inne
inne Perawat

seseorang yang ingin menjadi manfaat bagi sesama

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

Mengaktifkan Gen Welas Asih

16 Mei 2019   08:56 Diperbarui: 16 Mei 2019   09:07 34 2 0

Seorang ibu rumah tangga di Lamaru Balikpapan, Kalimantan Timur meluangkan waktunya dari maghrib sampai isya setiap hari untuk mengajar mengaji anak anak di sekitar rumahnya tanpa dibayar sepeser pun. 

Tidak jauh dari situ, seorang ibu rumah tangga di Samboja Kutai Kartanegara Kalimantan Timur merelakan ruang tamunya sebagai taman baca gratis untuk anak anak di desanya. 

Kedua orang baik ini hanyalah sebagian kecil dari jutaan orang baik di dunia ini. Bila kita berselancar di media sosial, ada banyak sekali akun media sosial yang dikhususkan untuk membagikan kisah hidup seseorang yang menyentuh hati pembaca sehingga kita tergerak untuk menolongnya. 

Keampuhan media sosial dalam menolong orang lain, sudah tidak bisa diragukan lagi bahkan di Twitter sampai ada tagar Twiter, Please Do Your Magic demi mendapat perhatian untuk memabantu kehidupan orang lain..

Bila kita merenung kembali ke kisah dua orang diatas, mungkin muncul pertanyaan bagaimana mungkin seseorang rela memberikan sebagian besar bahkan semua penghasilannya untuk orang lain? atau bagaimana mungkin ada orang yang rela berkorban menyelesaikan masalah orang lain sementara dirinya masih kekurangan?.  

Kisah mereka tentu amatlah kontras dengan maraknya korupsi di negara ini dimana koruptor ingin memperkaya diri sendiri. Karena itu tidaklah salah dikatakan bahwa manusia adalah makhluk yang egois, bahkan sifat egosentrime itu sudah terlihat sejak balita. Mulai dari sikap tidak mau mengalah, tidak mau berbagi bahkan sampai memukul temannya.

Namun, benarkah demikian?

Dalam buku Why We Cooperate yang ditulis Michael Tomasello, terdapat sebuah percobaan yang  dilakukan kepada bayi berusia 18 bulan yang melihat seorang dewasa  dimana kedua tangannya penuh dengan barang ingin membuka pintu, bayi itu dengan segera berusaha ingin menolongnya. Keinginan untuk menolong orang lain bahkan sudah dimiliki pada bayi yang berusia lebih muda. 

Pada bayi usia 12 bulan, mereka akan menunjuk benda benda yang orang dewasa pura pura kehilangan. Tingkah laku yang diperlihatkan bayi tersebut merupakan perilaku bawaan yang sudah ada dalam dirinya, bahkan sebelum diajarkan oleh orangtua. 

Dua percobaan tersebut  telah menunjukkan bahwa perilaku menolong yang ditunjukkan oleh bayi bayi tersebut bukan dari hasil pelatihan, namun merupakan kecenderungan alami yang merdeka tanpa paksaan dari orang tua dan budaya.  Ini setidaknya menunjukkan bahwa sebenarnya dalam diri manusia sudah tertanam gen untuk menolong orang lain.

Keingintahuan peneliti mengenai perilaku menolong orang lain juga dilakukan oleh  ahli saraf Universitas Emory, yakni James Rilling dan Gregory Berns, mereka merekam aktivitas otak manusia yang sedang menolong orang lain. 

Hasil rekam otak menunjukkan bahwa membantu orang lain memicu aktivitas di nucleus caudate dan cingulate anterior, bagian-bagian otak yang menyala ketika orang menerima hadiah atau mengalami kesenangan. Mereka menyimpulkan bahwa membantu orang lain membawa kesenangan yang sama dengan yang kita dapatkan dari kepuasan keinginan pribadi. Hasil penelitian ini juga sekaligus  menjawab mengapa menolong orang lain membuat kita juga bahagia.

Perilaku menolong orang lain ini dikenal dengan welas asih atau  dalam Bahasa Inggris disebut compassion. Welas asih adalah gabungan dari sikap empati dan altruism. Empati adalah kemampuan untuk membayangkan apa yang dirasakan orang lain. Dan altruism adalah tindakan sukarela untuk menolong orang lain tanpa mengharapkan imbalan apapun. 

Maka bisa disimpulkan bahwa welas asih yakni kemampuan untuk memahami perasaan orang lain dan secara spontan melakukan hal untuk menolong orang lain. Welas kasih didefinisikan sebagai respons emosional ketika merasakan penderitaan dan melibatkan keinginan yang kuat untuk membantu. Terkadang keinginan kuat untuk menolong orang lain ini menjadikan seseorang berani berkorban demi menolong orang lain.

Baik sifat egois maupun welas asih keduanya bukan sesuatu yang diturunkan, namun memang sudah melekat dalam diri manusia. Sering kali semakin banyak kita melihat atau merasakan dampak dari keegoisan seeseorang maka respon yang muncul adalah sikap welas asih. Respon ini muncul karena rasionalitas pemikiran manusia. 

Studi terbaru menunjukkan bahwa dalam 20 tahun terakhir manusia cenderung bertindak untuk membantu orang yang membutuhkan dan menegakkan keadilan daripada untuk kepentingan pribadi, meskipun banyak pengorbanan yang harus dilakukan. 

Oleh karenanya di bulan penuh mulia ini, mari kita jadikan Ramadan tidak hanya menjadi ajang untuk menahan lapar dan haus namun juga sebagai momentum untuk membangkitkan kembali sikap empati, altruism dan welas asih dalam diri kita. Karena seringkali ketiga sifat ini tereduksi dengan hawa nafsu dan obsesi pribadi.

Selama tiga puluh hari ini kita dilatih untuk merenungi hakikat manusia sesungguhnya. Menjadi manusia yang welas asih, yakni keinginan untuk selalu meringankan beban orang lain dan  melatih kita untuk kembali ke kebaikan sebagai manusia sesungguhnya. Maka Ramadan juga seharusnya mengaktifkan kembali gen menolong orang lain sampai 11 bulan yang akan datang.