Mohon tunggu...
Inngamul Wafi
Inngamul Wafi Mohon Tunggu... Bangsawan (Bangsa tangi Awan)

The biggest folly is to stop learning // “Menulislah, apa pun, jangan pernah takut tulisanmu tidak dibaca orang, yang penting tulis, tulis, dan tulis, suatu saat pasti berguna.” (Pramoedya Ananta Toer, Rumah Kaca)

Selanjutnya

Tutup

Bisnis

Minus di Kuartal II, Benarkah Indonesia Resesi?

6 Agustus 2020   12:08 Diperbarui: 6 Agustus 2020   13:12 114 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Minus di Kuartal II, Benarkah Indonesia Resesi?
Sumber gambar: usatoday.com

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa pertumbuhan Ekonomi di Indonesia pada kuartal II jatuh pada minus 5,32%, Hal ini terjadi akibat imbas dari Covid-19. Akankah resesi mengancam Indonesia ?

Mengutip dari Wikipedia, Resesi diartikan sebagai kondisi di mana produk domestik bruto (GDP) mengalami penurunan atau pertumbuhan ekonomi riil bernilai negatif selama dua kuartal secara berturut-turut atau lebih dari satu tahun. Singkatnya resesi ekonomi merupakan kelesuan ekonomi. Akibatnya terjadi penurunan secara simultan atau serentak pada setiap aktivitas di sektor ekonomi. Seperti lapangan kerja, investasi, dan juga keuntungan perusahaan. 

Benarkah Indonesia resesi ? Nyatanya Indonesia belum bisa dikatakan resesi karena pada kuartal I ekonomi Indonesia masing di angka positif sebesar 2,97%.

"Walaupun ekonomi Indonesia minus pada kuartal ke II, tetapi kita secara formal belum disebut resesi. Definisi resesi terjadi ketika pertumbuhan ekonomi negatif dua kuartal berturut-turut," ungkap Direktur Riset Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah pada Kompas.com

Ia menjelaskan bahwa Indonesia dikatakan resesi apabila terjadi minus pada kuartal III, hal ini terjadi akibat berlakunya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dalam rangka mencegah Covid-19. Alasan itu juga yang dikatakan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati minusnya pertumbuhan ekonomi Indonesia penyebab utamanya adalah PSBB di beberapa daerah.

"Kita bersama-sama terus formulasi dan desain kebijakan dan meminimalkan negatif dari pandemi terhadap kegiatan ekonomi dan sektor keuangan dan bersama-sama memformulasikan kebijakan apabila dibutuhkan pengubahan seiring yang terjadi di ekonomi dan sektor keuangan," ungkapnya saat video conference bersama Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) pada Rabu (5/8/2020) .

Di lain sisi, Ekonom Indef Tauhid Ahmad menjelaskan, kontraksi ekonomi yang minus 5,32%  ini membuat  pemerintah harus melakukan strategi baru untuk menekan dampak yang lebih besar. Salah satunya, program bantuan sosial (bansos) yang diberikan pemerintah sudah cukup baik, hanya saja kurang tepat sasaran.

"Yang paling penting itu bansos yang diberikan harus dilakukan segera kalau saat ini jika bansos digulirkan dan belanja pemerintah naik ini bisa menunjukkan perekonomian Indonesia bisa pulih sedikit,"tandasnya.

Hal ini bukan berarti Indonesia bebas dari resesi karena menurut Piter ekonomi Indonesia dapat dikatakan resesi apabila pada kuartal III nanti pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami minus. Maka dari itu perlu peran penting pemerintah dalam kebijakannya untuk terus memacu pertumbuhan ekonomi yang terjadi di Indonesia.

Dampak dari resesi akan sangat merepotkan semua kalangan terutama di sektor ekonomi. Misalnya ketika produksi barang dan jasa merosot akan menurunkan ekonomi nasional, banyak usaha-usaha gulung tikar karena daya beli melemah, dan besarnya PHK akan meningkatkan tingkat pengangguran.


Amatiuer,

Wafi

VIDEO PILIHAN