari kota Kaimana, Papua. Betapa indahnya, jika kita hidup sebagai saudara, kita bisa saling menolong dan menopang.

Tiga perawat yang bersama-sama dalam rombongan kami juga akhirnya masih sempat melayani mereka berlima. Kami sungguh bersyukur bahwa semestinya pada jam 9.30 pagi air danau Paparou mulai surut, namun waktu itu kami seakan masih diberi kesempatan untuk berlayar meski perlahan-lahan karena tersangkut akar-akar Teratai bercampur lumpur rawa di sana.

Melalui kisah dan suara-suara orang sederhana itu, saya kadang berdebat dengan teman-teman saya di Jerman yang memiliki gagasan bagus-bagus. Saya biasa bilang, Jika Anda ke Papua, Anda akan mengerti kesulitan di lapangan itu, tidak semudah menghafal satu dalil teologi."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Travel Story Selengkapnya
Lihat Travel Story Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun