inne
inne penikmat buku, pecandu bahagia

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

[Cerpen] Perempuan yang Menyimpan Rindu

16 Maret 2017   12:47 Diperbarui: 16 Maret 2017   17:43 1084 12 3
[Cerpen] Perempuan yang Menyimpan Rindu
Ilustrasi - sepasang kursi kosong. (kfk.kompas.com/Gatot Winoto)

Setiap pagi saat aku berangkat kerja, aku selalu melihatnya. Perempuan berwajah sendu, berambut ikal sebahu, perawakan sedang tidak kurus tapi juga tidak gemuk. Dari raut wajahnya kutebak sekitar usia 30 tahun dan selalu memakai baju putih. Dia selalu duduk di undakan semen di samping gerbang real estate mewah. Letaknya tersembunyi karena tertutup pohon akasia yang tumbuh berjejer rapi di sepanjang Jalan Diponegoro yang ramai kendaraan.

Awalnya kukira dia adalah calon penumpang yang sedang menunggu kedatangan angkot. Namun, seiring waktu akhirnya aku mengetahui bahwa dia memang menyukai duduk di situ, bukan sedang menanti angkot.

Aku mengamatinya setiap hari, karena kantorku tepat di samping real estate. Salah satu ruko dari jejeran ruko berwarna abu-abu itulah kantorku tempat mencari uang untuk bayar cicilan motor. Beginilah nasib kaum urban, menanti gaji tiga puluh hari, menghabiskannya cukup sehari saja. Baru saja digit angka di buku tabungan bertambah, hari itu juga digit angka berkurang kembali ke angka sebelum gajian. Aku selalu memperlambat motorku ketika sudah sampai di pinggir kanan gerbang real estate, segera menyalakan rating kiri kemudian perlahan-lahan menyusuri depan gerbang real estate lalu belok ke kompleks ruko, tempatku bekerja. 

Di antara gerbang real estate dan kompleks ruko, ada lima kios kecil berjejer. Katanya pemilik kios ini tidak mau menjual tanahnya ke pihak real estate. Akhirnya, kios mereka dikelilingi tembok-tembok tinggi menyisakan satu lubang kecil di area belakang kios, yang hanya cukup untuk satu motor. Padahal, dulu dua mobil pun bisa lewat sehingga ada jalan tembus dari Jalan Diponegoro ke Jalan Antasari, namun sekarang karena hampir semua penduduk desa menjual tanahnya ke pihak real estate, jalan tembus itu lenyap berganti rumah-rumah.

Perempuan itu selalu duduk di undakan semen di sebelah kiri gerbang real estate, dengan buntelan kresek hitam yang selalu digandengnya. Warna bajunya selalu berwarna putih, setidaknya itulah yang selalu kulihat, sangat kontras dengan warna undakan semen yang bercat hitam, dan batang pohon akasia yang coklat.

Aku tidak tahu sejak pukul berapa dia sudah mendiami tempat duduk itu. Sepengamatanku dia selalu sudah ada di “kediaman”nya sejak pukul setengah delapan, dan ketika aku pulang kerja dia sudah tidak ada di sana lagi. Pernah sekali waktu pukul enam aku sudah lewat Jalan Diponegoro karena mau ke bandara, dia belum ada.

Sesekali aku melihatnya sedang berbicara sendiri. Sempat suatu hari aku melihatnya sedang menangis sesenggukan, tampak dari bahunya yang turun naik. Kadang dalam beberapa hari dia begitu khusyuk menulis sesuatu di buku. Kadang aku lihat dia sedang tertawa gembira dengan handphone di tangannya. Saat itu kukira dia pasti sedang ditelepon seseorang. Ternyata setelah beberapa kali kuamati, itu handphone mainan. Terkadang dia hanya duduk diam matanya terpaku ke jalan dengan  kresek yang diletakkan di pangkuannya. Namun, beberapa hari ini aku sering melihatnya menghitung mengggunakan jarinya.

Aku selalu melihatnya dari atas motor. Namun, kali ini aku benar-benar berdiri dari jarak yang cukup dekat. Motorku kehabisan bensin pas depan gerbang real estate. Terpaksa aku mendorong motorku hingga ke kios bensin eceran. Salah satu dari kios itu memang ada kios yang menjual bensin eceran. 

“Bensin, Pak, satu botol aja,” ujarku kepada bapak penjual bensin. 

Bapak penjual segera mengambil bensin lalu menuangkannya ke tangki motorku. Tanpa sadar aku menggumam, “Kasihan ibu itu,” mataku terpaku memandangnya yang jaraknya hanya beberapa meter saja. 

Bapak penjual bensin menjawab gumamanku, “Anak saya itu, Mbak.” 

Terkejut aku mendengar jawabannya, “Oh, maaf, Pak. Saya ndak bermaksud apa-apa. Saya setiap hari melihatnya. Dari raut wajahnya terlihat dia sedang sedih sekali.” Aku menjadi tidak enak, tak kusangka ternyata bapak penjual bensin ini adalah bapaknya. Ada rasa sesal kenapa aku tadi bergumam. 

“Dia lagi menunggu suaminya, Mbak," jelas bapak penjual bensin dengan suara pelan. 

"Suaminya ke mana, Pak?" aku bertanya penasaran. 

"Gak tahu, Mbak. Katanya kerja di Malaysia, tapi sudah hampir tujuh tahun gak ada kabar." 

Aku tidak tahu harus menimpali dengan jawaban apa selain kata “oh” yang keluar dengan nada iba. Buru-buru aku pamit dan mengucapkan terima kasih.

Keesokan harinya, aku menyengaja isi bensin di kios itu. Sambil menuangkan bensin ke tangki motorku, bapak penjual bensin tiba-tiba berkata, "Dia rindu suaminya, Mbak." 

Aku terkejut mendengar perkataannya karena seakan dia bisa menebak pertanyaanku. "Maaf, Pak," kataku. 

"Anak saya itu, dia menanti suaminya," sambil menunjuk anak perempuannya yang sedang menangis dengan wajah tegak menatap jalanan yang penuh kendaraan lalu lalang.

Perempuan itu dibalut erat oleh kerinduan terhadap suami tercinta, batinku dalam hati. Rindu memang membuat jiwa tersiksa. Tak ada yang bisa menuntaskan kerinduan selain perjumpaan dengan yang dirindukan. Setiap manusia pasti pernah merasakan rindu, entah itu kepada seseorang yang sudah pernah ditemui atau bahkan ke seseorang yang belum pernah ditemui. Seperti aku yang saat ini juga merindu pasangan hidup, entah siapakah dia. Bahkan aku pun belum tahu, tapi aku sudah merasakan kerinduan yang mendalam kepadanya. Atau seperti budeku yang merindukan kehadiran seorang anak, yang sama sekali belum pernah ia lihat wajahnya.

Siapakah yang menciptakan perasaan rindu? Kenapa dia harus muncul, mengendap, memperbanyak, tumbuh subur dan bahkan berbuah di hati? Adakah manusia yang tidak pernah menjadi perindu? Banyak pertanyaan tiba-tiba muncul di benakku. Terhenti seketika ketika suara bos memanggilku. “Tia, ke ruangan sekarang,” teriak bosku dari dalam ruangannya.

Bagi aku yang sebentar lagi sudah kepala tiga, kerinduan akan pasangan hidup seperti kobaran api yang disiram bensin. Menyala membumbung tinggi hingga langit ke tujuh. Aku rindu kepada dia, seseorang yang sampai sekarang aku belum tahu namanya, bahkan wajahnya. Aku sampai sekarang tidak memiliki pacar. Bukan. Bukan karena aku menganut aliran nikah tanpa pacaran. Aku memang belum punya saja. Aku punya standar tinggi untuk mengiyakan seorang pasangan hidup. Bagiku memiliki kriteria pasangan hidup itu penting, karena perjuangan berumah tangga itu sungguh keras. Aku melihat bapak dan ibuku, sampai usia pernikahan ke-35 masih tetap awet romantis dan setianya. Aku meyakini rinduku, suatu saat dia yang kunanti pasti datang menggenapi hatiku, menjadi imamku dunia akhirat.

Jikalau Tuhan tidak pernah berjanji bahwa setiap doa akan Ia perkenankan, rasanya tidak mungkin ada kerinduan. Jikalau Tuhan tidak dikenali sebagai Yang Maha Melihat, Yang Maha Mengetahui Isi hati, Yang Maha Mendengar doa-doa yang diucapkan dalam hati, mungkin manusia akan berhenti berharap dari sebuah perjumpaan. Itulah kenapa ada seorang ibu yang setia menanti kedatangan anaknya yang telah lama kabur dari rumah, ada seorang istri yang selalu menanti perjumpaan dengan suaminya yang dikabarkan hilang, ada seorang kekasih hati yang rela melajang hanya karena berharap kekasihnya datang melamarnya, ada seorang anak yang puluhan tahun menanti sebuah pelukan hangat dari ayahnya meskipun setiap hari mereka bertemu. Hanya rindu yang membuat seseorang mampu bertahan hidup.

Ah rindu kamulah yang menyebabkan adrenalin mengalir bila bayangan yang dirindukan tiba-tiba hadir menyembul di pikiran. Kamu juga yang menyentil endorfin agar lebih rileks, namun kamu juga yang melepas kortisol hingga banjir ke seluruh tubuh. Rindu, kamu pengobar api sekaligus kamu yang memadamkan. Kamu penyebab stres, tapi kamu juga yang merilekskan jiwa. Rindu, kamulah yang menguatkan jiwa hingga mampu menopang kerinduan yang semakin lama tumbuh membelah diri memperbanyak hingga ke ujung rambut.

Rindu melahirkan harapan setiap hari, setiap bulan, bahkan setiap pergantian tahun. Dengan doa yang sama dilantunkan lima kali dalam sehari. Rindu seperti bara dalam sekam yang setiap hari ditiup lalu membakar di sekitarnya. Setidaknya setiap pagi ketika matahari mulai menyembul malu-malu, rindu akan mengatakan, “Yang dinanti akan datang hari ini,” begitu setiap hari… setiap bulan… setiap tahun.

Lihatlah bagaimana semesta mendukung para perindu hingga mampu membuat bumi bertahan berotasi sesuai porosnya karena bumi tidak ingin merusak kerinduan hati yang selalu menjerit setiap saat. Bagaimana mungkin bumi sanggup menahan beban yang telah ditanggung jutaan tahun tanpa sebuah kerinduan? Pernahkah mendengar bahwa manusia itu memiliki frekuensi yang tanpa sadar dialirkan ke lingkungan sekitar, pun dia juga menerima frekuensi yang sama dari sekitarnya. Frekuensi yang mengalir ini membentuk energi. Sifat dari energi adalah kekal. Tak heran bila perindu dipertemukan dengan perindu yang juga rindu akan hal yang sama karena frekuensi mereka saling tarik-menarik. Frekuensi itu membentuk energi yang semakin lama semakin membesar. Satu hal yang mengecilkannya ketika perindu perlahan melupakan yang dirindukan. Melepasnya dari hati, melepasnya dari lantunan doa, melepasnya lalu menghilangkannya.

Banyak para perindu yang memilih itu, memilih untuk meninggalkannya. Namun, perempuan itu tidak. Perempuan itu terlalu kuat menyimpan kerinduannya. Perempuan itu tidak gentar terhadap waktu. Perempuan itu tahu apa yang dikorbankannya sebanding dengan perjuangannya menyimpan kerinduan. Dia yang tidak kalah oleh waktu, dia yang berdiri tegak dengan rindu.

Dan suatu hari aku menemukan perempuan itu tidak ada di tempat kesayangannya. Aku bertanya ke bapaknya ke manakah anak perempuannya. "Suaminya sudah pulang," jawab bapaknya dengan mata berkaca-kaca. Aku terdiam dalam bahagia.